ISLAM ISLAMI

Taklid, Boleh atau Diharamkan?

 

Taklid atau Taqlid  adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya.

Taklid secara umum dibolehkan untuk orang awam yang tidak punya kemampuan untuk memahami dalil.

Karena Allah memerintahkan kita untuk rajin bertanya pada ahli ilmu jika kita tidak mengetahui. Dalam ayat disebutkan,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. An Nahl: 43, Al Anbiya’: 7).

Orang berilmu yang bisa menelusuri dan memahami dalil harus meninggalkan taklid.

Perincian hal di atas dipaparkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut:

“Menurut mayoritas ulama, ijtihad itu boleh secara umum. Begitu pula taklid boleh secara umum. Setiap orang tidak diwajibkan untuk berijtihad dan tidak diharamkan untuk taklid. Begitu pula setiap orang tidak diwajibkan untuk taklid dan tidak diharamkan untuk berijtihad.

Ijtihad boleh-boleh saja bagi orang yang punya kapabilitas untuk berijtihad. Begitu pula taklid boleh-boleh saja bagi orang yang tidak mampu untuk berijtihad.

Adapun orang yang mampu untuk berijtihad, apakah boleh ia taklid?

Untuk masalah ini ada perselisihan pendapat. Yang tepat, taklid itu boleh ketika tidak mampu untuk berijtihad. Boleh jadi taklid jadi jalan pilihan karena terbatasnya dalil, sempitnya waktu untuk berijtihad, atau tidak nampak dalil yang kuat padanya. Sehingga sesuatu yang seseorang tidak mampu untuk memenuhinya, jadilah gugur wajibnya dan beralih pada penggantinya yaitu taklid sebagaimana halnya ketidakmampuan karena tidak dapat bersuci dengan air.

Orang awam pun demikian adanya. Ketika mampu berijtihad untuk sebagian masalah, maka boleh ia berijtihad. Ijtihad boleh saja sifatnya parsial. Patokan ijtihad dan taklid adalah adanya kemampuan ataukah tidak. Bisa saja seseorang punya punya kemampuan untuk menyimpulkan dalil untuk sebagian masalah (tidak pada masalah yang lain).” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 203-204).

Syarat-syarat

  1. Yang dibolehkan bertaklid adalah orang awam (orang biasa) yang tidak mengerti cara-cara mencari hukum syari’at.
    2. Ia boleh mengikuti pendapat orang yang mengerti dan mengamalkannya.
    3. Adapun orang yang mengerti dan sanggup mencari sendiri hukum-hukum syari’at, maka harus berijtihad sendiri
    4. Tetapi bila waktunya sudah sempit dan dikhawatirkan akan ketinggalan waktu untuk mengerjakan yang lain (dalam persoalan ibadah) maka menurut suatu pendapat boleh mengikuti pendapat orang lain.
BACA  Adz Dzariah, Antara Ketaatan dan Kemaksiatan

Taklid yang diharamkan

Taklid yang diharamkan adalah:

  1. Taklid kepada orang lain tanpa mempedulikan Al-Qur’an dan hadits
    2. Taklid kepada orang yang tidak diketahui keahliannya untuk diikuti

Referensi:

  1. Ma’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah, Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jizaniy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kesembilan, tahun 1431 H.
  2. Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *