September 19, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Truth and Tolerance

Sejarah Tafsir Quran

5 min read

Al-Qur’an adalah kitab suci dalam agama Islam, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi terakhir sepanjang kehidupan manusia yaitu Nabi Muhammad SAW. Quran tediri dari beberapa surah (bab) dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat. Al-Qur’an difirmankan langsung oleh Allah kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril, yang berlangsung selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Pertama kali Quran diturunkan sejak tanggal 17 Ramadan, saat Rasulullah berumur 40 tahun hingga wafat pada hari Senin 8 Juni tahun 632. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Rasulullah, sebagai salah satu tanda dari nabi terakhir dan terbesar sepanjang kehidupan manusia hingga kiamat nantinya.  Quran merupakan puncak dari seluruh wahyu yang pernah diturunkan oleh Allah sejak Nabi Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad. Dalam kehidupan sehari hari dalam memahami Al Quran seringkali lebih mudah bila dipahami dengan  Tafsir Al-Qur’an. Tafsir Al Quran adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-Qur’an dan isinya berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Qur’an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak di pahami dan samar artinya. Inilah sejarah adanya Tafsir al Quran.

Al-Qur’an adalah sebuah  pedoman kehidupan dunia akhirat bagi umat Muslim di dunia. Al-quran juga merupkan dasar hukum Islam dan sumber syariat islam yang memiliki manfaat bagi umat manusia dan alam semesta. Nabi Muhammad adalah seorang nabi terakhir yang menerima muksizat Al-quran yang ditugaskan Allah untuk menyampaikan, mengamalkan, dan menafsirkan Al-quran bagi kehidupan umat manusia. Sebagian lainnya Al Quran berisi cerita mengenai kisah bersejarah dan sumber inspirasi moral bagi manusia dengan memahami lewat sejarah para nabi terdahulu. Banyak pakar sastra dunia mengapresiasi Al-Qur’an sebagai sebuah karya sastra bahasa Arab yang sangat luar biasa dan terbaik di dunia hingga saat ini, Bahkan sampai saat ini tidak ada seorangpun yang bisa melebihi atau meniru walau atu ayatpun.

Satu-satunya kitab suci yang dijamin selalu keasliannya oleh Allah hanyalah Alquran. Allah menjamin keslian Quran hingga akhir zaman dengan berfirman, Sungguh Kami yang telah menurunkan Alquran dan Kamilah yang akan menjaganya. (QS. al-Hijr: 9)

Sementara kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil, kitab ini Allah turunkan kepada Bani Israil, namun Allah tidak memberi jaminan untuk menjaganya. Namun penjagaan itu Allah serahkan kepada manusia. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. (QS. al-Maidah: 44)

Sudah 1400 tahun hingga sekarang fakta menunjukkan bahwa  teks asli Alquran tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun. Teks aslinya selalu ada, tidak kurang tidak lebih. Alquran apapun yang anda jumpai, diterjemahkan ke bahasa apapun, teks aslinya pasti dicantumkan di samping terjemahan. Bahkan yang luar biasa hanya kitab suci al Quran yang bisa dihapalkan dan diucpkan oleh jutaan orang dengan tidak satupun berbeda lafadz dan isinya.

Sejarah tafsir Al-Qur’an

Sejarah ini diawali dengan masa Rasulullah  masih hidup sering kali timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat. Untuk itu mereka dapat langsung menanyakan pada Rasulullah .

Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al-Qur’an antara lain empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair. Pada masa ini belum terdapat satupun pembukuan tafsir dan masih bercampur dengan hadis.

Sesudah generasi sahabat, datanglah generasi tabi’in yang belajar Islam melalui para sahabat di wilayah masing-masing. Ada tiga kota utama dalam pengajaran Al-Qur’an yang masing-masing melahirkan madrasah atau madzhab tersendiri, yaitu

  • Mekkah dengan madrasah Ibnu Abbas dengan murid-murid antara lain Mujahid ibn Jabir, Atha bin Abi Rabah, Ikrimah Maula Ibn Abbas, Thaus ibn Kisan al-Yamani dan Said ibn Jabir,
  • Madinah dengan madrasah Ubay ibn Ka’ab dengan murid-murid Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, Abu al-Aliyah ar-Riyahi dan Zaid bin Aslam, dan
  • Irak dengan madrasah Ibnu Mas’ud dengan murid-murid Hasan al-Bashri, Masruq ibn al-Ajda, Qatadah bin Da’amah, Atah ibn Abi Muslim al-Khurasani dan Marah al-Hamdani.

Pada masa ini tafsir masih merupakan bagian dari hadis namun masing-masing madrasah meriwayatkan dari guru mereka sendiri-sendiri. Ketika datang masa kodifikasi hadis, riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri namun belum sistematis sampai masa sesudahnya ketika pertama kali dipisahkan antara kandungan hadits dan tafsir sehingga menjadi kitab tersendiri. Usaha ini dilakukan oleh para ulama sesudahnya seperti Ibnu Majah, Ibnu Jarir ath-Thabari, Abu Bakr ibn al-Munzir an-Naisaburi dan lainnya. Metode pengumpulan inilah yang disebut tafsir bil Ma`tsur.

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metodologi tafsir dengan memasukan unsur ijtihad yang lebih besar. Meskipun begitu mereka tetap berpegangan pada tafsir bi al-Ma`tsur dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut. Hal ini melahirkan apa yang disebut sebagai tafsir bi ar-ra’yi yang memperluas ijtihad dibandingkan masa sebelumnya. Lebih lanjut perkembangan ajaran tasawuf melahirkan pula sebuah tafsir yang biasa disebut sebagai tafsir isyari.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.