Perbedaan Hijab, Jilbab, dan Kerudung.

Perbedaan Hijab, Jilbab, dan Kerudung.

  • Hijab. Hijab berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti penghalang atau penutup. Seperti yang kita tahu, para cewek muslimah diwajibkan untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajah. Apapun yang digunakan untuk menutupi aurat inilah yang disebut dengan hijab. Tidak semua hijab itu bisa disebut jilbab, tapi jilbab itu merupakan hijab. Hijab dalam Alquran selalu digunakan dalam konsep pembatas ruang. Maka hijab dimaknai sebagai pembatas antara ahli surga dan ahli neraka. Jadi, kalau kita lihat dalam Alquran, hijab itu merupakan pembatas atau pembeda ruang antara laki-laki dan perempuan.
  • Jilbab. Jilbab juga merupakan penutup aurat untuk para muslimah. Bedanya dengan hijab, jilbab ini biasanya merupakan outfit terusan yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh dari atas hingga bawah kecuali wajah dan telapak tangan. Biasanya, jilbab ini merupakan outfit yang lebih longgar, panjang, dan lebar sehingga enggak membentuk lekuk tubuh.
  • Kerudung. Berbeda dengan hijab dan jilbab yang merupakan penutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah, kerudung ini cuma sebagai penutup kepala aja. Apapun yang bisa menutupi kepala bisa disebut kerudung, meskipun enggak sampai menutupi seluruh rambut dan juga bagian leher. Karena hanya untuk menutupi bagian kepala, kerudung biasanya memiliki panjang yang lebih pendek. Kalau penutup kepala yang panjang hingga bisa menutupi sampai bagian dada, kita mengenalnya dengan istilah khimar.

Perbedaan Hijab dan Jilbab

Jilbab itu adalah pakaian luar tertutup, ada juga yang kemudian memaknainya seperti sarung, ada juga yang memaknai seperti penutup kepala, dan ada juga yang memaknainya menutupi seluruh tubuh.

Dengan melihat makna asli dari jilbab dan hijab, sebagaimana disebutkan dalam Alquran dan kemudian ditafsirkan oleh para ulama, kita bisa mengatakan bahwa hijab dan jilbab adalah dua konsep yang berbeda.

Namun saat ini, secara sosiologis, secara realitas, kita menganggap ini dua hal yang sama. Kemudian ada pertanyaan muncul, bagaimanakah batasan berhijab yang benar menurut syariat?

Menjawab pertanyaan ini, kita tentu saja kembali pada Alquran dan hadis serta akwal atau pendapat para ulama.

Dalam Alquran, batasan berpakaian muslimah dalam Surat An-Nur disebutkan di situ, yaitu dengan mengenakan kerudung yang menutupi hingga ke dada. Dalam hadis yang menjelaskan dialog Rasulullah SAW dengan Asma’ binti Abu Bakar disebutkan bahwa tidak patut ketika seorang muslimah sudah balig maka terlihat kecuali wajah dan dua telapak tangannya.

Dari hadis ini kemudian juga dimaknai bahwa pakaian syar’i tidak boleh ketat dan tidak boleh transparan. Dan ketika kita merujuk lagi pada ayat-ayat mengenai pakaian dalam Alquran, dalam hal ini Surat Al-A’raf ayat 26 dan Al-A’raf ayat 31, kita akan mendapati kembali batasan berpakaian menurut syariat.

Berhijab yang sesuai dengan ketentuan syariat yaitu, ketika kita beribadah, gunakan pakaian yang baik, tapi jangan sampai berlebihan. Dan pakaian yang terbaik, yang substantif, sesungguhnya adalah pakaian takwa.

Kemudian dalam hadis Nabi juga disebutkan:

“Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Imam Bukhari meriwayatkan hadits secara ta’liq)

Jadi, dengan demikian, kalau kita simpulkan sesuai dengan ketentuan syariat:

  1. Menutup aurat
  2. Tidak ketat
  3. Tidak transparan
  4. Tidak berlebihan
  5. Tidak menunjukkan kesombongan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.