October 28, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Truth and Tolerance

Urgensi dan Keperluan Tafsir Quran

6 min read

Al-Qur’an adalah kitab suci dalam agama Islam, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi terakhir sepanjang kehidupan manusia yaitu Nabi Muhammad SAW. Quran tediri dari beberapa surah (bab) dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat. Al-Qur’an difirmankan langsung oleh Allah kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril, yang berlangsung selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Pertama kali Quran diturunkan sejak tanggal 17 Ramadan, saat Rasulullah berumur 40 tahun hingga wafat pada hari Senin 8 Juni tahun 632. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Rasulullah, sebagai salah satu tanda dari nabi terakhir dan terbesar sepanjang kehidupan manusia hingga kiamat nantinya.  Quran merupakan puncak dari seluruh wahyu yang pernah diturunkan oleh Allah sejak Nabi Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad. Dalam kehidupan sehari hari dalam memahami Al Quran seringkali lebih mudah bila dipahami dengan  Tafsir Al-Qur’an. Tafsir Al Quran adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-Qur’an dan isinya berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Qur’an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak di pahami dan samar artinya. Perlukah tafsir Quran ?

Al-Qur’an adalah sebuah  pedoman kehidupan dunia akhirat bagi umat Muslim di dunia. Al-quran juga merupkan dasar hukum Islam dan sumber syariat islam yang memiliki manfaat bagi umat manusia dan alam semesta. Nabi Muhammad adalah seorang nabi terakhir yang menerima muksizat Al-quran yang ditugaskan Allah untuk menyampaikan, mengamalkan, dan menafsirkan Al-quran bagi kehidupan umat manusia. Sebagian lainnya Al Quran berisi cerita mengenai kisah bersejarah dan sumber inspirasi moral bagi manusia dengan memahami lewat sejarah para nabi terdahulu. Banyak pakar sastra dunia mengapresiasi Al-Qur’an sebagai sebuah karya sastra bahasa Arab yang sangat luar biasa dan terbaik di dunia hingga saat ini, Bahkan sampai saat ini tidak ada seorangpun yang bisa melebihi atau meniru walau atu ayatpun.

Satu-satunya kitab suci yang dijamin selalu keasliannya oleh Allah hanyalah Alquran. Allah menjamin keslian Quran hingga akhir zaman dengan berfirman, Sungguh Kami yang telah menurunkan Alquran dan Kamilah yang akan menjaganya. (QS. al-Hijr: 9)

Sementara kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil, kitab ini Allah turunkan kepada Bani Israil, namun Allah tidak memberi jaminan untuk menjaganya. Namun penjagaan itu Allah serahkan kepada manusia. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. (QS. al-Maidah: 44)

Sudah 1400 tahun hingga sekarang fakta menunjukkan bahwa  teks asli Alquran tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun. Teks aslinya selalu ada, tidak kurang tidak lebih. Alquran apapun yang anda jumpai, diterjemahkan ke bahasa apapun, teks aslinya pasti dicantumkan di samping terjemahan. Bahkan yang luar biasa hanya kitab suci al Quran yang bisa dihapalkan dan diucpkan oleh jutaan orang dengan tidak satupun berbeda lafadz dan isinya.

Tafsir Quran

Tafsir Al-Qur’an adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-Qur’an dan isinya berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Qur’an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak di pahami dan samar artinya. Kebutuhan umat Islam terhadap tafsir Al-Qur’an, sehingga makna-maknanya dapat dipahami secara penuh dan menyeluruh, merupakan hal yang mendasar dalam rangka melaksanakan perintah Allah (Tuhan dalam Islam) sesuai yang dikehendaki-Nya.

Dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an diperlukan bukan hanya pengetahuan bahasa Arab, tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan yang menyangkut Al-Qur’an dan isinya. Ilmu untuk memahami Al-Qur’an ini disebut dengan Ushul Tafsir atau biasa dikenal dengan Ulumul Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an). Terdapat tiga bentuk penafsiran yaitu Tafsîr bil ma’tsûr, at-tafsîr bir ra’yi, dan tafsir isyari, dengan empat metode, yaitu ijmâli, tahlîli, muqârin dan maudhû’i. Sedangkan dari segi corak lebih beragam, ada yang bercorak sastra bahasa, fiqh, teologi, filsafat, tasawuf, ilmiyah dan corak sastra budaya kemasyarakatan.

Urgensi keperluan Adanya Tafsir Quran

Usaha menafsirkan Al-Qur’an sudah dimulai semenjak zaman para sahabat Nabi S.A.W. sendiri. ‘Ali ibn Abi Thâlib (w. 40 H), ‘Abdullah ibn ‘Abbâs (w. 68 H), ‘Abdullah Ibn Mas’ûd (w. 32 H) dan Ubay ibn Ka’ab (w. 32 H) adalah di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril dalam bahasa Arab dengan segala macam kekayaan bahasanya. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah, kaidah-kaidah syariat, asas-asas perilaku, menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan beramal. Namun, Allah SWT tidak menjamin perincian-perincian dalam masalah-masalah itu sehingga banyak lafal Al-Qur’an yang membutuhkan tafsir, apalagi sering digunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya. Dalam lafazh yang sedikit saja dapat terhimpun sekian banyak makna. Untuk itulah diperlukan penjelasan yang berupa tafsir Al-Qur’an.

Mempelajari tafsir Al-Qur’an adalah kewajiban berdasarkan firman Allah swt yang artinya sebagai berikut.

  • “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS Sad [38]: 29) Allah swt menjelaskan bahwa hikmah diturunkannya Al-Qur’an yang penuh dengan berkah adalah agar manusia men-tadabbur-i ayat-ayatnya dan meneliti ayat-ayat itu. Tadabbur adalah merenungi lafal-lafal Al-Qur’an untuk memahami maknanya. Jika tidak ada tadabbur, maka manusia akan kehilangan hikmah tersebut dan lafal-lafal Al-Qur’an tidak akan memberi pengaruh.
  • “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad [47]: 24) Allah swt mencela orang-orang yang tidak men-tadabbur-i Al-Qur’an serta menyebutkan tentang terkuncinya dan tidak adanya kebaikan pada hati mereka.

Ulama-ulama terdahulu berpendapat atas wajibnya mempelajari tafsir Al-Qur’an. Mereka mempelajari lafal dan makna Al-Qur’an sehingga mereka bisa melaksanakan amal yang Allah maksudkan dalam Al-Qur’an. Tidak mungkin melakukan suatu amal yang tidak diketahui hakikat maknanya.

Abu Abdirrahman as-Sulamiy berkata, “Orang-orang yang mengajari kami Al-Qur’an, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud, ketika belajar sepuluh ayat dari Al-Qur’an kepada Nabi , mereka tidak meminta tambah sampai mereka memahami ilmu dan amal yang terkandung di dalamnya. Mereka berkata, ‘Oleh sebab itu, kami mempelajari Al-Qur’an sekaligus ilmu dan amal.’

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.