September 19, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Truth and Tolerance

Apakah Surat , Ayat atau Kalimat Dalam Quran ?

7 min read

Al-Qur’an adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab ini terbagi ke dalam beberapa surah (bab) dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat. Al-Qur’an difirmankan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari atau rata-rata selama 23 tahun, dimulai sejak tanggal 17 Ramadan, saat Rasulullah berumur 40 tahun hingga wafat pada tahun 632. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Rasulullah, sebagai salah satu tanda dari kenabian dan merupakan puncak dari seluruh wahyu yang diturunkan oleh Allah sejak Nabi Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad. Kata “Quran” disebutkan sebanyak 70 kali di dalam Al-Qur’an itu sendiri.

Al-Qur’an adalah sebuah petunjuk dan pedoman kehidupan dunia akhirat bagi umat Muslim di dunia. Sebagian lainnya berisi cerita mengenai kisah bersejarah dan sumber inspirasi moral bagi manusia dengan memahami lewat sejarah para nabi terdahulu. Banyak pakar sastra dunia mengapresiasi Al-Qur’an sebagai sebuah karya sastra bahasa Arab yang sangat luar biasa dan terbaik di dunia, hingga sampai saat ini tidak ada seorangpun yang bisa melbih atau meniru walau atu ayatpun.

Satu-satunya kitab suci yang dijamin selalu otentik oleh Allah hanyalah Alquran. Allah berfirman,

Sungguh Kami yang telah menurunkan Alquran dan Kamilah yang akan menjaganya. (QS. al-Hijr: 9)

Sementara kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil, kitab ini Allah turunkan kepada Bani Israil, namun Allah tidak memberi jaminan untuk menjaganya. Namun penjagaan itu Allah serahkan kepada manusia. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. (QS. al-Maidah: 44)

Sudah 1400 tahun hingga sekarang fakta menunjukkan bahwa  teks asli Alquran tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun. Teks aslinya selalu ada, tidak kurang tidak lebih. Alquran apapun yang anda jumpai, diterjemahkan ke bahasa apapun, teks aslinya pasti dicantumkan di samping terjemahan. Bahkan yang luar biasa hanya kitab suci al Quran yang bisa dihapalkan dan diucpkan oleh jutaan orang dengan tidak satupun berbeda lafadz dan isinya.

Surat, Ayat dan Kalimat

Selama ini jumlah ayat dalam Quran sebagian mengatakan jumlah ayatnya adalah 6666 ayat. Ternyata banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang jumlah ayat dalam Quran. Menurut buku Tarikh Al-quran karangan Muhammad Hadi Ma’rifat, dikatakab dari Ibnu Abbas bahwa semua ayat Al-Quran berjumlah 6600 ayat. Semua hurufnya berjumlah 320.671. Menurut Kufiyyin, riwayat yang paling sahih dan pasti tentang jumlah ayat Al-Quran adalah 6236 ayat. Riwayat ini dinukil dari Ali bin Abi Thalib. Beberapa orang menganalisa dengan menggunakan aplikasi Microsoft Exel di laptop dengan rumus SUM jumlahnya juga ditemukan 6236 ayat, belum termasuk basmalah.

Makna lafaz “surat” masih diperselisihkan, dari kata apakah ia berakar. Suatu pendapat mengatakan bahwa “surat” berasal dari penjelasan (bayan) dan kedudukan yang tinggi, seperti pengertian yang terkandung di dalam perkataan penyair An-Nabigah berikut ini:

أَلَمْ تَرَ أنَّ اللَّهَ أعطاكَ سورَةً … تَرَى كُلَّ مَلْكٍ دُونها يَتَذَبْذَبُ 

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah telah memberimu penjelasan/kedudukan yang tinggi

kamu melihat semua raja merasa bingung menghadapinya.

Seakan-akan melalui “surat” tersebut si pembaca berpindah dari suatu kedudukan ke kedudukan yang lain.

Menurut suatu pendapat, dikatakan “surat” karena kehormatan dan ketinggiannya sama seperti tembok-tembok pembatas negeri. Menurut pendapat yang lain, dinamakan “surat” karena merupakan sepotong dari Al-Qur’an dan bagian darinya, diambil dari kata asarul ina (أَسْآرِ الْإِنَاءِ) yang artinya “sisa air minum yang ada pada wadahnya”. Dengan demikian, berarti bentuk asalnya adalah memakai hamzah (yakni “surun”); dan sesungguhnya hamzah di-takhfif-kan, lalu diganti dengan wawu, mengingat harakat dammah sebelumnya (hingga jadilah “surun”, selanjutnya menjadi “surat”). Menurut pendapat yang lainnya lagi, dikatakan demikian karena kelengkapan dan kesempurnaannya; orang-orang Arab menyebut unta betina yang sempurna dengan sebutan “surat”.

Menurut tafsir Quran Ibnu Katsir, disebutkan bahwa “surat” berasal dari pengertian “menghimpun dan meliputi ayat-ayat yang terkandung di dalamnya”; sebagaimana tembok pembatas sebuah negeri (kota), dinamakan “surat” karena tembok tersebut meliputi semua perumahan dan kemah yang terhimpun di dalamnya. Bentuk jamak dari “surat” ialah suwarin (سور) dengan huruf wawu yang di-fathah-kan, tetapi adakalanya dijamakkan dalam bentuk surat (سُورَاتٍ) dan saurat (سَوْرَاتٍ).

 

Pengertian “ayat” merupakan pertanda terputusnya suatu pembicaraan dari ayat sebelum dan sesudahnya, serta terpisah darinya. Dengan kata lain, suatu ayat terpisah dari ayat lainnya dan berdiri sendiri.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ

Sesungguhnya tanda ia akan jadi raja. (Al-Baqarah: 248)

 

Nabigah, salah seorang penyair, mengatakan:

تَوَهَّمْتُ آيَاتٍ لَهَا فَعَرَفْتُهَا … لِسِتَّةِ أَعْوَامٍ وَذَا الْعَامُ سَابِعُ

 

Aku mengira-ngira tanda-tanda yang dimilikinya, akhirnya aku dapat mengenalnya setelah berlalu enam tahun dan sekarang tahun ketujuhnya.

Menurut pendapat lain, ayat adalah sekumpulan huruf dari Al-Qur’an atau sekelompok darinya, sebagaimana dikatakan kharajal qaumu biayatihim (خَرَجَ الْقَوْمُ بآياتهم), yakni “kaum itu berangkat bersama golongannya”.

 

Salah seorang penyair mengatakan:

خَرَجْنَا مِنَ النَّقْبَيْنِ لَا حَيَّ مِثْلُنَا … بِآيَتِنَا نُزْجِي اللِّقَاحَ الْمَطَافِلَا

Kami berangkat dari Niqbain, tiada suatu kabilah pun semisal dengan kabilah kami bersama semua golongannya, kami menggiring ternak unta.

Pendapat yang lain mengatakan, dinamakan “ayat” karena merupakan suatu keajaiban yang tidak mampu dilakukan oleh manusia untuk membuat hal semisalnya. Imam Sibawaih mengatakan bahwa bentuk asal ayat ialah ayayatun (أَيَيَةٌ), sama wazannya dengan akamatin (أَكَمَةٍ) dan syajaratin (شَجَرَةٍ) ; huruf ya berharakat, sedangkan harakat sebelumnya adalah fathah, maka diganti menjadi alif hingga jadilah ayatiin dengan memakai hamzah yang dipanjangkan bunyinya.

Imam Kisai mengatakan, bentuk asalnya adalah ayiyatun dengan wazan seperti lafaz aminatun, lalu huruf ya diganti menjadi alif, selanjutnya dibuang karena iltibas (serupa dengan hamzah). Imam Farra mengatakan, asalnya ialah ayyatiin, kemudian ya pertama diganti menjadi alif ‘karena tasydid tidak disukai, hingga jadilah ayah (ayat); bentuk jamaknya ialah ayin, ayatiin, dan ayayiin.

“Kalimat” artinya “suatu lafaz yang menyendiri”, adakalanya terdiri atas dua huruf, misalnya ma dan la atau lain-lainnya yang sejenis; adakalanya lebih banyak, yang paling banyak terdiri atas sepuluh huruf,

seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ}

Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa. (An-Nur: 55)

{أَنُلْزِمُكُمُوهَا}

Apa akan kami paksakan kalian menerimanya? (Hud: 28)

{فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ}

lalu Kami beri minum kalian dengan air itu. (Al-Hijr: 22)

 

Adakalanya suatu ayat hanya terdiri atas satu kalimat, misalnya- wal fajri, wad duha, wal ‘asri; demikian pula alif lam mim, taha, yasin, ha mim, menurut pendapat ulama Kufah. Ha mim ‘ain sin qaf menurut ulama Kufah adalah dua kalimat, sedangkan menurut selain mereka hal-hal tersebut bukan dinamakan ayat, melainkan dianggap sebagai fawatihus suwar (pembuka surat-surat).

Abu Amr Ad-Dani mengatakan.”Aku belum pernah mengetahui suatu kalimat yang menyendiri dianggap sebagai suatu ayat selain firman-Nya dalam surat Ar-Rahman,” yaitu:

{مُدْهَامَّتَانِ}

kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya. (Ar-Rahman: 64)

Imam Qurtubi mengatakan, para ahli tafsir sepakat bahwa tiada suatu lafaz pun di dalam Al-Qur’an yang berasal dari bahasa Ajam. Mereka sepakat pula bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa nama Ajam, misalnya Ibrahim, Nuh, dan Lut.

Tetapi mereka berselisih pendapat, apakah di dalam Al-Qur’an terdapat sesuatu dari bahasa Ajam selain hal tersebut? Al-Baqilani dan At-Tabari mengingkarinya. dan mereka mengatakan bahwa sesuatu yang terdapat di dalam Al-Qur’an lagi bersesuaian dengan bahasa Ajam, maka hal tersebut termasuk persamaan yang kebetulan.

آخر المقدمة

loading...

Материалы по теме:

Tafsir Quran Ibnu Katsir: Surah Al Falaq
  Al-Falaq, ayat 1-5 قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) ...
Kisah Beratnya Perjuangan Nabi Muhammad Menerima Wahyu Allah
Kisah Berat Perjuangan Nabi Muhammad MenErima Wahyu Allah Setelah berulang kali mengalami mimpi menjadi nyata, Muhammad  mulai menyendiri di Gua Hira. Hingga beberapa waktu berlalu ...
Inilah 7 Malaikat Yang Disebutkan Dalam Al Quran
Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman. Iman kepada malaikat adalah meyakini adanya malaikat, meski manusia tidak dapat melihat, meraba atau menciumnya. Mengimani ...
Al Baqarah 62 : Tidak Tunjukkan Semua Agama Sama
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ “Sesungguhnya ...
Kisah Nabi muhammad SAW dan Perang Thaif
Kisah Nabi muhammad SAW dan Perang Thaif Pengepungan Tha'if terjadi pada 630 M, saat kaum Muslimin pimpinan Muhammad mengasingkan dan mengepung kota Tha'if, yang dikuasai ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.