Kelelawar Haram Dikonsumsi, Ternyata Penyebab Penularan Virus SARS, Corona dan 137 Penyakit

Sekali lagi untuk kesekian kalinya dalam 15 tahun terakhir ini, dunia selalh dikejutkan dengan adahya pandemi virus baru yang menakutkan. Belum hilang dalam ingatan dunia dikejutkan dengan ganasnya virus SARS, kali ini juncul virus Corona yang tak kalah menakutkan. Kedua penyakit tersebut awalnya dianggap sebagai penyakit zoonosis, yaitu penyakit yamg menukar dari hewan ke manusia. Kelelawar adalah hewan yang paling banyak disebut sebagai penyebab berbagai sumber penularan infeksi virus ganas tersebut. Seiring dengan itu ternyata hewan di dalam agama Islam binatang kelelawar adalah binatang yang diharamkan untuk dikonsumsi.

Virus corona yang tersebar di China dan wabah SARS di tahun 2003 memiliki dua kesamaan. Keduanya berasal dari keluarga virus corona dan ditularkan melalui hewan ke manusia. Virus corona merupakan penyakit zoonosis. Artinya, mereka disebarkan ke manusia dari hewan. Pasar-pasar yang menempatkan manusia dengan hewan mati atau hidup di tempat yang sama, dapat menjadi kondisi di mana virus mudah tersebar. “Pasar hewan hidup yang diatur dengan buruk, dicampur dengan perdagangan satwa liar ilegal menjadi peluang bagi virus untuk menyebar dari inang satwa liar ke populasi manusia,” kata Wildlife Conservation Society, sebagaimana dikutip Business Insider.

Dalam kasus SARS, dan mungkin juga di wabah virus corona ini, kelelawar menjadi inang. Kemudian, mereka menginfeksi hewan lain melalui kotoran atau saliva dan perantara pun tanpa disadari menularkan virus tersebut kepada manusia. ” Kelelawar dan burung dianggap sebagai spesies reservoir untuk virus dengan potensi pandemi,” ungkap ahli virus di Pusat Medis Erasmus Rotterdam Belanda, Bart Haagmans.

Dalam 45 tahun terakhir, setidaknya ada tiga pandemi lainnya (selain SARS) yang ditelusuri penyebabnya dari kelelawar. Hewan-hewan tersebut juga merupakan sumber asli dari penyakit Ebola yang telah menewaskan 13.500 orang pada tahun 1976. Selain itu, juga sindrom pernapasan Timur Tengah yang lebih dikenal dengan MERS. Virus ini ditemukan di 28 negara. Kemudian, juga virus Nipah, yang memiliki tingkat kematian sebesar 78 persen.

Ilmuwan di China membandingkan kode genetik dari virus corona Wuhan dengan virus corona lainnya. Hasilnya, terdapat kesamaan paling besar pada sampel virus corona dari dua kelelawar. “Ada indikasi bahwa ini adalah virus kelelawar,” kata ilmuwan Rocky Mountain Laboratories, Vincent Munster. Sementara, menurut kelompok ilmuwan lainnya yang menyunting Journal of Medical Virology, spesies perantara dalam kasus ini diduga adalah kobra China. Alasannya, analisis genetik lebih lanjut menunjukkan bahwa blok pembangun genetik virus corona Wuhan sangat mirip dengan ular. Jadi, para peneliti berpikir bahwa populasi kelelawar dimungkinkan menginfeksi ular, yang kemudian menularkan virus tersebut kepada manusia. Namun, satu-satunya cara untuk memastikan dari mana virus ini berasal adalah dengan mengambil sampel DNA dari hewan-hewan yang dijual di pasar dan dari ular serta kelelawar di daerah tersebut.

Ancaman kelelawar Berdasarkan sebuah studi tahun 2017, kelelawar memiliki proporsi virus zoonosis yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan mamalia lain. Para ahli berfikir bahwa kondisi ini disebabkan oleh kemampuan kelelawar terbang melintasi jarak geografis yang luas dengan membawa penyakit tertentu. Kelelawar menyebarkan virus melalui kotorannya. Jika mereka menjatuhkan kotoran di buah yang akan dimakan oleh hewan, hewan pemakan pun menjadi pembawa penyakit. “Kami mengetahui cukup banyak virus dalam cetak biru WHO yang memiliki kaitan langsung ataupun tidak langsung dengan kelelawar,” kata Munster.

Maret lalu, sebuah penelitian pun memprediksi bahwa kelelawar dapat menjadi sumber wabah jenis virus corona baru di China. Pencegahan Di pasar, kedekatan antara pembeli dengan kios penjual serta hewan, baik hidup atau mati, menciptakan tempat perkembangbiakkan untuk penyakit zoonosis. “Untuk alasan budaya di wilayah ini, orang ingin melihat hewan yang mereka beli disembelih di depan mereka, sehingga mereka tahu persis produk yang mereka bayar,” tutur dokter spesialis penyakit menular di Universitas Kedokteran Chicago, Emily Langdon sebagaimana dikutip Business Insider.

Saat ini, pihak berwenang di Wuhan telah melarang perdagangan hewan hidup di pasar ini. Mereka menutup pasar hewan laut tempat diduga bermulanya wabah virus corona. Para ahli mendukung hal tersebut untuk membantu pencegahan penyebaran virus. Namun, menurut ilmuwan senior di John Hopkins University, Eric Toner, wabah dari hewan ke manusia tetap akan meningkat tanpa adanya pasar tersebut. “Saya berpikir cukup lama bahwa virus yang paling mungkin menyebabkan pandemi baru adalah virus corona,” kata Toner. Namun demikian, wabah virus corona Wuhan tidak dianggap sebagai pandemi. Sejauh ini, WHO belum menyatakan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat global. Sebab, China telah mengarantina Wuhan dan kota-kota terdekat lainnya untuk menghentikan penyebaran virus ini.

Hubungan manusia dan kelelawar tampaknya makin meregang akibat wabah virus corona. Ada dugaan bahwa inang alami virus corona Wuhan adalah kelelawar.

Penyakit zoonotik adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang tersebar antara hewan dan manusia. Ambil contoh, urine tikus menimbulkan penyakit pes dan gigitan anjing atau monyet bisa berisiko menimbulkan penyakit rabies.

Kelelawar Pembawa 137 Penyakit

Di antara hewan lain, kelelawar merupakan pembawa penyakit paling banyak. Dari total 137 penyakit, sekitar 60 penyakit bisa ‘ditransfer’ langsung atau tidak langsung dari kelelawar ke manusia. Penyakit-penyakit ini antara lain, virus corona, virus hanta, virus lyssa, virus corona SARS, virus rabies, virus lassa, virus henipah, virus ebola dan virus marburg.

Satu teori mengapa mereka begitu penuh dengan penyakit adalah karena mereka cenderung hidup dalam koloni dalam jarak dekat membuat penyebaran penyakit tidak terhindarkan.

Yang aneh mengapa hewan ini tak mati ketika memiliki virus dalam tubuhnya? Salah satu studi menunjukkan kelelawar hanya menderita sedikit dari virus yang mereka bawa karena mereka ‘membocorkan’ DNA ketika mereka terbang. Terbang adalah hal yang sangat sulit dan berat dibanding mamalia lain. Saat terbang, kelelawar akan mengeluarkan DNA ke dalam sel. Pada kebanyakan mamalia, DNA yang bocor ini akan dianggap sebagai virus dan akan diserang oleh sistem kekebalan tubuh. Untuk menghindari menyerang jaringan mereka sendiri, para peneliti percaya kelelawar telah berevolusi untuk memiliki reaksi yang lebih ringan terhadap virus. Hal ini yang dianggap peneliti akan memungkinkan virus dan kelelawar hidup bersama dengan ‘damai’ dalam satu tubuh

Hayman mengatakan ada perdebatan seputar topik tersebut tetapi jelas respon imun mereka terhadap virus berbeda dengan manusia. “Mereka tidak memasang sistem kekebalan yang memungkinkan mereka untuk sepenuhnya membunuh virus, tetapi hewan ini juga tak membuat virus bermutasi ke tingkat yang sangat tinggi.”

David Hayman, profesor dengan spesialisasi penyakit zoonotik di Massey University berkata peluang penyakit dari kelelawar ke manusia meningkat seiring pertambahan populasi manusia. “Ini benar-benar berhubungan. Pada akhirnya akan berasal dari kelelawar, hanya apakah itu berasal dari spesies lain antara kelelawar dan manusia,” kata dia seperti dilansir dari Newsroom.

Berbeda dengan peneliti lain, menurut dia, virus corona tipe baru ini tidak datang dari kelelawar, melainkan dari perantara atau vektor lainnya. “Virus-virus ini telah berada dalam kelelawar selama ribuan tahun, dan tidak menyebabkan masalah tetapi apa yang terjadi di lingkungan mengarah pada peningkatan peluang penyebaran virus,” kata Hayman.

Misalnya, daging kelelawar yang dijual untuk konsumsi di pasar basah, di mana mereka sering dibunuh di tempat dan ada kemungkinan virus melompat langsung dari kelelawar ke manusia. “Ini seperti melempar dadu. Ketika ada momen di mana ada kelelawar yang terinfeksi yang bersentuhan dengan orang yang rentan dan mereka benar-benar menularkan [virus] dan orang atau hewan itu terinfeksi dan mulai mereplikasi sel-sel itu, ada banyak peristiwa kebetulan.”

Berbagi penyakit dengan hewan lainnya

Kelelawar menyebar penyakit dengan berbagai cara. Buah yang digigit kelelawar meninggalkan saliva (liur) dan kemudian terbawa spesies lain. Urine atau kotoran yang jatuh di rumput bisa termakan hewan lain, atau kelelawar itu sendiri baru kemudian termakan hewan lain.

Di Australia, kelelawar buah menularkan virus hendra ke kuda melalui urine dan kotoran. Middle East Respiratory Syndrome (MERS) sebenarnya dari kelelawar sebelum ‘melompat ke unta lalu manusia. Virus corona di China terpusat di sekitar pasar ikan yang juga menjual hewan lain. Tampaknya kecil kemungkinan virus berpindah dari kelelawar ke boga bahari alias seafood.

Melihat hal ini, bukan berarti membunuh semua kelelawar bakal menyelesaikan persoalan. Kelelawar punya banyak peran di alam seperti membantu proses penyerbukan bunga, menyebar benih, kotorannya jadi pupuk dan mereka memakan banyak serangga. Di Madagaskar, kelelawar menyerbuki pohon baobab dan di Meksiko mereka menyerbuki agave, bahan utama tequila. Bisa dibayangkan ekosistem bisa hancur jika mereka musnah.

Makan Kelelawar Haram

Menurut Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Maulana Hasanuddin, MA dan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Drs H Sholahudin al-Aiyubi, MSi melalui Jurnal Halal No. 105 edisi Januari-Februari 2014 belum ada keterangan yang jelas mengenai hukum makan kelelawar dalam Al Quran. Tetapi Imam Syihabuddin asy-Syafi’i dalam kitab ‘at-Tibyan li Maa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayawan’ serta Imam Nawawi dalam ‘Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab’ mengatakan dalam mazhab Syafi’i, kelelawar haram dikonsumsi.

Berdasarkan hadist riwayat Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW melarang manusia untuk membunuh kelelawar. Imam Syihabuddin pun menyimpulkan bahwa apa yang tak boleh dibunuh, berarti tidak boleh dimakan. Selain itu, dalam hadist riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW melarang mengonsumsi makanan dari binatang buas pemangsa yang memiliki taring, dan semua burung yang memiliki cakar, seperti elang, gagak, dan juga kelelawar.

Hanya saja, terdapat perbedaan pendapat hukum memakan kelelawar untuk obat. Ulama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengharamkan kelelawar untuk dikonsumsi, termasuk untuk pengobatan. Berdasarkan hadist riwayat Bukhari dan Baihaqi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagimu pada apa-apa yang diharamkan Allah atasmu.”
Namun, sebagian ulama seperti Yusuf al-Qaradhawi berpendapat hukum makan kelelawar dalam Islam untuk obat diperbolehkan jika dalam kondisi darurat. Artinya, tidak ada lagi obat halal yang ampuh mengatasi penyakit yang diderita.

Kalau tidak menggunakan makanan haram, penyakitnya akan semakin parah, tak bisa sembuh, atau berakibat kematian. Namun, kalau masih ada alternatif (halal), tidak ada keringanan maupun toleransi. Komisi Fatwa MUI mengingatkan agar masyarakat selalu mengonsumsi obat atau makanan yang telah jelas kehalalannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.