September 23, 2021

ISLAM ISLAMI

Islam Peace, Truth and Tolerance

Kisah Dramatis Pembebasan Mekah, Rasulullah dan 10.000 Pasukan

7 min read

Kisah Dramatis Pembebasan Mekah, Rasulullah dan 10.000 Pasukan

 

Pembebasan Mekkah (bFathu Makkah) merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, di mana Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun,sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah.

Dalam peristiwa itu ada satu kisah kebijaksanaan Rasulullah yang menyentuh hati. Kedatangan beliau ke Makkah berhasil membebaskan Makkah dari kesyirikan dan kejahilan tanpa perlawanan dari kaum quraisy. Beliau SAW menunjukkan sifat kearifan dan keadilannya hingga orang-orang kafir quraish ramai-ramai memeluk Islam. Kisah ini juga diceritakan dalam sirah nabawiyah dan kitab kisah nabi dan para sahabat.

Kronologis sejarah

  • Pada tahun 628, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu Muslim, walaupun sebenarnya yang pertama kali menyerang Bani Bakr adalah Bani Khuza’ah, dan sayang sekali permasalahan tersebut hanya diselesaikan dengan perjanjian elite yang tidak melibatkan akar rumput, sehingga masih menimbulkan dendam dikalangan Bani Bakr. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut di mana Bani Khuza’ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.
  • Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi nabi Muhammad menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Nabi Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dan memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka’bah. Selain itu hukuman mati juga ditetapkan atas 17 orang Mekkah atas kejahatan mereka terhadap orang Muslim, meskipun pada akhirnya beberapa di antaranya diampuni.

Pembebasan Makkah terjadi lantaran pengkhianatan kafir Quraisy di Makkah dengan umat Islam di Madinah. Pada tahun 628 M, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Di antara poin Perjanjian Hudaybiyah adalah siapa yang ingin bergabung menjadi sekutu kaum Muslimin, maka ia bisa bergabung. Begitu juga jika ada yang ingin bergabung dengan Quraisy, maka dipersilakan menjadi sekutu mereka. Kemudian Bani Khuza’ah di Makkah menjadi sekutu Rasulullah, sedangkan musuh mereka, bani Bakr bergabung dengan kafir Quraisy.

Sejak dulu, perang dan sengketa selalu terjadi antara dua kabilah ini. Perjanjian damai ini dimanfaatkan bani Bakr untuk membalas dendam terhadap orang-orang Khuza’ah. Namun setelah 10 tahun gencatan senjata, Quraisy membantu sekutunya, Bani Bakr, menyerang Bani Khuza’ah. Mereka melakukan penyerangan mendadak di malam hari dan membunuh orang-orang Khuza’ah.

Kabar pengkhianatan Quraisy tersebut sampai kepada Rasulullah di Madinah. Mereka mengirim Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui perjanjian mereka dengan kaum Muslimin. Namun Rasulullah menolak, dan memerintahkan kaum muslimin untuk menyiapkan pasukan menuju Makkah.

Rasulullah membawa pasukan Muslim sebanyak 10 ribu orang dan bermaksud untuk menaklukkan Kota Makkah dan menyatukan para penduduk kota Makkah dan Madinah. Penguasa Makkah yang tidak memiliki pertahanan yang memadai kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa perlawanan.

Kemudian Rasulullah dan para sahabatnya masuk ke dalam Masjid al-Haram. Beliau pun mencium Hajar Aswad. Saat itu kondisi Ka’bah begitu mengenaskan, dengan sekitar 360 berhala di sekelilingnya.

Rasulullah SAW menghancurkan berhala- berhala tersebut dan membaca firman Allah SWT:

  • “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’: 81)
  • “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Qs. Saba’: 49).

Setelah berhala-berhala tersebut hancur lebur, Rasulullah melaksanakan tawaf. Kemudian Rasulullah meminta Utsman bin Thalhah agar membuka Ka’bah, lalu beliau memasukinya.

Rasulullah kemudian menghapus gambar-gambar di dalamnya, menghancurkan berhala-berhala, dan melaksanakan shalat di dalam Ka’bah. Setelah itu Rasulullah keluar menjumpai kerumunan orang-orang Quraisy yang menunggu putusan beliau.

Dengan berpegang kepada pintu Ka’bah, beliau bersabda:

  • “Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah,”
  • “Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangkan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”
  • Mereka pun menjawab, “Saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”
  • Beliau bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya:
  • ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!” (as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam, 5/74).

    Rasulullah SAW memaafkan banyak orang yang telah menyakiti beliau, kecuali 9 orang tokoh mereka. Beliau memerintahkan agar kesembilan orang tersebut dihukum mati apabila ditemukan, walaupun mereka berlindung di balik tirai Ka’bah.

    Setelah itu beliau mengembalikan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah. Lalu beliau perintahkan Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan.

    Pada tahun berikutnya saat memimpin Makkah, Rasulullah SAW telah berhasil mempersatukan Makkah dan Madinah. Rasulullah juga berhasil menyebarluaskan Islam lebih luas lagi hingga ke seluruh Jazirah Arab.

Pemimpin pasukan

Tanggal 10 Ramadan 8 H, Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.

Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah:

  1. Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah,
  2. Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada’, dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
  3. Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah. Menurut pendapat lain, empat bagian pasukan, bagian yang keempat dipimpin oleh
  4. Sa’ad bin ‘Ubadah memimpin orang madinah supaya memasuki Mekkah dari arah sebelah barat.

Kisah Abu Sufyan, Pemimpin kaum kafir

Dari Al-Hajun Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Ka’bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka’bah. Dan selesailah pembebasan Mekkah.

Dikisahkan, pada saat pasukan muslim yang dipimpin Rasulullah SAW didampingi sahabatnya datang untuk menaklukkan kota Suci Makkah. Orang-orang musyrik dan kaum Quraisy sangat ketakutan, sehingga tidak ada satu orang pun yang berani memperlihatkan batang hidungnya.

Di antara sekian banyak orang musyrik dan kaum Quraisy yang paling terpukul adalah Abu Sufyan, pemimpin kaum kafir dan bangsawan terhormat di Makkah. Ia biasa disanjung oleh rakyatnya, namun saat peristiwa itu terjadi ia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani keluar rumahnya.

Melihat kejadian itu, Nabi Muhammad SAW saat hendak melangkah ke Ka’bah untuk meruntuhkan berhala-berhala, Beliau berseru kepada penduduk Makkah: “Barangsiapa masuk ke dalam Masjidil Haram, dia akan dilindungi. Barangsiapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, dia akan dilindungi,” seru Rasulullah.

Mendengar seruan Rasulullah itu betapa bangganya Abu Sufyan mendengarnya karena rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram. Sekarang ia sudah tidak perlu lagi kehilangan muka di hadapan rakyat-rakyatnya. Karena ia merasa bahwa ia begitu dihargai. 

Akibatnya seketika itu juga putra Abu Sufyan bernama Mu’awiyah masuk Islam. Namun Abu Sufyan dan Istrinya masih belum mau menerima Islam. Mereka meminta waktu seminggu untuk berfikir dulu, sedangkan semua penduduk Quraisy sudah berbondong-bondong masuk ke Agama Islam. Ketika mendengar Abu Sufyan berkata demikian, Rasulullah pun menjawab. “Jangan seminggu!” “Apakah waktu seminggu itu terlalu lama?” tanya Abu Sufyan dengan terkejut. “Tidak, waktu satu minggu itu terlalu cepat untukmu, jadi sekarang kuberi waktu dua bulan untuk berfikir secara leluasa, apakan kamu akan bersahadat atau tidak. Sebab agama Islam adalah agamanya orang-orang yang berfikir dan berakal. Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak memiliki akal,” kata Rasulullah.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.islamislami.com Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.