ISLAM ISLAMI

Quraish Shihab : Semua Agama Tidak Sama, Islam Agama Yang Terbaik

Quraish Shihab adalah satu dari sederetan ulama Indonesia yang dengan tegas menolak pendapat sebagian kalangan yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama, terlebih dengan menjadikan toleransi beragama sebagai justifikasi untuk mengorbankan keyakinan keberagamaan para penganutnya.

Quraish Shihab mengakui bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Keragaman dan perbedaan tidak dapat dihindari walau dalam saat yang sama manusia dituntut oleh kedudukannya sebagai makhluk sosial  untuk menyatu dalam bentuk bantu-membantu dan topang-menopang. Quraish Shihab menegaskan beda antara perbedaan dan perselisihan. Yang pertama harus ditoleransi apalagi ia dapat menjadi sumber kekayaan intelektual serta jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapi. Keragaman dan perbedaan dapat menjadi rahmat selama dialog dan syarat-syaratnya terpenuhi. Karena itu, perbedaan tidak otomatis menjadi buruk atau bencana, sebagaimana tidak juga ia selalu baik dan bermanfaat. Dan tentu saja, perbedaan bukanlah ancaman sehingga menjadi alasan untuk menyatukan pemahaman keberagamaan yang memang tidak akan pernah bisa disatukan, terutama karena terkait dengan aspek tauhid, aspek yang menjadi inti dasar keberagamaan.

Menurut Quraish Shihab, keberagamaan adalah fithrah (sesuatu yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya sebagaimana Surat al-Rum ayat 30. Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama. Tuhan menciptakan demikian karena agama merupakan kebutuhan hidupnya. Memang manusia dapat menangguhkannya sekian lama – boleh jadi sampai dengan menjelang kematiannya. Tetapi pada akhirnya, sebelum ruh meninggalkan jasad, ia akan merasakan kebutuhan itu

Islam terlahir dengan ide dasar perdamaian. Kedamaian yang bukan saja didambakan untuk orang per-orang, tetapi juga untuk semua pihak. Sehingga tidak heran, menurut Quraish Shihab, jika salah satu ciri seorang Muslim, adalah seperti sabda Nabi Muhammad SAW.,

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Siapa yang menyelamatkan orang lain (yang mendambakan kedamaian) dari gangguan lidahnya dan tangannya. (HR. Bukhari) 

Perdamaian merupakan salah satu ciri utama agama Islam. Ia lahir dari pandangan ajarannya tentang Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, alam, dan manusia. Allah, Tuhan Yang Maha Esa, adalah Maha Esa, Dia yang menciptakan segala sesuatu berdasarkan kehendak-Nya semata. Semua ciptaan-Nya adalah baik dan serasi, sehingga tidak mungkin kebaikan dan keserasian itu mengantar kepada kekacauan dan pertentangan. Dari sini bermula kedamaian antara seluruh ciptaan-Nya.

Benar bahwa Islam memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan guna menghadapi musuh. Namun persiapan itu tidak lain kecuali – menurut istilah Al-Qur’an – adalah untuk menakut-nakuti mereka (yang bermaksud melahirkan kekacauan dan disintegrasi), sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Anfal ayat 60. Peperangan – kalau terjadi – tidak dibenarkan kecuali untuk menyingkirkan penganiayaan, itu pun dalam batas-batas tertentu. Anak-anak, orang tua, kaum lemah, bahkan pepohonan harus dilindungi, dan atas dasar ini, datang petunjuk Tuhan dalam firman-Nya Surat al-Anfal ayat 61,

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

“Kalau mereka cenderung kepada perdamaian, maka sambutlah kecenderungan itu, dan berserah dirilah kepada Allah”

Semua Agama Tidak sama

Quraish Shihab menolak pandangan sekelompok orang yang menyatakan bahwa semua agama itu sama.

Dia mengatakan,“Ada sementara orang yang perhatiannya tertuju kepada penciptaan toleransi antar umat beragama yang berpendapat bahwa ayat ini dapat menjadi pijakan untuk menyatakan bahwa penganut agama-agama yang disebut oleh ayat ini, selama beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, maka mereka semua akan memperoleh keselamatan dan tidak akan diliputi oleh rasa takut di akhirat kelak, tidak pula akan bersedih.” Pendapat semacam ini menurutnya nyaris menjadikan semua agama sama, padahal agama-agama itu pada hakikatnya berbeda-beda dalam akidah serta ibadah yang diajarkannya.

Quraish Shihab : “Bagaimana mungkin Yahudi dan Nasrani dipersamakan, padahal keduanya saling mempersalahkan. Bagaimana mungkin yang ini dan itu dinyatakan tidak akan diliputi rasa takut atau sedih, sedang yang ini menurut itu – dan atas nama Tuhan yang disembah – adalah penghuni surga dan yang itu penghuni neraka? Yang ini tidak sedih dan takut, dan yang itu, bukan saja takut tetapi disiksa dengan aneka siksa.”

 

Di dalam menafsirkan ayat ini, dia belum secara tegas menegaskan agar pilihan manusia jatuh kepada Islam, selain agar setiap pemeluk agama menyerahkan keputusannya kepada waktu Kemudian,

“Bahwa surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah memang harus diakui. Tetapi hak tersebut tidak menjadikan semua penganut agama sama dihadapan-Nya. Bahwa hidup rukun dan damai antar pemeluk agama adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan tuntunan agama, tetapi cara untuk mencapai hal itu bukan dengan mengorbankan ajaran agama. Caranya adalah hidup damai dan menyerahkan kepadaNya semata untuk memutuskan di hari Kemudian kelak, agama siapa yang direstui-Nya dan agama siapa pula yang keliru, kemudian menyerahkan pula kepada-Nya penentuan akhir, siapa yang dianugerahi kedamaian dan surga dan siapa pula yang akan takut dan bersedih.”[10]

Dia menguatkan bahwa  kita harus percaya bahwa di hari Kemudian ada yang dinamai penimbangan amal. Bagaimana cara menimbang dan apa alatnya tidaklah harus kita ketahui, tetapi yang jelas dan yang harus dipercaya adalah bahwa ketika itu keadilan Allah Swt. akan sangat nyata lagi sangat sempurna dan tidak seorang pun – walau yang terhukum – mengingkari keadilan itu.

BACA  Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani , Ulama Indonesia Yang Mendunia

Kalau di ayat yang awal penyebutan kata an-Nashârâ adalah yang kedua setelah hâdu dan sebelum ash-Shâbi’în, sedang di sini gilirannya adalah yang ketiga setelah hâdu dan ash-Shâbi’ûn. Perbedaan yang lain adalah dalam al-Baqarah ada kalimat “bagi mereka ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka”, sedang dalam            al-Ma’idah kalimat ini tidak disebut. Dari segi redaksional, kelihatannya perurutan penyebutan kelompok-kelompok tersebut pada ayat al-Baqarah lebih sesuai, yakni tidak memisahkan antara orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan kata ash-Shabi’un, lebih sesuai dengan pemisahan yang terjadi pada ayat ini.

Mengutip pakar tafsir az-Zamakhsyari dalam tafsirnya, dia mengemukakan bahwa ayat ini mengandung satu makna yang ingin dikemukakan dan karena itu pula bentuk kata ash-Shabi’un yang digunakan di sini, bukan ash-Shabi’in semacam Q.S. al-Baqarah di atas dan yang sepintas harus demikian itu menurut kaidah kebahasaan. Redaksi ini menurutnya bertujuan untuk menggarisbawahi bahwa jangankan orang-orang Yahudi dan Nasrani, para Shabi’un yang kedurhakaan mereka terhadap Allah jauh lebih besar, diterima taubatnya oleh Allah, apalagi Ahl al-Kitab itu, selama mereka beriman dengan benar dan beramal shaleh.

Ketika menafsirkan firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 62, Quraish Shihab mengemukakan bahwa persyaratan beriman kepada Allah dan hari kemudian seperti bunyi Surat Ali ‘Imran ayat 69,

وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.”

bukan berarti hanya kedua rukun itu yang dituntut dari mereka, tetapi keduanya adalah istilah yang biasa digunakan oleh Al-Qur’an dan Sunnah untuk makna iman yang benar dan mencakup semua rukunnya. Dan akan sangat panjang bila semua objek keimanan disebut satu demi satu. Rasul SAW. dalam percakapan sehari-hari sering hanya menyebut keimanan kepada Allah dan hari kemudian. Misalnya sabda beliau SAW., “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah dia menghormati tamunya”, di kali lain beliau bersabda, “… mengucapkan kata-kata yang baik atau diam, …” dan masih banyak yang serupa.

Quraish Shihab cukup serius dalam mengomentari pendapat sementara orang yang perhatiannya tertuju kepada penciptaan toleransi antar umat beragama yang berpendapat bahwa ayat ini dapat menjadi pijakan untuk menyatakan bahwa penganut agama-agama yang disebut oleh ayat ini, selama beriman kepada Tuhan dan hari kemudian, maka mereka semua akan memperoleh keselamatan, tidak akan diliputi oleh rasa takut di akhirat kelak, tidak pula akan bersedih. Menurutnya, pendapat semacam ini nyaris menjadikan semua agama sama, padahal agama-agama itu pada hakikatnya berbeda-beda dalam akidah serta ibadah yang diajarkannya. Bagaimana mungkin Yahudi dan Nasrani dipersamakan padahal keduanya saling mempersalahkan. Dia mengakui bahwa surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah, tetapi hak tersebut tidak menjadikan semua penganut agama sama di hadapan-Nya. Bahwa hidup rukun dan damai antar pemeluk agama adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan tuntunan agama, tetapi cara untuk mencapai hal itu bukan dengan mengorbankan ajaran agama. Caranya adalah hidup damai dan menyerahkan kepada-Nya semata untuk memutuskan di hari kemudian kelak, agama siapa yang direstui-Nya dan agama siapa pula yang keliru, kemudian menyerahkan pula kepada-Nya penentuan akhir, siapa yang dianugerahi kedamaian dan surga dan siapa pula yang akan takut dan bersedih.

Ketegasan Quraish Shihab di dalam menjadikan Islam sebagai pilihan hidup yang utama yakni memilih Islam sebagai agama-Nya baru dapat terlihat ketika dia menafsirkan firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 132,

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”

dimana dia katakan, “Memang banyak agama yang dikenal oleh manusia, tetapi yang ini, yakni yang intinya adalah penyerahan diri secara mutlak kepada-Nya, itulah yang direstui dan dipilih oleh-Nya. Karena itu maka janganlah kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah diri kepada-Nya yakni memeluk agama Islam.

Pesan ini berarti kamu jangan meninggalkan agama itu walau sesaat pun. Sehingga dengan demikian, kapanpun saatnya kematian datang kepada kamu, kamu semua tetap menganutnya.”

Menafsirkan firman Allah dalam surat Ali ‘Imrân ayat 19,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama yang ada di sisi Allah adalah al-Islam.”

kembali dia menegaskan bahwa ketundukan dan ketaatan kepada-Nya adalah keniscayaan yang tidak terbantah, sehingga jika demikian, hanya keislaman, yakni penyerahan diri secara penuh kepada Allah yang diakui dan diterima di sisi-Nya. Dan Islam dalam arti “penyerahan diri” adalah hakikat yang ditetapkan Allah dan diajarkan oleh para nabi sejak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad SAW.

BACA  Kisah Nabi Muhammad SAW dan Perang Autas

Dalam pengamatannya, tidak ditemukan kata Islam dalam Al-Qur’an kecuali setelah agama ini sempurna dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW. Ditinjau dari sudut pandang agama maupun sosiologis, menurutnya, itulah nama ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW., dan secara Aqidah Islamiyah, siapapun yang mendengar ayat itu dituntut untuk menganut ajaran yang dibawa oleh para rasul adalah Islam, sehingga siapapun sejak Adam hingga akhir zaman yang tidak menganut agama sesuai yang diajarkan oleh rasul yang diutus kepada mereka, maka Allah tidak menerimanya.

Perselisihan di antara pengikut para nabi yang diutus Allah untuk membawa ajaran Islam, menurutnya, terjadi lebih karena kedengkian yang ada di antara mereka. Bukan kedengkian antara mereka dengan yang lain, tetapi antara mereka satu dengan yang lain. Kedengkian yang merupakan terjemahan dari kata ‘baghyan’ yang digunakan ayat 19 surat Ali ‘Imran adalah ucapan atau perbuatan yang dilakukan untuk tujuan mencabul nikmat yang dianugerahkan Allah kepada pihak lain disebabkan rasa iri hati terhadap pemilik nikmat itu, dan ajaran Nabi Ibrahim a.s. adalah hanif, tidak bengkok, tidak memihak kepada pandangan hidup orang-orang Yahudi, tidak juga mengarah kepada agama Nasrani, demikian tafsirannya pada surat Ali ‘Imran ayat 67 yang berbunyi,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus.”

Quraish Shihab di dalam menjelaskan surat al-Maidah ayat 18,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah, ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya.”

Kegelapan Jiwa Nasrani

Salah satu kegelapan utama yang menyelubungi jiwa dan pikiran ahl al-Kitâb, lebih-lebih kelompok Nasrani, adalah keyakinan mereka tentang Tuhan. Inilah yang utama dan pertama yang diluruskan oleh Nabi Muhammad SAW. dan Al-Qur’an.

Umat Kristiani dewasa ini menganggap bahwa Al-Qur’an atau Nabi Muhammad SAW. telah keliru dalam memahami keyakinan umat Kristiani tentang Tuhan. Dia mengingatkan bahwa keyakinan Nasrani tentang Tuhan sungguh beraneka ragam. Sehingga kalau apa yang diinformasikan Al-Qur’an, tidak diakui oleh satu kelompok, maka itu bukan berarti bahwa tidak ada kelompok lain yang berkata demikian. Memang, uraian tentang ketuhanan dan makna-maknanya sedemikian sulit dipahami – bahkan oleh penganut-penganut agama Kristen sendiri – sampai mereka meyakini bahwa ajaran ketuhanan adalah dogma yang tidak dapat terjangkau oleh nalar.

Di sisi lain, keyakinan tentang kedudukan al-Masih, baru ditetapkan pada tahun 325M. Sebelum ketetapan itu para uskup dan pemuka agama Kristen berbeda pendapat. Ada yang menyatakan bahwa Isa dan ibunya adalah dua tuhan, ada lagi yang berkeyakinan bahwa hubungan Isa as. dan Allah bagaikan hubungan kobaran api yang berpisah dari kobaran api yang lain, kobaran pertama tidak berkurang dengan adanya kobaran kedua.

Ada juga yang berkeyakinan bahwa Isa as. adalah rasul Allah sebagaimana rasul-rasul yang lain. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau anak Tuhan tetapi dalam saat yang sama al-Masih adalah makhluk-Nya dan masih banyak lagi pendapat yang lain. Bahkan paham Trinitas dewasa ini mempunya penafsiran yang berbeda-beda. Sekali lagi, perlu dikemukakan adanya perkembangan pemikiran di kalangan orang-orang Kristen tentang Tuhan dan Keesaan-Nya. Namun secara umum mereka mengenal apa yang mereka istilahkan dengan Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruh al-Kudus.

Dalam kitab Perjanjian Lama dan Baru memang ditemukan istilah anak-anak Tuhan. Dalam Kitab Ulangan 14:1 tercantum ucapan Nabi Musa as. yang ditujukan kepada umatnya bahwa: “Kamulah anak-anak Tuhan, Allah-mu”; Dalam Injil (Perjanjian Baru) istilah serupa banyak juga ditemukan. Misalnya dalam Matius 5:5 antara lain ditemukan: “Berbahagialah orang-orang yang membawa damai karena mereka disebut anak-anak Allah”. Tetapi tentu saja kata “anak” atau “bapak” bukan dalam arti sebenarnya, tetapi makna kiasan yakni yang dicintai dan yang memelihara.

Muhammad Sayyid Thantawi dalam tafsirnya, bahwa non-muslim dapat dibagi menjadi tiga kelompok,

  1. Pertama, adalah mereka yang tinggal bersama kaum muslim, dan hidup damai bersama mereka, tidak melakukan kegiatan untuk kepentingan lawan Islam serta tidak juga nampak dari mereka tanda-tanda yang mengantar kepada prasangka buruk terhadap mereka. Kelompok ini mempunyai hak dan kewajiban sosial sama dengan kaum muslim. Tidak ada larangan untuk bersahabat dan berbuat baik kepada mereka, sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Mumtahanah ayat 8.
  2. Kedua, kelompok yang memerangi atau merugikan kaum muslim dengan berbagai cara. Terhadap mereka tidak boleh dijalin hubungan harmonis, tidak boleh juga didekati. Mereka yang dimaksud oleh ayat ini, demikian juga dengan ayat-ayat lain, sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Mumtahanah ayat 9.
  3. Ketiga, kelompok yang tidak secara terang-terangan memusuhi kaum muslim, tetapi ditemukan pada mereka sekian indikator yang menunjukkan bahwa mereka tidak bersimpati kepada kaum muslim, bahkan bersimpati kepada musuh-musuh Islam. Terhadap mereka Allah memerintahkan kaum beriman agar bersikap hati-hati tanpa memusuhi mereka.

Allah berfirman di dalam Surat al-Maidah ayat 82,

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”

Menurut Quraish Shihab, ayat ini tidak dapat dijadikan ukuran untuk menggeneralisir orang Yahudi dan Nasrani, tetapi harus dipahami berdasar sebab turunnya, sembari menukil ath-Thabari dalam tafsirnya yang menguraikan sekian banyak sebab turun ayat ini, dan salah satunya berkaitan dengan Najasyi/Negus, Penguasa Ethiopia yang memeluk islam.

BACA  Hadits Nabi Muhammad SAW: Shalat Dua Hari Raya

Mengutip pakar tafsir al-Alusi, dia mengemukakan bahwa kelihatannya yang dimaksud dengan yahud pada ayat ini adalah semua orang Yahudi. Namun dia mengatakan bahwa pendapat ini sulit diterima, karena kenyataannya sejarah membuktikan bahwa ada di antara orang-orang Yahudi yang memeluk Islam dan setia melaksanakan ajaran-ajarannya, dan ada juga di antara mereka yang bersikap netral/tidak memusuhi islam. Pendapat yang menggeneralisir dapat dibenarkan jika kata yahud dibatasi pengertiannya terhadap kelompok Bani Israil penganut Yudaisme dan yang dikecam oleh sekian banyak ayat Al-Qur’an. Sepanjang pengamatannya, Al-Qur’an tidak menggunakan kata yahud kecuali terhadap penganut Yudaisme yang durhaka lagi melampaui, sembari memberikan beberapa ayat-ayat yang menggunakan kata tersebut dalam surat al-Ma’idah ini yakni ayat 18, 58, dan 64

Lebih lanjut, kelompok Nasrani pun tidak dapat digeneralisir, apalagi kata nashara, digunakan Al-Qur’an terkadang dalam konteks positif dan pujian sebagaimana dalam ayat ini, dan terkadang juga dalam bentuk kecaman sebagaimana antara lain Surat al-Baqarah ayat 120, dan pernah juga bersifat netral seperti dalam Surat al-Haj ayat 17. Kendati perbedaan ajaran Tauhid antara Islam dan Yahudi tidak semenonjol dan sebesar perbedaannya dengan ajaran Kristen, namun karena faktor iri hati serta kepentingan ekonomi, maka kebencian mereka menjadi besar. Berbeda dengan masyarakat Nasrani, yang disamping tidak adanya persaingan ekonomi, juga karena keberhasilan para pemuka agama Nasrani mengajarkan nilai-nilai spiritual kepada para penganutnya. Dan yang membuat Nasrani lebih dekat kepada umat Islam adalah adanya faktor ulama dan cendekiawan yang memberi contoh keteladanan dan kerendahan hati mereka.

Pendapat di atas senada dengan pendapat Ibn Katsir yang mengatakan bahwa kekafiran orang-orang Yahudi merupakan kekafiran yang sangat ingkar, sombong, menolak kebenaran, tidak menghargai orang lain, dan menghinakan orang yang berilmu. Oleh karena itu mereka membunuh para Nabi bahkan mereka berkali-kali hendak membunuh Rasulullah. Sementara orang-orang Nasrani pengikut al-Masih, dan berjalan pada manhaj Injil, dalam diri mereka terdapat rasa cinta kasih terhadap Islam, dan para pemeluknya secara umum. Hal itu juga didukung karena di antara mereka terdapat qissisiyyun (para pendeta), yang merupakan para khatib dan ulama mereka, yang memiliki ilmu, ibadah dan tawadhu. Mereka inilah yang menurut Ibn ‘Abbas, dating bersama Ja’far bin Abi Thalib dari Habasyah (Ethiopia), dan kemudian beriman dan mata mereka berlinang air mata, ketika Rasulullah membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Kemudian mereka berkata, “Kami tidak akan pernah berpindah dari agama kami.” Maka Allah memberikan pahala kepada mereka atas keimanan, pembenaran, dan pengakuan mereka terhadap kebenaran.

 

PENUTUP

Pandangan-pandangan Prof. Dr. Quraish Shihab bahwa Islam adalah agama yang paling benar, dan bahwa semua agama di luar Islam saat ini harus diyakini sebagai sebuah kesalahan secara ilmiah. Ketinggian ajaran Islam mengharuskan umatnya mampu memberikan teladan dalam bertoleransi antara sesama umat beragama tanpa harus menggadaikan keyakinan kita dalam wujud pluralisme agama, dan umat Islam dalam rentang sejarah sejak kelahirannya telah mampu memperlihatkan kualitas toleransinya yang sangat baik meski pada suatu tempat dan masa Islam menjadi mayoritas di antara agama-agama di sekitarnya.

Referensi

  • Quraish Shihab, Muhammad, Tafsir al-Mishbah, Volume 1, Jakarta: Penerbit Lentera Hati,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *