ISLAM ISLAMI

Nabi Muhammad Tokoh Anti Rasial Paling Inspiratif

Bilal bin Rabah terlahir dalam perbudakan. Kondisi tersebut diperparah setelah ia menjadi salah satu orang beriman pertama yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Bilal bin Rabah adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah (Ethiopia) yang masuk Islam ketika masih diperbudak. Setelah majikannya mengetahui bahwa Bilal masuk Islam, maka Bilal disiksa terus menerus setiap harinya, guna mengembalikan keyakinannya agar tidak memeluk Islam. Tetapi Bilal tidak mau kembali kepada kekafirannya dan tetap melantunkan “Ahadun Ahad, Ahadun Ahad…”. Pada akhirnya Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat nabi. Bilal bin Rabah, seorang sahabat yang mulia. Beliau adalah mantan budak dan berkulit hitam legam, tetapi kedudukan beliau tinggi di antara para sahabat. Beliau telah dipersaksikan masuk surga secara khusus yang belum tentu ada pada semua sahabat lainnya.Beliau juga adalah sayyid para muadzzin dan pengumandang adzan pertama umat Islam.

Ayah Bilal adalah seorang budak Arab, sementara ibunya adalah mantan putri Etiopia modern yang juga diperbudak. Bilal bahkan mendapat hukuman dari tuannya karena berpindah ke Islam. Dia menyeret Bilal di sekitar Makkah, mendorong orang untuk mengejeknya. Dia bahkan mencoba memaksa Bilal meninggalkan imannya dengan meletakkan batu besar di dadanya dan menjepitnya di tanah. Namun, bukannya dari melepaskan keyakinannya, Bilal menunjukkan sikap menentang dan penuh kekuatan teguh menghadapi penganiayaan dan kekerasan.

Terkesan oleh ketabahan Bilal kepada agama Islam, Nabi Muhammad mengirim salah satu teman terdekatnya, Abu Bakar, untuk membayar kebebasan Bilal. Setelah dibebaskan, Bilal menjadi terkenal di komunitas Muslim awal.

Nabi Muhammad menunjuknya melayani masjid dengan menggunakan suaranya yang merdu untuk mengumandangkan adzan. Bilal merupakan pria kulit hitam. Bagi sebagian orang, warna kulitnya membuatnya tidak layak mendapat kehormatan semacam itu.

Pada satu kesempatan, seorang sahabat Nabi, seorang pria bernama Abu Dhar, dengan meremehkan berkata kepada Bilal, “Kamu anak dari perempuan kulit hitam.” Hal tersebut langsung mendapat teguran dari Nabi Muhammad.

“Apakah kamu mengejeknya tentang ibunya yang hitam? Masih ada beberapa pengaruh ketidaktahuan dalam dirimu,” ujar Nabi.

Ketidaktahuan yang diidentifikasi oleh Nabi Muhammad berasal dari pandangan sesat bahwa ras seseorang mencerminkan karakter moral atau status sosialnya. Faktanya, pesan Nabi Muhammad tentang kesetaraan ras sangat kontras dengan permusuhan rasial yang lazim di Arab abad ke-7. Para ulama menyebut hal tersebut sebagai jahiliyah, periode sebelum munculnya Islam, masa ketidaktahuan termasuk rasialisme.

BACA  Biografi Nabi Muhammad SAW: Kisah Perkenalan Dengan Khadijah

Anti Rasial Pertama di Dunia

Nabi Muhammad adalah orang pertama dalam sejarah manusia yang menyatakan tanpa syarat bahwa tidak ada orang yang di atas yang lain berdasarkan ras atau etnis. Pernyataan ini dikristalisasi dalam salah satu pidato penting Nabi (khutbah terakhirnya) yang disampaikan di Gunung Arafat pada 632 M. Dalam khutbah itu, Nabi Muhammad mengutuk rasialisme ketika beliau berkata,

“Semua umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa. Orang Arab tidak memiliki keunggulan dibandingkan orang non-Arab dan orang non-Arab tidak memiliki keunggulan dibandingkan orang Arab. Orang kulit putih tidak memiliki keunggulan dibandingkan orang kulit hitam, atau orang kulit hitam tidak memiliki keunggulan. Superioritas atas orang kulit putih, kecuali dengan kesalehan dan tindakan yang baik.”

Sejak saat itu, ajaran Nabi Muhammad tentang kesetaraan ras telah mengilhami manusia berjuang untuk kesetaraan ras dan keadilan untuk semua. Khutbah Nabi Muhammad mengilhami kehidupan el-Hajj Malik el-Shabazz, yang lebih dikenal sebagai Malcolm X.

Dia adalah pemimpin hak-hak sipil kulit hitam Muslim yang memerangi rasialisme pada 1950-an dan 1960-an. Setelah melakukan ibadah haji ke Kota Makkah, Malcolm menulis suratnya yang terkenal dari Mekkah.

“Ada puluhan ribu peziarah dari seluruh dunia. Mereka semua berwarna, dari pirang bermata biru, ke Afrika berkulit hitam. Namun, kami semua berpartisipasi dalam ritual yang sama, menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan yang pengalaman saya di Amerika telah membuat saya percaya tidak akan pernah ada antara yang putih dan yang nonputih.”

Ia menambahkan, dirinya belum pernah melihat persaudaraan yang tulus dan sejati dilakukan umat, terlepas dari warna kulit mereka. Haji bagi Malcolm mewakili pergeseran dari rasialisme menuju kesetaraan ras.

Ajaran Nabi Muhammad mendorong semua orang untuk berjuang menuju antirasialisme. Sementara non-rasialisme tidak secara terbuka mengungkapkan pandangannya, mereka juga tidak berusaha membongkar (memperbaiki) rasialisme di masyarakat mana pun.

Nabi secara aktif menantang dan membongkar rasialisme terselubung, terbuka, dan sistematis di sekitarnya. Dia mengidentifikasi rasialisme sebagai gejala dan menyebut akar penyebabnya sebagai kesombongan dalam hati manusia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abu Dzar,

 

ﺍﻧْﻈُﺮْ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺃَﺣْﻤَﺮَ ﻭَﻻَ ﺃَﺳْﻮَﺩَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻔْﻀُﻠَﻪُ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ

 

Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.”

Allah menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lainnya. Yang membedakan di sisi Allah hanyalah ketakwaannya.

 

 

Perhatikan ayat berikut:

 

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ

 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (Al-Hujurat: 13)

Jadi kita diciptakan berbeda-beda suku, ras dan bangsa agar kita saling mengenal. Allah menegaskan setelah ayat ini bahwa yang paling mulia adalah yang paling taqwa. Ath-Thabari menafsirkan,

 ﺇﻥ ﺃﻛﺮﻣﻜﻢ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻜﻢ ، ﺃﺷﺪﻛﻢ ﺍﺗﻘﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﺄﺩﺍﺀ ﻓﺮﺍﺋﻀﻪ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ، ﻻ ﺃﻋﻈﻤﻜﻢ ﺑﻴﺘﺎ ﻭﻻ ﺃﻛﺜﺮﻛﻢ ﻋﺸﻴﺮﺓ

“Yang paling mulia di sisi Rabb kalian adalah yang paling bertakwa dalam melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat. Hukan yang paling besar rumah atau yang paling banyak keluarganya.”

Bahkan Islam melarang keras bentuk ta’assub yaitu membela serta membabi buta hanya berdasarkan suku, rasa atau bangsa tertentu, tidak peduli apakah salah atau benar, dzalim atau terdzalimi.

BACA  30 Karya Tulis Tokoh Dunia: Muhammad Manusia Teragung Sepanjang Peradaban  Sejarah Manusia

Perkatikan hadits berikut, Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu,ia berkata:

 

ﻛُﻨَّﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓِﻰ ﻏَﺰَﺍﺓٍ ﻓَﻜَﺴَﻊَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﺭَﺟُﻼً ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِﻯُّ ﻳَﺎ ﻟَﻸَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻯُّ ﻳَﺎ ﻟَﻠْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ‏« ﻣَﺎ ﺑَﺎﻝُ ﺩَﻋْﻮَﻯ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺴَﻊَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﺭَﺟُﻼً ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﺩَﻋُﻮﻫَﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣُﻨْﺘِﻨَﺔٌ ‏»

 

Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Gaza, Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki dari kaum Anshar. Maka orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (tolong aku).’ Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang muhajirin (tolong aku).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Seruan Jahiliyyah macam apa ini?!.’ Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah memukul pantat seorang dari kaum Anshar.’ Beliau bersabda: ‘Tinggalkan hal itu, karena hal itu adalah buruk.’ ” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *