ISLAM ISLAMI

Tata Cara Shalat Idul Adha Sesuai Tuntunan Rasulullah, Fatwa Ulama dan Protokol Kesehatan Saat Pandemi Covid19

Iduladha adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba. Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Id bersama-sama di tanah lapang atau di masjid, seperti ketika merayakan Idulfitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya. Iduladha jatuh pada tanggal 10 bulan Zulhijah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idulfitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam. Pusat perayaan Iduladha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Makkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik haji. Iduladha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Terkadang Iduladha disebut pula sebagai Idulkurban atau Lebaran Haji. Dalam menggelar Shalat Idul Adha di masjid atau di lapangan selain mengikuti sunah Rasulullah, saat pendemi Covid19 wajib menjalankan protokal kesehatan sesuai Surat Edaran (SE) Kementerian Agama Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Salat Idul Adha.

Pada hari raya tersebut, disunnahkan untuk melakukan sholat Idul Adha. Sholat Idul Adha dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah setelah jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah. Hukum mengerjakan sholat Idul Adha adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat Muslim keluar rumah dan menggelar sholat Id pada dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha, bahkan wanita juga dianjurkan melaksanakan sholat Id.

Ummu Athiyah ra. mengabarkan,

“Rasulullah SAW menyuruh kami pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha supaya membawa wanita-wanita muda dan para gadis dan wanita haid sekalipun, supaya keluar ke lapangan untuk Sholat Id. Adapun wanita haid mereka tidak ikut sholat, tetapi ikut merayakan serta berdoa bersama-sama kaum Muslimin. Aku berkata Rasulullah SAW, ‘Di antara mereka ada yang tidak punya baju untuk menghadirinya.’ Jawab Rasulullah SAW, ‘Suruh pinjam baju saudaranya’.” (HR. Muslim).

Tatacara Shalat Idul Adha Sesuai Tuntunan Rasulullah
Watch this video on YouTube.
DOKTER INDONESIA ONLINE VIDEO

BACA  Al-Qur'an Sebagai Pembenar dan Batu Ujian Kitab-kitab Sebelumnya

Fatwa MUI tentang beribadah saat Pandemi Covid19

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, shalat Idul Adha bisa dikerjakan berjamaah atau sendiri-sendiri. Hal ini berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 36 Tahun 2020 tentang Shalat Idul Adha dan Penyembelihan Kurban saat Wabah Covid-19. Berdasarkan Fatwa tersebut, Shalat Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah yang menjadi salah satu syi’ar keagamaan.

Adapun pelaksanaan shalat Idul Adha saat wabah COVID-19 mengikuti ketentuan Fatwa MUI sebelumnya yakni:

  • Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah di Saat Wabah Pandemi COVID-19
  • Fatwa Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19
  • Fatwa Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Shalat Jum’at dan Jamaah Untuk Mencegah Penularan Wabah COVID-19.
  • Merujuk Fatwa No 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitir saat Covid-19, Shalat Idul Idul Fitri termasuk Shalat Idul Adha boleh dikerjakan berjamaah di rumah atau di lapangan, bisa juga dikerjakan sendiri untuk daerah yang penularan Covid-19-nya belum terkendali.

Waktu Pelaksanaan

  • waktu pelaksanaan sholat Idul Adha ialah mulai dari naiknya matahari setinggi tombak sampai tergelincir.
  • Dalam pelaksanaannya, disunahkan untuk segera dilakukan di awal waktu, yakni ketika matahari sudah meninggi satu tombak.
  • Jundub meriwayatkan hadits dengan berkata, “Nabi Muhammad SAW ketika beliau mengerjakan sholat Idul Fitri, maka beliau mengerjakannya manakala matahari telah meninggi dua tombak (agak sedikit siang). Sementara ketika mengerjakan sholat Idul Adha, maka beliau mengerjakannya manakala matahari meninggi satu tombak.”

Adab Melakukan Shalat Idul Adha

  • Sebelum sholat Idul Adha, disunahkan mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian, dan memakai pakaian bagus. Al-Hasan bin Ali menuturkan, “Rasulullah SAW memerintahkan kami dalam Idain (Idul Fitri dan Idul Adha) agar memakai pakaian terbagus yang kami miliki, memakai minyak wangi terbaik yang kami miliki, dan berqurban (pada hari raya Idul Adha) dengan binatang qurban termahal dari apa yang kami miliki.” (HR. Al-Hakim).
  • Disunnahkan tidak makan lebih dahulu, tetapi makan setelah selesai sholat Idul Adha. Sebagaimana hadits Nabi SAW riwayat Buraidah, “Dan Nabi SAW tidak makan di hari Idul Adha sehingga beliau pulang dari sholat Idul Adha, lalu beliau makan dari daging udhhiyyah (hewan qurbannya).” (HR. At-Tirmidzi).
  • Rasulullah SAW di hari raya berangkat ke tempat sholat dari satu sajak dan pulang dari sholat melalui jalan yang berbeda. Hal ini dijelaskan dalam hadits dari Al-Bukhari.
  • Takbiran atau membaca takbir
  • Usai sholat Idul Adha, umat Islam yang mampu disunnahkan menyembelih hewan qurban.
BACA  Tata Cara Kurban Di Saat Pandemi Covid19: Sesuai Quran, Hadits, Tuntunan Rasulullah dan Sesuai Protokol kesehatan

Protokol Kesehatan saat Shalat Idul Adha

Berikut ketentuan yang harus dipenuhi jika ingin menggelar sholat Idul Adha di lapangan/masjid/ruangan sesuia SE Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Salat Idul Adha:

  1. Menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area tempat pelaksanaan;
  2. Melakukan pembersihan dan disinfeksi di area tempat pelaksanaan;
  3. Membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk tempat pelaksanaan guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan;
  4. Menyediakan fasilitas cuci tangan/sabun/ hand sanitizer di pintu/jalur masuk dan keluar;
  5. Menyediakan alat pengecekan suhu di pintu/jalur masuk. Jika ditemukan jamaah dengan suhu >37,5’C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki area tempat pelaksanaan;
  6. Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal jarak 1 meter;
  7. Mempersingkat pelaksanaan sholat dan khutbah Idul Adha tanpa mengurangi ketentuan syarat dan rukunnya;
  8. Tidak mewadahi sumbangan/sedekah jemaah dengan cara menjalankan kotak, karena berpindah-pindah tangan rawan terhadap penularan penyakit;

Persyaratan Jamaah Untuk mengikuti shalat Idul Adha:

  • Jemaah dalam kondisi sehat;
  • Membawa sajadah/alas sholat masing-masing;
  • Menggunakan masker sejak keluar rumah dan selama berada di area tempat pelaksanaan;
  • Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau handsanitizer;
  • Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan;
  • Menjaga jarak antar jemaah minimal 1 (satu) meter;
  • Mengimbau untuk tidak mengikuti sholat Idul Adha bagi anak-anak dan warga lanjut usia yang rentan tertular penyakit, serta orang dengan sakit bawaan yang berrisiko tinggi terhadap Covid-19.

Tata cara Shalat Idul Adha

  • Tata cara pelaksanaan sholat Idul Adha sama dengan Idul Fitri, yakni tidak didahului oleh adzan dan iqamah terlebih dahulu. Jumlah rakaat sholat Idul Adha ialah dua rakaat.
  • Pada rakaat pertama, hendaklah imam dan makmum bertakbir tujuh kali selain Takbiratul Ihram. Di antara masing-masing takbir itu disunnahkan membaca, ‘Subhaanallahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar’. Artinya: Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan kecuali Allah, Allah Mahabesar.
  • Pada rakaat pertama, setelah membaca surah Al-Fatihah, disunahkan bagi imam untuk membaca surah Al-A’la atau surah Qaf dengan suara yang keras. Kemudian melakukan rukuk dan sujud sebagaimana sholat lima waktu.
  • Pada rakaat kedua setelah bangkit dari sujud, takbir dilakukan sebanyak lima kali. Di antara takbir tersebut disunahkan membaca doa sebagaimana pada rakaat pertama.
  • Pada rakaat kedua, setelah membaca surah Al-Fatihah, disunahkan bagi imam untuk membaca surah Al-Ghasyiyah atau Asy-Syams dengan suara keras. Kemudian, melakukan ruku dan sujud sebagaimana sholat lima waktu dan diakhir dengan salam.
  • Setelah selesai mengerjakan sholat, hendaklah imam atau khatib berdiri untuk berkhutbah. Khutbah dilakukan dengan dua kali khutbah dan dan sekali duduk di antara dua khutbah. Di sela-sela khutbahnya, hendaklah khatib mengumandangkan takbir dan disunahkan baginya mengawali khutbah dengan takbir.
BACA  Shalat Terbesar Sepanjang Sejarah Itu Ditunggangi

 

Shalat Dhuha Sesuai Tuntunan Rasulullah dan Tatacaranya
Watch this video on YouTube.
DOKTER INDONESIA ONLINE VIDEO

Dahsyatnya 12 Rakaat Sehari Shalat Sunah Rawatib dan Tatacaranya
Watch this video on YouTube.
DOKTER INDONESIA ONLINE VIDEO




.


.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *