ISLAM ISLAMI

Kisah Ahli Surga Yang Terakhir Masuk Surga

Spread the love

 

Kisah Ahli Surga yang Terakhir Masuk Surga

 


Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436)

Pada kisah yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhori rahimahullah, terdapat hikmah yang begitu luar biasa nya terhadap kemurahan Allah pada manusia. Sebagaimanapun manusia itu merasa ingin dan ingin mendapatkan “jatah” kenikmatan yang lebih dari Allah, namun Allah dengan segala kekayaannNya tidak pernah berhenti mengabulkan keinginan manusia. Selamat menyimak

Dari Abdullah bin Unais radiyallahu ‘anhu ia mengatakan :

Orang-orang mengatakan ,” Wahai Rasulullah, apakah kita melihat Rabb kita pada hari kiamat?”

Beliau balik bertanya kepada mereka,”Apakah kalian kesulitan melihat bulan pada malam purnama tanpa terhalang oleh awan?”

Mereka menjawab,” Tidak, Wahai Rasulullah.”

Beliau bertanya,” Apakah kalian kesulitan melihat matahari yang tidak terhalan awan?”

Mereka menjawab,” Tidak.”

Beliau (Rasulullah) bersabda:

Sesungguhnya kalian pun akan melihat Nya seperti itu. Manusia dikumpulkan pada hari kiamat, lalu dikatakan padanya,” Siapa yang menyembah sesuatu, maka ikutilah ia.” Maka diantara mereka ada yang mengikuti matahari, ada yang mengikuti bulan, ada yang mengikuti thaghut. Tinggal umat ini, termasuk kaum munafiknya.

Lalu Allah datang kepada mereka seraya mengatakan,”Aku lah Rabb kalian.”

Mereka mengatakan,”Kami tetap di tempat kami ini hingga Rabb kami datang kepada kami. Jika Rabb kami datang, maka kami mengenaliNya.”

lalu Allah datang kepada mereka seraya berfirman,” Aku lah Rabb kalian.”

Mereka mengatakan,” Engkau lah Rabb kami.”

Lalu Allah menyeru mereka dan meletakkan Shirat (titian) di antara kedua tepi Jahannam. Aku lah (Rasul) orang yang pertama tama melintasinya dari kalangan para Rasul berdama umatnya. Pada hari itu tidak ada orang yang berkata kata selain para Rasul, dan do’a para Rasul pada hari itu adalah,” Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah!”

Di Jahannam terdapat besi besi pengait seperti duri Sa’dan.

BACA  Kisah Bidadari dan Wanita Ahli Surga

Rasulullah bersabda,” Apakah kalian pernah melihat duri Sa’dan?”

Mereka (sahabat) berkata,” Ya.” Kemudian beliau mengatakan.” Ia seperti duri Sa’dan, dan hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah. Pengait itu akan menyambar manusia, tergantung amalan mereka. Di antara mereka ada yang binasa karena amalanya, dan di antara mereka ada yang diberi balasan hingga diselamatkan.

Hingga ketika Allah berkehendak untuk memberi rahmat kepada siapa yang dikehendakiNya dari ahli Neraka, maka Allah memerintahkan Malaikat untuk mengeluarkan orang orang yang dulu menyembah Allah. Maka Malaikat mengeluarkan mereka dengan melihat bekas sujud, dan Allah mengharamkan Neraka melahap bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari Neraka dalam keadaan telah gosong, lalu mereka disiram dengan air kehidupan, maka mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya biji di aliran air.

Kemudian Allah selesai dari memutuskan perkara di antara para hamba, dan tinggal satu orang yang berada di antara Surga dan Neraka. Ia adalah orang terakhir dari ahli Neraka yang masuk Surga.

Ia menghadapkan wajahnya ke Neraka seraya mengatakan,”Wahai Rabb, palingkanlah wajahku dari Neraka. Sungguh baunya telah menyakitiku dan panasnya telah membakarku.”

Rabb mengatakan,” Jika Aku melakukan hal itu terhadapmu, apakh engkau akan meminta selainnya?”

Ia menjawab,” Tidak, demi keperkasaan Mu.” Ia pun berjanji kepada Allah, lalu Allah memealingkan wajahnya dari Neraka.

Ketika ia maju menuju Surga, ia melihat keindahannya, maka ia diam sekian waktu, kemudian ia mengatakan,” Wahai Rabb, bawalah aku ke dekat pintu Surga.”

Allah berkata,” Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta selain yang telah engkau minta?”

Ia mengatakan,” Wahai Rabb, agar aku tidak menjadi makhluk Mu yang paling sengsara.”

Allah mengatakan,” Jika Aku memberikannya kepadamu, apakah engkau akan meminta selainnya?”

Ia mengatakan,”Tidak, demi keperkasaanMu, aku tidak meminta kepadaMu selain ini.” Ia berjanji kepada Rabb nya.

Lalu Allah mendekatkannya ke pintu Surga. Ketika telah sampai di pintunya, ia melihat keindahannya dan apa yang terdapat di dalamnya berupa kesenangan dan kegembiraan. Ia pun diam sementara waktu, lalu ia mengatakan,” Wahai Rabb, masukkanlah aku ke dalam Surga.”

Maka Allah berfirman,” Kasihan engkau, wahai anak Adam! Betapa cepatnya engkau menghianati janji. Bukankah engkau telah berjanji kepadaKu untuk tidak meminta selain apa yang telah Aku berikan kepadamu?”

BACA  Jujur Membawa Pada Kebajikan dan Surga

Ia mengatakan,” Wahai Rabb, janganlah Engkau jadikan aku sebagai makhluk Mu yang paling sengsara.”

Allah pun tertawa kepadanya, kemudian mengizinkannya masuk Surga. Lalu Allah mengatakan kepadanya, kemudian mengizinkannya masuk Surga.

Lalu Allah mengatakan kepadanya,” Berangan anganlah!” Ia pun berangan angan hingga ketika angan angan nya telah terputus, maka Allah mengatakan,” Berangan anganlah demikian dan demikian.” Allah mengingatkannya hingga ketika angan angannya habis, maka Allah mengatakan,” Engkau mendapatkan hal itu dan yang semisal itu.”

Abu Sa’id al Khudri mengatakan kepada Abu Hurairah,” Rasulullah mengatakan ,” Allah berfirman,” Engkau mendapatkan hal itu dan sepuluh kali lipatnya.”

Subhanallah… Ahli Surga yang paling terakhir masuk surga saja sedemikian besar karunianya dari Allah, apalagi orang-orang yang derajat amalnya lebih banyak dan lebih baik dari ahli surga tersebut. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan Allah untuk tetap istiqomah dengan Islam dan dimatikan di atas keimanan.. dan kelak bisa termasuk dari golongan ahli surga. Aamiin

Diambil dari kitab “Perjalanan menuju Akhirat (Haadimul Ladzdzaat)” karya Abu Islam Ahmad ‘Ali – Pustaka Ibnu Umar

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *