Masya Allah, Ajaran Nabi 1400 Tahun Yang lalu Terbukti. Kekebalan Tubuh, Saluran Cerna dan Virus Corona

wp-1584275330484.jpg

wp-1580102152557.jpg

Masya Allah, Ajaran Nabi 1400 Tahun Yang lalu Terbukti. Kekebalan Tubuh, Saluran Cerna dan Virus Corona

Widodo judarwanto, Audi Yudhasmara

Virus coronavirus 2019 (COVID-19), muncul pada bulan Desember 2019, telah menyebar dengan cepat, dengan kasus-kasus yang sekarang dikonfirmasi di beberapa negara. Pada 16 Februari 2020, virus telah menyebabkan 70.548 infeksi dan 1.770 kematian di Cina daratan dan 413 infeksi di Jepang. Bagi masyarakat Indonesia semakin meresahkan ketika presiden Jokowi baru mengumumkan kasus pertamanya di Indonesia. Seperti pada infeksi virus pada umumnya faktor kekebalan tubuh adalah faktor utama. Hal inilah juga yang mungkin menjelaskan mengapa penderita sehat tanpa gejala bisa menularkan virus tersebut, karena saat kekebalan tubuh kuat bisa timbul tanpa gejala. Kekebalan tubuh manusia banyak dipengaruhi berbagai faktor. Tetapi hal penting yang dilupakan masyarakat awam dan klinisi adalah prinsip ilmiah bahwa kekebalan tubuh sebagian besar dibentuk di dalam saluran cerna. Sehingga saat fungsi saluran cerna sering terganggu pada penderita hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna maka kekebalan tubuh menurun dan akan mudah tertular sakit khususnya virus Corona atau berbagai virus lainnya. Ternyata pengetahuan ilmu pengetahuan modern seudah pernah diajarkan Rasulullah 1400 tahun yang lalu pada umatnya. Bahwa umumnya penyakit bersumber dari perut sehingga kita harus menjaga kondisi lambung. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ( أصل كل داء البردة ) البردة : التخمة : أخرجه الحافظ السيوطي في الجامع الصغير”Sumber segala penyakit adalah al-baradah.” Al-baradah: at-Tukhmah (buruknya pencernaan dan makanan) (diriwayatkan Imam al-Hafizh as-Suyuthi rahimahullah dalam al-Jaami’ ash-Shaghiir.

المعدة بيت الداء ”Lambung adalah rumah penyakit.” Riwayat ini menurut sebagian ulama bukanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ucapan Al-harits bin Kaldah salah seorang thabib (dokter) dari Arab, sebagaimana disebukan dalam Maqashidul Hasanah

Sistem kekebalan tubuh manusia adalah serangkaian sel, jaringan, dan organ yang, sepanjang hidup manusia, melindungi dari berbagai patogen penyerang dan membuat kita tetap sehat dan mampu melawan banyak infeksi berulang. Ketika bayi masih bayi, mereka mendapatkan sel imun dari ibu melalui plasenta dan ASI, jika mereka menyusui. Seiring waktu, sistem bayi menjadi dewasa dan dapat melawan infeksi. Saat ini semua pendapat para ahli kesehatan selalu mengungkapkan kekebalan tubuh harus dilakukan dengan gaya hidup sehat yang meliputi cukup istirahat, stres rendah,makanan bergizi dan diet seimbang plus olahraga membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh pada orang-orang dari segala usia.

Menjadi masalah dan pertanyaan masyarakat dan sebagian ahli kesehatan ketika banyak orang mengaku sudah hidup sehat, makan bergizi, sering olahraga, tidak stress, cukup istirahat tetapi masih juga sering sakit. Setelah dicermati ternyata banyak orang dan klinisi sering tidak mencermati bahwa kekebalan tubuh utama seorang manusia sebagian besar terbentuk di saluran cerna. Saat saluran cerna sering terganggu maka kekebalan tubuh juga terganggu. Sehingga banyak data menunjukkan pada penderita dengan kekebalan tubuh menurun sering sakit serimngkali mengalami hipersensitif saluran cerna atau alergi saluran cerna.

wp-1583202102235.jpg

Presentasi kasus Infeksi berulang

Jamal anak sejak usia 6 bulan hingga 3 tahun hampir tiap bulan selalu ke dokter karena sakit. Keluhan yang sering dialami adalah batuk, pilek dan panas. Kekawatiran orangtua beralasan karena anak tersebut sudah terlalu sering minum obat apalagi antibiotika adalah konsumsi rutin setiap sakit. Penderita ini sering mengalami overdiagnosis TBC atau divonis sebagai TBC atau “Flek” padahal tidak menderita penyakit tersebut. Tanpa disadari ternyata salah satu orangtuanya atau kakaknya berpotensi sebagai sumber penularan yang juga sering mengalami gejala sering sakit, batuk dan pilek. Kontak sekolah sering dianggap sebagai biang keladinya. Padahal penyebab utamanya adalah karena daya tahan tubuh menurun. Ternyata penyebab daya tahan tubuh yang tidak optimal ini sering terjadi pada orang dengan saluran cerna yang sensitif. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar atau sekitar 70% mekanisme pertahanan tubuh terdapat dalam saluran cerna. Biasanya hal ini sering terjadi pada penderita alergi, asma dan sensitif pencernaan. Saat penderita dilakukan eliminasi provokasi makanan pencernaan membaik ternyata daya tahan tubuhnya juga membaik sehingga anak lebih jarang sakit.

Infeksi Berulang

Infeksi berulang adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang khususnya infeksi saluran napas akut. Seringhkali keadaan ini dianggap sebagai penyakit batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh. Padahal sebenarnya gangguan batuk pilek tersebut hilang karena infeksi berulang mudah terkena sakit atau istilah awamnya “on and off”. Manifestasinya timbul kadang keras berkurang sedikit kemudian meningkat lagi berulang dalam jangka panjang. Sebenarnya infeksi batuk pilek tersebut penyebabnya utamanya virus yang biasanya akan membaik dalam 5-7 hari. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif jarang terjadi.

Seseorang mengalami infeksi berulang bila infeksi sering dialami secara berulang kali dalam waktu tertentu. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Pada infeksi berulang ini terjadi yang berbeda dengan anak yang normal dalam hal kekerapan penyakit, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.

Kekerapan penyakit adalah frekuensi terjadinya penyakit dalam periode tertentu. Pada infeksi berulang terjadi bila terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut. Penelitian yang telah dilakukan Cleveland Clinic Amerika Serikat, bahwa pada anak normal usia < 1 tahun rata-rata mengalami infeksi 6 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 7-8 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 5-7 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun mengalami 4-5 kali pertahun.

Pada infeksi berulang biasanya didapatkan kerentanan dalam timbulnya gejala klinis suatu penyakit, khususnya demam. Bila terjadi demam sering sangat tinggi atau lebih 39oC. Dengan penyakit yang sama anak lain mungkin hanya mengalami demam sekitar 38- 38,5oC. Biasanya penderita lebih beresiko mengalami pnemoni, mastoiditis, spesis, ensefalitis dan meningitis.

wp-1584275330484.jpg

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH DAN SAKURAN CERNA

  • Sistem kekebalan tubuh manusia diantaranya adalah kekebalan tubuh tidak spesifik. Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan yang tidak spesifik berupa pertahanan fisik, kimiawi, mekanik dan fagositosis. Pertahanan fisik berupa kulit dan selaput lender sedangkan kimiawi berupa ensim dan keasaman lambung. Pertahan mekanik adalah gerakan usus, rambut getar dan selaput lender. Pertahanan fagositosis adalah penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih dan zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat asing. Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit).
  • Salah satu contoh kekebalan alami adalah mekanisme pemusnahan bakteri atau mikroorganisme lain yang mungkin terbawa masuk saat kita makan. HCl yang ada pada lambung akan mengganggu kerja enzim-enzim penting dalam mikroorganisme. Lisozim merupakan enzim yang sanggup mencerna dinding sel bakteri sehingga bakteri akan kehilangan kemampuannya menimbulkan penyakit dalam tubuh kita. Hilangnya dinding sel ini menyebabkan sel bekteri akan mati. Selain itu juga terdapat senyawa kimia yang dinamakan interferon yang dihasilkan oleh sel sebagai respon adanya serangan virus yang masuk tubuh. Interferon bekerja menghancurkan virus dengan menghambat perbanyakan virus dalam sel tubuh.
  • Mukosa usus adalah penghalang utama antara berbagai macam antigen potensial dan manusia atau hewan. Selain mekanisme pertahanan yang tidak spesifik, ada sistem limfoid terkait usus (GALT) yang bereaksi secara independen, yang pertama kali dijelaskan oleh Bienenstock. GALT dipandang sebagai bagian dari sistem imun mukosa umum (MALT), yang independensinya didasarkan pada alasan morfologis, fungsional, dan ontogenik. Dua bagian fungsional utama GALT adalah tambalan Peyer (dengan sel-T dan sel-B) dan jaringan limfoid difus (DLT). Yang terakhir ditemukan di seluruh mukosa usus di dua kompartemen, di lamina propria dan intraepitel. Namun ada jaringan antara sistem kekebalan lokal yang berbeda dan sistem kekebalan humoral yang ditunjukkan oleh fenomena “homing” limfosit dan stimulasi “tempat-jauh”. Meskipun banyak mekanisme dasar imunitas usus saat ini tidak sepenuhnya dipahami, imunoprofilaksis terhadap agen enteropatogenik yang berbeda berhasil digunakan baik dengan metode imunisasi aktif maupun pasif.
  • Selama 15 tahun terakhir rincian dasar dari respon imun mukosa telah dijelaskan. Tantangan dekade berikutnya adalah untuk memperluas rincian ini dan untuk menghubungkan informasi dasar ini dengan proses patologis di saluran pencernaan. Sekarang jelas bahwa IgA sekretori adalah imunoglobulin utama yang diproduksi oleh mukosa. Lebih lanjut, kita tahu bahwa priming oral daripada parenteral secara istimewa merangsang respon IgA sekretori. IgA melindungi terutama dengan mengikat mikroorganisme intraluminal atau toksin dan dengan demikian mengganggu penyerapannya di seluruh epitel usus. Basis seluler untuk respons IgA juga telah dijelaskan sampai batas tertentu. Jelas bahwa responsnya sangat bergantung pada sel T dan membutuhkan sel T helper dan mengganti sel T. Dengan penggunaan antibodi monoklonal, kami telah mulai belajar tentang fungsi yang diperantarai sel dalam usus. Limfosit penekan / sitotoksik sebagian besar diasingkan di epitel sedangkan limfosit penolong / induser terutama berada di lamina propria. Pada penyakit seperti penyakit celiac dan penyakit radang usus, beberapa perubahan dalam sistem kekebalan pencernaan telah dijelaskan. Beberapa, seperti temuan antibodi terhadap gliaden, mungkin terkait dengan penyakit ini. Lainnya, seperti antibodi terhadap bakteri luminal, kemungkinan adalah peristiwa sekunder. Tantangan dekade berikutnya adalah untuk memperluas rincian ini dan untuk menghubungkan informasi dasar ini dengan proses patologis di sepanjang saluran pencernaan.
  • Interaksi antara usus dan kelainan imun tampaknya menjadi perpanjangan logis dari tesis bahwa IgA sekretori adalah garis pertahanan imunologis utama antara lingkungan luar dan tuan rumah. Jadi defisiensi imunologis, terutama IgA dan gabungan abnormalitas T- dan B-limfosit, sangat memengaruhi integritas usus. Sebaliknya, patologi usus terikat untuk mengganggu fungsi imunologis, sehingga imunitas humoral dan seluler dapat terganggu. Akhirnya, fenomena hipersensitivitas dalam usus, yang mengakibatkan gangguan kekebalan tubuh, dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Ketika alat diagnostik yang lebih baik telah tersedia, lebih banyak bukti langsung dari gangguan kekebalan hipersensitivitas telah dijelaskan.
  • Mekanisme pertahanan mukosa usus melibatkan imunitas humoral dan seluler. Keunggulan limfosit T penekan / sitotoksik dalam lapisan epitel menunjukkan bahwa limfosit interepitel berperan dalam pertahanan terhadap infeksi dalam lapisan ini. IgA sekretori merupakan respons imun humoral utama di sepanjang saluran pencernaan dan di sepanjang permukaan mukosa lainnya (saluran pernapasan, kelenjar susu, kelenjar air liur, dan kelenjar lakrimal). Sementara fungsi sekretori IgA tidak sepenuhnya dipahami, jelas bahwa itu mencegah perlekatan mikroorganisme dan racun (toksin kolera, toksin shiga, dll.) Ke sel epitel permukaan. Selanjutnya, IgA sekretori dapat berkolaborasi dengan eosinofil atau limfosit pembunuh untuk memediasi reaksi sitotoksik terhadap enteropatogen. Dengan mempelajari lebih lanjut tentang respons imun mukosa, kita harus dapat memahami hubungan antara lamina propria plasmacytosis pada penyakit radang usus dan peningkatan jumlah limfosit interepitel yang kita lihat dalam enteropati yang peka terhadap gluten, alergi atau hipersensitif salurancerna dan mekanisme patogenik yang mendasarinya.

FAKTOR PENYEBAB

  • Terdapat empat penyebab utama dari infeksi berulang, diantaranya adalah paparan dengan lingkungan, struktur dan anatomi organ tubuh, masalah sistem kekebalan tubuh (mekanisme system imun yang berlebihan (penderita alergi) atau kekurangan) atau penyakit infeksi yang tidak pernah diobati dengan tuntas. Faktor genetik diduga ikut berperanan dalam gangguan ini. Pada genetik tertentu didapatkan perbedaan pada kerentanan terhadap infeksi. Anak laki-laki lebih sering mengalami gangguan ini.
  • Faktor lingkungan seperti kontak dengan sumber infeksi sangat berpengaruh. Kelompok anak yang mengikuti sekolah prasekolah lebih sering mengalami infeksi 1,5-3 kali dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah. Perokok pasif kemungkinan dua kali lipat untuk terkena infeksi. Jumlah anggota keluarga dirumah meningkatkan terjadinya infeksi. Keluarga dengan jumlah 3 orang hanya didapatkan 4 kali infeksi pertahun sedangkan jumlah keluarga lebih dari 8 didapatkan lebih 8 kali infeksi pertahun.
  • Pada bayi dan anak pra sekolah infeksi berulang biasanya disebabkan karena kontak dengan seseorang yang sering sakit di dalam rumah. Infeksi berulang pada orang dewasa selama ini dianggap karena terlalu lelah, masuk angin, asma, alergi atau sinusitis. Memang biasanya penderita alergi mudah terkena infeksi batuk dan pilek. Tetapi seringkali gejala infeksi ini dianggap sebagai gejala alergi. Gejala umum yang sering dialami adalah badan sering pegal dan capek, nyeri tenggorok, badan meriang dan sakit kepala. Bila gangguannya ringan pada orang dewasa gangguan ini terjadi hanya dalam 2-3 hari saja, tetapi sering berulang timbul. Sehingga istilah yang sering diberikan adalah “mau flu tidak jadi”.
  • Pada anak usia sekolah seringkali orangtua menyalahkan karena teman di sekolah sering sakit. Sebenarnya bila dicermati di lingkungan sekolah memang tidak akan pernah bebas anak sakit. Dalam lingkungan kelas memang mungkin terdapat 30% anak yang mudah sakit karena daya tahan tubuhnya buruk, Tetapi sebagian besar lainnya relatif jarang sakit karena daya tahan tubuhnya baik. Sehingga yang harus diperhatikan adalah daya tahan tubuh anak bukan di salahkan sekolahnya

SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI SALURAN CERNA

  • Infeksi berulang sering dialami penderita gangguan mekanisme sistem kekebalan tubuh berupa ”overactive” system kekebalan (alergi) dan “underactive” sistem kekebalan (defisiensi imun). Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri.
  • Penderita alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali. Berdasarkan mekanisme pertahan tubuh yang dijelaskan sebelumnya tampaknya gangguan saluran cerna dan asma sering mengganggu mekanisme pertahanan tubuh. Alergi makanan tampaknya ikut berperanan penting dalam dalam gangguan ini.
  • Tampilan klinis penderita alergi atau hipersensitifitas saluran cerna adalah sering muntah, sariawan, mudah diare, buang air besar sulit, berbau dan berwarna gelap, nyeri perut berulang, mulut berbau, lidah sering putih, berpulau-pulau atau kotor. Gangguan saluran cerna pada orang dewasa selama ini disebut sebagai penyakit mag, asam lambung, telat makan, masuk angin atau panas dalam. Biasanya sebagian klinisi mendiagnosisnya dengan berbagai spektrum gangguan seperti GERD, IBS, Dispepsia, Seliak, Tukak Lambung atau Gastritis.
  • Pada anak tertentu gangguan saluran cerna ini kadang diikuti gagal tumbuh atau gangguan kenaikkan berat badan. Gejala lain yang menyertai adalah sering batuk, pilek, asma, gangguan kulit, mimisan dan gangguan alergi lainnya.
  • Bila gangguan cerna terjadi ternyata dapat meningkatkan perilaku anak seperti anak sangat aktif, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, agresif, gangguan tidur malam, ”ngompol” malam hari atu sering kencing. Gangguan motorik dan koordinasi yang dialami adalah terlambat bolak-balik, duduk dan merangkak, sering terjatuh, terlambat berjalan dan keterlambatan motorik lainnya. Sedangkan keterlambatan motorik mulut adalah gangguan mengunyah dan menelan, atau keterlambatan dan gangguan bicara.
  • Pemberian ASI ekslusif seharusnya tidak mengalami infeksi pada bayi usia di bawah 6 bulan. Tetapi ternyata masih saja terdapat bayi dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang. Penulis telah mengadakan penelitian terhadap 32 anak dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang saat usia di bawah 6 bulan di Children Allergy Center,, Rumah Sakit Bunda Jakarta. Ternyata sebagian besar penderita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna diantaranya, sering muntah, buang air besar yang sering > 4 kali perhari dan konstipasi atau sulit buang air besar.

Diagnosis

  • Diagnosis orang yang mengelamai daya tahan menurun yang disebabkan karena alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Beberepa klinik alergi melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
  • Gangguan defisiensi sistem kekebalan juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi. Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis, defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya.

Komplikasi

  • Penderita infeksi berulang sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis (amandel), otitis media (infeksi telinga), gagal tumbuh, overtreatment antibiotika, overtreatment tonsilektomi, overdiagnosis tuberkulosis. Gangguan perilaku sering menyertai penderita gangguan ini diantaranya adalah gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi dan gangguan belajar. Problem sosial yang dihadapi adalah terjadi peningkatan biaya berobat yang sangat besar dan mengganggu absensi sekolah. Gangguan ini lebih sering terjadi pada usia anak, sehingga sangat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak.

wp-1584275330484.jpg

13 Kondisi Menunjukkan Kekebalan Tubuh Tidak Bagus dan Beresiko Mudah Tertular Virus Corona dan virus lainnya

  1. Mudah mengalami infeksi virus batuk, pilek, sesak dan nyeri tenggorokan berulang pada anak usia < 1 tahun mengalami infeksi lebih dari 10 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami lebih dari 12 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami lebih dari 8 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun dan dewasa mengalami lebih dari 6-7 kali pertahun.
  2. Sering dirawat di Rumah Sakit, dalam usia < 1 tahun dirawat 3 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 4 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 3 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun atau dewasa mengalami lebih 1 kali pertahun.
  3. Infeksi virus yang berulang hilang timbul berkepanjangan berupa sering batuk, asma, pilek, nyeri tenggorokan, suara parau, mudah lemas, badan sering ngilu atau pegal atau mudah badan teraba hangat atau meriang dan kadang demam. Berbagai gejala itu sering sulit dibedakan dengan gangguan alergi padahal lebih sering terinfeksi virus
  4. Menderita nyeri telinga saat batuk atau pilek, infeksi telinga, atau Otitis media Akut (bahasa awam penyakit congek telinga)
  5. Mengalami pembesaran amandel atau tonsilitis akut atau kronis atau sinusitis. Penderita yang mengalami tonsillitis atau sinusitis hamper semuanya sebelumnya sering mengalami batuk dan pilek berulang
  6. Mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala bagian belakang
  7. Mangalami gangguan kenaikkan berat badan anak tampak kurus dan berat badan sulit naik
  8. Mengalami infeksi berat seperti pnemonis, infeksi otak, meningitis dan sebagainya
  9. Mengalami overdiagnosis TBC dan sering menerima overdiagnosis penyakit Tifus padahal tidak mengalami infeksi tersebut, karena penyakit infeksi virus berulang gejalanya mirip TBC dan Tifus kadang bila tidak cermat sulit dibedakan
  10. Sering mendapatkan overtreatment atau pemberian antibiotika yang berlebihan terlalu sering, padahal sebagian besar infeksi yang terjadi adalah infeksi virus yang seharusnya tanpa pemberian antibiotika sembuh sendiri
  11. Sering mengalami overtreatment penyakit Tifus. karena bila terjadi infeksi virus saat diperiksa tes widal nailainya tinggi padahal belum tentu terkena tifus. Sehingga beberapa penderita sering mengaku mudah terkena penyakit tifus padahal bukan lkarena infeksi tifus.
  12. Bila sakit berulang akan terjadi demam tinggi gambaran lekosit tinggi dalam darah biasanya di atas lekosit hasilnya lebih dari 15.ooo
  13. Orang dengan kekebalan tubuh menurun secara alamiah usia bayi 3 bulan, lansia dan penyakit system imun seperti HIV, AIDS, Diabetes, Kanker dan sebagainya.

PENCEGAHAN

  • Pencegahan terbaik pada penderita seperti ini bukan sekedar pemberian ASI, makan bergizi, isatirahat cukup, berolahraga, pemberian vitamin dan imunisasi influenza. Banyak kasus semua tips kesehatan tersebut dilakukan tetapi tetap saja keluhan tersebut hilang timbul.
  • Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang kita harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Bila pada anak kita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi. Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran alergi makanan tertentu harus dilakukan. Pemberian ASI ekslusif harus memperhatikan pola makan ibu saat pemberian ASI.
  • Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan penitipan anak saat ibu bekerja.
  • Pemberian imunisasi terutama influenza dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat mungkin akan memperparah masalah yang sudah ada. Pemberian imunisasi dan imunomudulator seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki. Karena, banyak kasus meskipun sudah melakukan imunsasi influenza dan minum vitamin rutin tetapi tetap saja sering sakit.
  • Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus. Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer, dan kasus ini sangat jarang terjadi

Referensi

  • Keren DF. Gastrointestinal immune system and its disorders. Monogr Pathol. 1990;(31):247-85.
  • Keren DF. Intestinal mucosal immune defense mechanisms. Am J Surg Pathol. 1988;12 Suppl 1:100-5.
  • Wiad Lek. Immunologic aspects of digestive tract diseases. 1972 Feb 15;25(4):335-9.
  • Wald ER, Guerra N, Byers C. Frequency and severity of infections in day care: three-year follow-up. J Pediatr 1991;118(4 (Pt 1)):509-14
  • Nafstad P, Hagen JA, Pie L, Magnus P, Jaakkola JJK. Day care centers and respiratory health. Pediatrics 1999;103:753-8
  • Heikkinen T, Ruuskanen O, Ziegler T, Waris M, Puhakka H. Short-term use of amoxicillin clavulanate during upper respiratory tract infection for prevention of acute otitis media. J Pediatr 1995;126:313-6
  • Uhari M, Kontiokari T, Koskela M, Niemelä M. Xylitol chewing gum in prevention of acute otitis media: double blind randomised trial. BMJ 1996;313:1180–4
  • American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Influenza Immunization of Children. Pediatrics 2004;113(5):1441-7
  • Straetemans M, Sanders EAM, Veenhoven RH, Schilder AGM, Damoiseaux RAMJ, Zielhuis GA. Pneumococcal vaccines for preventing otitis media. Cochrane Database Syst Rev. 2004;(1):CD001480
  • Palmu AA, Verho J, Jokinen J, Karma P, Kilpi TM. The seven-valent pneumococcal conjugate vaccine reduces tympanostomy tube placement in children. Ped Inf Dis J 2004;23(8):732-8. In: The Cochrane Central Register of Controlled Trials (CENTRAL) 2005, Issue 1.
  • Fahey T, Stocks N, Thomas T. Systematic review of the treatment of upper respiratory tract infection. Archives of Diseases in Childhood 1998;79:225–230
  • Judarwanto W. Recurrent Infection in Infant under 6 months old with breastfeeding.
  • Morris P. Antibiotics for persistent nasal discharge (rhinosinusitis) in children. Cochrane Database Syst Rev. 2002;(3):CD001094
  • Yang KD, Hill HR. Neutrophil function disorders: pathophysiology, prevention, and therapy. J Pediatr 1991;119:343-54.
  • Wheeler JG, Steiner D. Evaluation of humoral responsiveness in children. Pediatr Infect Dis J 1992;11:304-10.
  • Fielding JE, Phenow KJ. Health effects of involuntary smoking. N Engl J Med 1988;319:1452-60.
  • Martinez FD, Wright AL, Taussig LM, Holberg CJ, Halonen M, Morgan WJ. Asthma and wheezing in the first six years of life. The Group Health Medical Associates. N Engl J Med 1995;332:133-8.
  • Boyce WT, Chesterman EA, Martin N, Folkman S, Cohen F, Wara D. Immunologic changes occurring at kindergarten entry predict respiratory illnesses after the Loma Prieta earthquake. J Dev Behav Pediatr 1993;14:296-303.
  • Conley ME, Stiehm ER. Immunodeficiency disorders: general considerations. In: Stiehm ER, ed. Immunologic disorders in infants and children. 4th ed. Philadelphia: Saunders, 1996:201-52.
  • Moss RB, Carmack MA, Esrig S. Deficiency of IgG4 in children: association of isolated IgG4 deficiency with recurrent respiratory tract infection. J Pediatr 1992;120:16-21.

wp-1584263363361.jpg

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.