ISLAM ISLAMI

Inilah Kaum Musyrik Menurut Quran

Musyrik  menurut syariat Islam adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan apa pun, merupakan kebalikan dari ajaran ketauhidan, yang memiliki arti Mengesakan Allah. Kata syirik sendiri berasal dari kata syarikah atau persekutuan, yaitu mempersekutukan atau membuat tandingan hukum atau ajaran lain selain dari ajaran/hukum Allah. Syirik adalah akhlak yang melampaui batas aturan dan bertentangan dengan prinsip tauhid yaitu dengan mengabdi, tunduk, taat secara sadar dan sukarela pada sesuatu ajaran / perintah selain dari ajaran Allah.

Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah din mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [QS. Ar-Rum (30): 31–32]

Dalam Islam, syirik adalah dosa yang tak bisa diampuni kecuali dengan pertobatan dan meninggalkan kemusyrikan sejauh-jauhnya.

Kemusyrikan secara personal dilaksanakan dengan mengikuti ajaran-ajaran selain ajaran Allah secara sadar dan sukarela (membenarkan ajaran syirik dalam qalbu, menjalankannya dalam tindakan dan berusaha menegakkan atau menjaga ajaran syirik tersebut).

Kemusyrikan secara sosial/komunal (jama’ah atau bangsa) dijelaskan pada Surah Ar-Ruum 31-32:

Kata “musyrik” itu dimaknai dengan menduakan dan mempersekutukan Allah. Bentuk dari kemusyrikan itu seperti; menyembah atau menuahkan sesuatu (misalnya, pohon besar, patung, batu, kuburan, keris, dan semacamnya), meminta pertolongan kepada dukun (orang “pintar”), mempercayai khurafat, dan semacam-nya. Itulah bentuk-bentuk kemusyrikan yang diajarkan dalam tradisi dan doktrin agamis.

Jika Anda ingin merenungi semua aktivitas kemusyrikan yang disebutkan di atas, sesungguhnya aktivitas-aktivitas tersebut hanya akan dilakukan oleh orang-orang bodoh, penakut, dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi kehidupan ini. Aktivitas-aktivitas tersebut sesungguhnya tidak ada kaitannya secara langsung kepada Allah yang hak untuk diabdi, yakni ditaati segala kehendak dan perintah-Nya. Tanpa menggunakan dasar wahyu (firman Allah) pun, aktivitas-aktivitas tersebut adalah sesuatu yang tidak diterima oleh akal sehat. Sehingga seluruh aktivitas yang dikategorikan perbuatan syirik di atas dalam tradisi dan doktrin agamis adalah kebodohan sosial spiritual belaka yang tidak membuat Allah cemburu dan marah, atau masih berupa kemusyrikan kecil semata. Sedangkan kemusyrikan yang sesungguhnya akan membuat Dia cemburu dan marah besar. Wajar jika Allah mengingatkan secara tegas mengenai kemusyrikan ini. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa ayat Al-Quran. Misalnya, dalam surat Al-An`ām (6) ayat 88:

ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُون

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Al-Quran surat An-Nisa (4) ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Abdilah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

Al-Quran surat Al-Maidah (5) ayat 72:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, Abdilah Allah Rabbku dan Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Al-Quran surat Al-An`ām (6) ayat 151:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُم مِّنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami-(nya).

Begitu pula wasiat Luqman kepada anaknya, untuk menjauhi kemusyrikan yang diabadikan dalam surat Luqmān (31) ayat 13 berikut ini:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Kemusyrikan adalah kezaliman yang besar (dosa besar), sehingga Allah sendiri tidak akan mengampuni dosa syirik seseorang hingga dia kembali bertauhid hanya kepada-Nya. Penegasan ini difirmankan dalam surat An-Nisa (4) ayat 48 dan 116 berikut ini:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

⁴⁸ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

¹¹⁶ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutu-kan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Dari beberapa ayat di atas semakin meyakinkan kita bahwa, Dia amat benci kepada hamba-hamba-Nya yang berlaku syirik (musyrik). Lalu apa sesungguhnya wujud dari kemusyrikan itu?

Secara bahasa, “musyrik” berarti orang yang mensyarikati; mempersekutukan; menandingi atau; menduakan Allah. Dengan demikian, orang tersebut meyakini atau menempatkan sesuatu atau seseorang sebagai sekutu atau tandingan Allah. Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Segalanya dapat ditandingi oleh selain Dia?

Untuk menjawabnya, kita harus mengkaji ulang kedudukan Allah bagi alam semesta termasuk bagi manusia. Surat Al-Fātihah (1) sebagai Pembuka Al-Quran dan surat An-Nās (114) sebagai Penutup Al-Quran menjelaskan hal tersebut. Setidaknya Allah menjelaskan kedudukan diri-Nya dalam tiga hal.

Pertama: Kedudukan Allah sebagai Rabb, baik bagi alam semesta maupun bagi ummat manusia. Yang dimaksud Allah sebagai Rabb adalah Dia sebagai Sang Pencipta, Pengatur dan Pendidik alam semesta dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya. Sebagai Rabb, Allah tidak pernah berhenti menjalankan tugas-Nya dalam mencipta, mengatur, dan mendidik alam semesta, termasuk manusia di dalamnya. Dia mencipta dan mengatur semua ciptaan-Nya menurut sistem hukum yang telah diciptakan-Nya. Dia terlebih dahulu mencipta sistem hukum (Din)-Nya sebelum Dia mencipta alam semesta dan ummat manusia. Sehingga tatkala alam semesta dicipta, mereka tunduk patuh (berserah diri) kepada sistem hukum yang telah diundangkan oleh-Nya kepada masing-masing ciptaan (makhluk), tidak terkecuali manusia. Inilah fitrah penciptaan bagi setiap makhluk di alam semesta. Perhatikan surat Al-An`ām (6) ayat 164:

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُون

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Rabb-mulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”.

Berbeda dengan makhluk lainnya di alam ini, manusia dengan akal pikirannya diberi kebebasan oleh Allah dalam menentukan sikap pengabdiannya, apakah mereka ingin menjadi hamba yang iman dan patuh (mu’min) atau menjadi hamba yang kafir zalim (musyrik). Tentu saja setiap pilihan sikap tersebut memiliki proses dan konsekuensi tersendiri.

Berbicara kedudukan Allah sebagai Rabb, maka berbicara tentang “Rububiyah” atau aturan hukum Allah. Satu unsur utama dari Din (sistem hukum Allah) tentang hidup dan kehidupan adalah Hukum atau Undang-Undang Allah, baik yang tidak tertulis (hukum-hukum pada alam) maupun yang tertulis (hukum-hukum pada Al-Kitab). Tentu saja, kumpulan hukum-hukum Allah yang tertulis dalam Al-Kitab (Taurat, Injil dan Al-Quran) adalah hukum yang harus ditegakkan dan dilaksanakan dalam kehidupan ummat manusia. Hukum Allah harus menjadi hukum positif. Lalu apa hubungannya dengan kemusyrikan?

Ketika ummat manusia atau suatu negara bangsa tidak menjadikan hukum Allah sebagai undang-undang atau hukum positif, dan mengambil hukum negara-negara bangsa penjajah/penguasa yang merupakan produk dari pemikiran dan syahwat manusia sebagai undang-undang atau hukum positif, maka sesungguh-nya mereka atau bangsa itu adalah manusia atau bangsa yang musyrik. Mereka telah melakukan perbuatan syirik rububiyah. Mereka telah meyakini, menempatkan, dan menjalankan hukum Allah yang fitrah dan yang hak untuk ditegakkan. Ingat, kebenaran sejati hanyalah berasal dari Allah, sehingga hukum di luar hukum Dia adalah batil. Oleh karenanya, siapa pun yang memutuskan suatu perkara bukan menurut hukum Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir, zalim, dan fasiq. Perhatikan surat Al-Maidah (5) ayat 44, 45, dan 47 berikut ini:

إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَٮٰةَ فِيہَا هُدً۬ى وَنُورٌ۬‌ۚ يَحۡكُمُ بِہَا ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلرَّبَّـٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَـٰبِ ٱللَّهِ وَڪَانُواْ عَلَيۡهِ شُہَدَآءَ‌ۚ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَـٰتِى ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬‌ۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ ( ٤٤ ) وَكَتَبۡنَا عَلَيۡہِمۡ فِيہَآ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَيۡنَ بِٱلۡعَيۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصٌ۬‌ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ ڪَفَّارَةٌ۬ لَّهُ ۥ‌ۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡڪُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ( ٤٥ ) و

⁴⁴ Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. ⁴⁵ Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishashnya)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang zalim.

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ — 5:47

⁴⁷ Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.

Hukum atau Undang-Undang Allah adalah bersifat universal dan tidak pernah berubah. Hukum Allah berlaku bagi segenap ummat manusia tanpa melihat tempat dan waktu. Hukum Allah adalah sesuatu yang fitrah bagi kehidupan ummat manusia tanpa melihat suku, bangsa, warna kulit, dan bahasa. Sangat berbeda dengan hukum negara-negara bangsa atau hukum hasil konsensus manusia yang sarat dengan kepentingan pribadi, kelompok, golongan atau penguasa/penjajah. Hukum buatan manusia hanya bersifat parsial, sesaat, dan berpihak pada mereka yang berkuasa dan berduit. Hukum atau Undang-Undang dari suatu negara bangsa hanya untuk kepentingan pribadi bangsanya atau sekolompok/segolongan dari bangsa tersebut. Hukum bangsa-bangsa kafir musyrik tidak akan mampu memberi keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan sejati bagi seluruh rakyatnya. Akhirnya, masing-masing bangsa atau negara merasa bangga dengan bangsa atau negaranya masing-masing. Tiap-tiap partai dari suatu negara merasa bangga dengan partainya; Tiap-tiap golongan atau kelompok pun merasa bangga dengan golongan atau kelompoknya; Bahkan tiap-tiap agama atau mazhab juga merasa bangga dengan agama dan mazhabnya masing-masing. Kehidupan dunia model seperti inilah yang merupakan buah dari ideologi musyrik; Ideologi yang memuja pluralisme; Kehidupan yang anti-tauhid. Inilah bentuk kehidupan musyrik yang penuh kekufuran, kezaliman, dan kefasiqan. Kalaupun ada dari mereka yang ingin menggunakan hukum Allah, mereka hanya mengambil sebagian dan menafikan sebagian lainnya.

Model kehidupan berbangsa dan bernegara (dimana salah satu unsur dasarnya adalah undang-undang) yang dibangun oleh sistem pluralis yang berpartai-partai atau bergolong-golongan saat ini sesungguhnya adalah bentuk dari kemusyrikan itu sendiri. Silakan Anda renungkan kembali firman Allah tentang bentuk kemusyrikan di atas dalam surat Ar-Rum (30) ayat 30–32 berikut ini:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٣١ ﴾ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿ ٣٢

³⁰ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) din yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ³¹ Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik), ³² yaitu orang-orang yang memecah-belah din mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Sekarang, lihat sekeliling Anda! Jika Anda hidup dalam lingkungan yang demikian, berarti Anda sedang hidup dalam kehidupan musyrik. Jika Anda meyakini dan menjalani model kehidupan seperti di atas, berarti Anda sedang berbuat syirik atau menjadi seorang musyrik. Inilah pandangan Al-Quran tentang kemusyrikan, suatu dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah. Selain itu, semua pengabdian atau amal ibadah yang diperbuatnya tidak akan bernilai di sisi Allah. Di mata Dia, orang-orang yang musyrik itu adalah orang-orang yang tidak suci alias najis sehingga ibadahnya tidak akan pernah diterima oleh-Nya. Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat At-Tawbah (9) ayat 28 berikut ini:

…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis…

Sekali lagi, orang-orang musyrik itu najis di hadapan Allah. Tentu saja najis yang dimaksud bukanlah najis secara fisik yang sering dibahas dalam mazhab fiqih, akan tetapi najis secara spiritual (aqidah). Mereka memiliki kesadaran dan keyakinan (ideologi) musyrik (batil) yang dijadikan landasan dalam berbangsa dan bernegara, khususnya dalam menjalankan hukum dan undang-undang (musyrik rububiyah).

Kedua, kedudukan Allah sebagai Malik (Raja atau Penguasa). Dia adalah Raja alam semesta, Raja Hari Kemudian (maliki yawm ad-din), dan Raja ummat manusia (malik an-nas).

Allah adalah Rabb al-’alamin (Rabb alam semesta) sehingga Dia pun menjadi Raja alam semesta. Kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di antara keduanya. Itulah wilayah dari kekuasaan Allah, termasuk bumi di mana manusia berdiam dan beraktivitas. Sangatlah logis jika seluruh makhluk yang ada di dalam Kerajaan-Nya tunduk patuh (aslama) kepada kekuasaan-Nya, yakni tunduk patuh pada aturan Hukum dan Undang-Undang Allah. Dialah Sang Pemilik tunggal yang sejati dari seluruh kekayaan yang ada di alam ini. Dia tidak memiliki sekutu dalam menguasai kerajaan-Nya. Perhatikan firman-Nya dalam surat Al-Isra (17) ayat 111 berikut ini:

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.

Perhatikan pula surat Al-Furqan (25) ayat 2:

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.

Tidak boleh ada satu pun makhluk yang menjadi pemilik atau raja dari makhluk lainnya. Semua makhluk (termasuk manusia) harus tunduk pada kekuasaan Sang Pemilik, Raja Langit dan Bumi. Ketika seluruh makhluk di alam semesta dan ummat manusia hidup sesuai dengan apa yang menjadi titah dan kehendak-Nya, maka kehidupan alam semesta dan alam sosial manusia akan dipenuhi keberkahan, yakni kehidupan yang harmonis, adil, damai, dan sejahtera. Itulah kehidupan jannah, kehidupan surgawi yang diidamkan oleh semua manusia berakal dan beriman. Langit dan bumi beserta isinya akan menjadi sumber berkat bagi kehidupan ummat manusia. Penegasan ini dapat dilihat dalam surat Al-A’rāf (7) ayat 96 berikut ini:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Jadi fanatisme golongan/sektarian dengan berpecah belah dari ajaran Allah merupakan kemusyrikan yang besar karena melibatkan manusia secara sosial, antara lain dengan membuat aliran atau golongan yang bertentangan dengan sumber hukum Islam (Quran dan Hadits) dengan tujuan kepentingan kelompok mereka sendiri dan menciptakan aturan-aturan sendiri(yang berlandaskan kepentingan kelompok tersebut). Keadaan ini menyebabkan disintegrasi antar manusia, kalaupun terjadi perdamaian yang ada adalah perdamaian semu, sehingga kehendak Allah pada manusia tidak bisa terlaksana karena kekacauan.

Tujuan diutusnya para Rasul adalah untuk mengintegrasikan kembali manusia dari kondisi berpecah belah, kembali menjadi Ummat yang bersatu dalam satu Asas/Prinsip (Rubbubiyah), satu kekuasaan (Mulkiyah) dan satu ketaatan (Uluhiyah). Adapun asas-asas atau prinsip-prinsip tersebut telah ada pada alam semesta dan Kitab-kitab Allah yang pernah diturunkan sebagai sumber dari segala sumber hukum Islam.

Perumpamaan Musrik

  • Allah SWT mengumpamakan jaring laba-laba sebagai rumah yang le mah. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang mem buat rumah.Dan sesungguhnya, rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, jika saja mereka mengetahui. (QS al-An kabut: 41).
  • Imam al- Ghazali mengungkapkan, tidak ada kekuasaan atau pun kekuataan kecuali Allah. Menurut al-Ghazali, jika Anda melihat seorang yang percaya pada manusia-ma nusia dan bersandar kepadanya, berhati-hatilah kepadanya. Karena ia adalah seorang yang penuh kecongkakan dan pertikaian.
  • Jika Anda lebih memercayai Rabb Anda daripada manusia, Anda telah setia kepada- Nya dan Dia benar-benar Rabb Anda. Di za man ini, orang-orang awam terlibat dalam berbagai jenis kesulitan dan kehinaan hanya karena kesibukan mereka dengan dunia dan ketergantungan mereka terhadapnya. Ketidakacuhan mereka pada akhirat dan masalah-masalahnya s erta pada Hari Perhitungan.
  • Sementara itu, Imam Ibnu Katsir mengatakan, ayat ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan perihal kaum musyrik karena mereka mengambil tuhan-tuhan selain Allah. Mereka mengharapkan pertolongan dan rezeki itu kepada para berhala.
  • Keadaan mereka dalam hal tersebut sama dengan rumah laba-laba dalam hal kelemahan dan kerapuhannya. Orang yang menyembah tuhan-tuhan seperti mereka tiada lain seperti orang yang berpegangan pada rumah laba-laba. Sesungguhnya, hal itu tidak dapat memberikan suatu manfaat pun kepadanya. Sekiranya mereka menge- tahui keadaan tersebut, tentulah mereka tidak akan menjadikan penolong-penolong mereka selain dari Allah.
  • Berbeda halnya dengan orang Muslim yang hatinya beriman kepada Allah. Selain beramal dengan baik sesuai dengan hukum syariat, dia berpegang teguh kepada tali yang kuat yang tidak akan terputus karena kekuatan dan kekokohannya.

 

Dilarang Menikahi kaum Musryik

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ٢٢١

Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.Sesungguhnya budak  yang  mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun  dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Ayat ini merupakan bagian dari kelompok ayat yang memberikan tuntunan kepada manusia tentang pembinaan kehidupan keluarga dalam Islam. Pada ayat lalu, yaitu ayat 220, dijelaskan bagaimana memperlakukan anak-anak yatim dengan baik yang hidup dalam satu keluarga bersama pengasuhnya. Anak yatim tersebut diperlakukan  sebagaimana anggota keluarga sendiri. Dalam  pandangan umum keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang minimal terdiri dari suami dan istri. Pada ayat ini Allah memberikan tuntunan bagaimana memilih pasangan, suami atau istri yang menjadi cikal bakal dari sebuah keluarga.

Pemilihan pasangan, suami atau istri, merupakan suatu hal yang penting untuk menjadi bahan pertimbangan dalam membentuk rumah tangga, karena kekuatan  bangunan  rumah tangga itu sangat tergantung pada suami dan istri sebagai pilar utamanya. Pilar ini harus kuat agar bangunan rumah tangga tetap berdiri dengan kokoh dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Kekuatan itu, tidak terletak pada kecantikan dan ketampanan, karena keduanya akan pudar dimakan waktu dan juga bersifat relatif, bukan pula pada harta kekayaan, karena harta kekayaaan itu sangat mudah datang dan pergi, dan bukan pula karena kedudukan dan status sosial, karena ini juga akan berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat. Kekuatan pilar utama itu akan ditemukan pada kekuatan iman dan ketaatan dalam menjalankan tuntunan Allah. Oleh karena itu, tuntunan pertama dan utama yang  diberikan oleh Allah kepada manusia untuk mendirikan rumah tangga adalah keimanan.

Adapun  sebab  turun ayat 221 ini, menurut riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi yang bersumber dari al-Muqatil adalah berkenaan dengan Ibnu Abi Mirtsad al-Ghanawi yang meminta izin kepada Rasulullah saw untuk menikahi ‘Anāq, seorang  wanita Quraisy yang miskin tapi cantik, namun masih musyrik, sedangkan Ibnu Abi Mirtsad seorang Muslim. Lalu Allah  menurunkan ayat ini. (Ali Ibnu Ahmad al-Wāhidī al-Naysābūrī, Asbāb al-Nuzūl, (Kairo: Maktabah al-Manār, th.1388H/ 1968M), hlm. 39)

Kata al-musyrikāt yang berarti perempuan-perempuan musyrik dan kata al-musyrikīn yang berarti laki-laki musyrik, merupakan bentuk jamak dari al-musyrik (الْمُشْرِكُ) yang berarti orang yang menyekutukan Allah dengan selain-Nya atau orang yang melakukan suatu kegiatan dengan tujuan utama ganda, kepada Allah dan kepada selain-Nya, misalnya  ahlul kitab. Dalam  Q.S. al-Taubah (9): 29-30 dijelaskan bahwa di antara  kelompok  ahlul kitab  adalah  penganut  Yahudi  dan Nasrani. Orang-orang Yahudi  mempercayai bahwa Uzair adalah anak Allah, demikian juga orang-orang Nasrani yang mempercayai Isa al-Masih adalah anak Allah juga. Inilah yang menjadi  dasar  bagi  segolongan ulama untuk mengatakan bahwa yang dimaksud dengan  الْمُشْرِكَاتُ dan الْمُشْرِكِيْنَ dalam  ayat  ini mencakup Ahlul Kitab.

Di  antara  alasan  para ulama yang mengelompokkan Yahudi dan Nasrani  sebagai  ahlul kitab yang melakukan perbuatan syirik adalah firman Allah dalam Q.S.al-Taubah (9):31, yang berbunyi سُبْحَانَهُ عَمَّا ُيُشْرِكُوْنَyang berarti  “Maha  Suci  Dia  (Allah) dari apa yang mereka persekutukan”dan Q.S.al-Nisa’ (4):48, yang berbunyiإِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَآءُyang berarti “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia  kehendaki”.

Menurut  pendapat ini, kalau mereka bukan termasuk  orang  musyrik  tentulah Allah akan mengampuni mereka. (Muhammad Rasyīd Ridhā, Tafsīr al-Manār, (Beirut; Dār al-Ma’rifah, th 1414H/1993M) jilid II, hlm. 348-349). Namun demikian, sebagian  besar mufassir  mempunyai  pandangan lain. Menurut  mereka yang dimaksud dengan musyrikat  dan musyrikin  adalah musyrikat Arab yang tidak mempunyai kitab, dan mereka adalah para penyembah berhala, karena inilah makna yang biasa dipakai oleh al-Qur’an untuk  pengertian musyrik.

Dengan demikian, orang Yahudi yang mengatakan Uzair anak  Allah atau orang Nasrani yang mengatakan Isa  al-Masih anak Allah dan mempercayai trinitas, yang oleh Islam dinilai telah  mempersekutukan Allah, namun al-Qur’an  tidak menyebut mereka sebagai orang musyrik, tetapi menyebut mereka sebagai ahlul kitab sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Q.S.al-Baqarah (2):105,

مَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ الْمُشْرِكِيْنَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Orang-orang kafir dari ahlul kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan dari Tuhanmu.

dan firman Allah dalam Q.S. al-Bayyinah (98):1,

 

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ.

Orang-orang kafir dari golongan ahlul kitab  dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan agama mereka sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *