ISLAM ISLAMI

Surah Yunus ayat 90-92: Muhjizat Sains Quran, Mayat Firaun Utuh Disebut Quran 1500 Tahun Lalu

Jauh sebelum ilmu pengetahuan modern mampu menemukan jasad Firaun, Alquran terlebih dulu mengisyaratkan bahwa jasadnya akan diketemukan. Namun, penemuan jasad tersebut ditujukan Allah sebagai pelajaran bagi generasi selanjutnya. Seorang pakar sejarah Mesir Kuno, Maspero, dalam petunjuk bagi pengunjung Museum Mesir menjelaskan, penguasa Mesir yang tenggelam itu bernama Maneptah/Memptah. Yang kemudian oleh Sejarawan Driaton dan Vandel melalui dokumen-dokumen lain membuktikan bahwa penguasa Mesir itu memerintah antara 1224 sebelum masehi (SM) hingga 1214 SM.

Kemudian pada Juni 1975, seorang Ahli Bedah asal Prancis, Maurice Bucaille, mendapat izin untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang mumi tersebut. Dia menemukan bahwa jasad mumi itu merupakan Fir’aun yang meninggal di laut. Adapun bukti-bukti tanda meninggalnya di laut adalah, terdapat bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya. Walaupun sebab kematiannya, menurut dia, diakibatkan oleh shock. Bucaille pada akhirnya berkeseimpulan bahwa sangat agung dan suci contoh-contoh yang diberikan ayat Alquran tentang tubuh Fir’aun. Sebab, penyelidikan dan penemuan modern telah menunjukkan kebenaran dari risalah Alquran mengenai sejarah mengenai itu.

“Wa jawazna bi bani Israilal-bahra fa-atba’ahum firaunu wa junuduhu bagyan wa ‘adwan. Hatta idza adrakahul garaqa qala aamantu annahu la ilaha illalladzi aamanat bihi binuri Israila wa ana minal-muslimin. Al-aana wa qad‘’ashaita qablu wa kunta minal-mufsidin. Falyauma nunajjika bibadanika litakuna liman khalfaka aayatan wa inna katsiran minan-nasi an aayaatinaa laghafilun,”.

Yang artinya: “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut. Mereka pun diikuti oleh Fir’aun dan tentaranya, karena mereka hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil). Ketika Fir’aun telah hampir tenggelam, ia berkata: saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang disembah oleh Bani Israil dan saya termasuk orang yang berserah diri (kepada-Nya). (Allah menyambut ucapan Fir’aun ini dengan berfirman) Apakah kamu (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami,” Surah Yunus ayat 90-92

Ketiga ayat ini menjelaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa as dan mengatakan, “Saat itu bala tentara Fir’aun mengejar kalian (Nabi Musa as), sehingga mereka dapat menghancurkan kalian. Kami akan membela dan memecah sungai Nil bagi kalian, sehingga kalian dapat lewat di dalamnya. Akan tetapi Fir’aun dan bala tentaranya akan Kami tenggelamkan di dalamnya. Hanya jasad Fir’aun saja yang Kami apungkan, sehingga Kami mengeluarkannya dari air laut supaya ia menjadi pelajaran bagi generasi mendatang. Yang menarik disini adalah prediksi Nabi Musa as terealisir yaitu Fir’aun pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya muncul dan dapat terlihat dengan mengatakan, “Yaa Tuhan! Aku beriman kepada-Mu! Akan tetapi terdengar suara jawaban, saat ini engkau menjelang kematianmu, engkau menyatakan taubat dan berserah diri kepada Zat Yang Maha Benar?

Mukjizat Alquran menjelaskan

  • “Hari ini Kami selamatkan badanmu, agar engkau menadi pelajaran bagi generasi yang datang sesudahmu,”.
  • Masyarakat luas memang mengetahui bahwa Fir’aun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya. Tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi kaum sesudahnya, merupakan satu hal yang tidak diketahui pada masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan hal ini pun tak disinggung dalam kitab Perjanjian Lama.
  • Pada masa Alquran turun pada 15 abad lalu, tidak seorang pun mengetahui sebenarnya penguasa yang tenggelam itu berada. Pada 1896, Purbakalawan Loret, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Wadi al-Muluk (Lembah Para Raja) yang berada di daerah Thaba, Luxor, seberang Sungai Nil, Mesir.
  • Pada 1907, seorang Ahli arkeologi dan sejarah, Elliot Smith, membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut dalam keadaan utuh.
  • Pada masa Nabi Muhammad SAW, tak ada satu pun masyarakat kala itu yang mengetahui bahwa jasad Fir’aun nantinya akan ditemukan sekaligus dijadikan pelajaran.
BACA  Benarkah NASA Rahasiakan Muhjizat Ilmiah Lailatul Qadar dan Hajar Aswad ?

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

  1. Dalam berjuang melawan para penguasa taghut dan zalim, kita harus senantiasa bertawakal kepada Allah Swt. karena Dia tidak akan pernah meninggalkan kita dalam kondisi tersulit apapun. Dia akan membukakan jalan bagi kita.
  2. Apabila kita selalu komitmen dan teguh di jalan Allah, maka para penguasa taghut macam apapun tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali menyerah. Setelah itu mereka akan mendapatkan balasan setimpal dari amal perbuatan mereka sendiri.
  3. Dalam menjaga segala sesuatu dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di tengah-tengah bangsa-bangsa terdahulu, kita harus berusaha mengambil pelajaran untuk generasi yang akan datang.

Prof. Dr. Maurice Bucaille Masuk Islam Setelah Meneliti Mumi Fir’aun

Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

BACA  Indeks Quran Digital : Muhjizat Quran dan Muhjizat Ilmu Pengetahuan

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof. Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.

Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.

BACA  MUHJIZAT ILMIAH QURAN DALAM ILMU KEDOKTERAN

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

Berikrar Islam

  • Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.
  • Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.
  • Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).
  • Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.
  • Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.
  • Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.
  • Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *