Ketika sujud shalat , manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ketika sujud shalat , manakah yang terlebih dahulu menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ada dua hadits yang berbeda dalam masalah ini. Hadits pertama: َؿاَق َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ ْنَع : َملَّالَسَو ِوْيَلَع ُولَّاللا ىلَّالَص ولَّاللا ُؿوُسَر َؿاَق :{ ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ ْعَضَيْلَو ، ُيرِعَبْلا ُؾُ ْػبَػ اَمَ ْؾُ ْػبَػ َلاَف ، ْمُ ُدَ َأ َدَ َس اَذإ}

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang kamu sujud, maka janganlah ia turun seperti turunnya unta, hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud).

Hadits Kedua:

لَّاِبِلَّانلا ُتْ َأَر َؿاَق ٍ ْ ُ ِنْب ِلِئاَو ْنَع-ملسو ويلع للها ىلص – ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ َعَفَر َضَ َػ اَذِإَو ِوْ َدَ َلْبَػق ِوْيَػتَبْ ُر َعَضَو َدَ َس اَذِإ. Dari Wa’il bin Hujr, ia berkata: “Saya melihat Rasulullah Saw, ketika sujud ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Ketika bangun ia mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah).

Ulama berbeda pendapat dalam mengamalkan kedua hadits ini. Imam ash-Shan’ani berkata: دِّيِعاَزْوَْلأاَو ، ٍكِلاَم ْنَع ٌةَ اَوِرَو ، ُةلَّا ِوَداَْتعا َبَىَ َف ، َكِلَذ ِفي ُءاَمَلُعْلا َفَلَػتْخا ْدَقَو : ُّيِعاَزْوَْلأا َؿاَق لَّاتََّ ، ِث ِدَْتضا اَ َِ ِلَمَعْلا َلذإ : اَنْ َرْدَأ ْمِ ِبَ ُر َلْبَػق ْمُ َػ ِدْ َأ َفوُعَضَ َسالَّانلا : دُواَد ِبيَأ نْبا َؿاَقَو : ِث ِدَْتضا ِباَحْصَأ ُؿْوَػق َوُىَو Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: al-Hadawiyah, satu riwayat dari Imam Malik dan al-Auza’i mengamalkan hadits yang menyatakan lebih mendahulukan tangan daripada lutut. Bahkan Imam al-Auza’i berkata: “Kami dapati orang banyak meletakkan tangan mereka sebelum lutut mereka”. Imam Abu Daud berkata: “Ini adalah pendapat para Ahli Hadits. ٍكِلاَم ْنَع ُةَ اَوِرَو ، ُةلَّايِفَنَْتضاَو ، ُةلَّايِعِفالَّا لا ْتَبَىَذَو : ٍلِئاَو ِث ِدَِبِ ِلَمَعْلا َلذإ

Mazhab Syafi’i, Hanafi dan satu riwayat dari Imam Malik menyebutkan bahwa mereka mengamalkan hadits riwayat Wa’il (mendahulukan lutut daripada telapan tangan). Pendapat ulama dalam masalah ini: ُّيِوَولَّاػنلا َؿاَقَو : َث ِدَ اوُحلَّاجَر ِبَىْ َمْلا اَ َى َلْىَأ لَّانِكَلَو ، ِ َخْلآا ىَلَع ِْ َػبَىْ َمْلا ِدَ َأ ُحيِجْ َػت ُ َ ْظَ َلا ” ٍلِئاَو ” ِفي اوُلاَقَو ، ” َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ : ” ِفاَ ْمَْلأا ُوْنَع َيِوُر ْدَق ْذإ ، ٌبِ َطْضُم ُولَّا إ . َؿاَقَو اَ يِف َؿاَطَأَو ِمدِّيَ ْلا ُنْبا َ لَّا َ َو : ِث ِدَ ِفي لَّافإ ” َةَ ْػ َ ُى ِبيَأ ” َؿاَق ُثْيَ ، يِوالَّا لا ْنِم اًبْلَػق ” : ِوْيَػتَبْ ُر َلْبَػق ِوْ َدَ ْعَضَيْلَو ” ُوَلْصَأ لَّافِإَو ” : ِوْ َدَ َلْبَػق ِوْيَػتَبْ ُر ْعَضَيْلَو ” َؿاَق ، : ُوُلْوَػق َوُىَو ، ِث ِدَْتضا ُؿلَّاوَأ ِوْيَلَع ُّؿُدَ َو ” : ُيرِعَبْلا ُؾُ ْػبَػ اَمَ ُؾُ ْػبَػ َلاَف ” ِؾوُ ُػب ْنِم َؼوُ ْعَمْلا لَّافِ َف ِْ َلْجدِّ لا ىَلَع ِنْ َدَيْلا ُ ِدْ َػت َوُى ِيرِعَبْلا

Imam an-Nawawi berkata: “Tidak kuat Tarjih antara satu mazhab dengan mazhab yang lain dalam masalah ini, akan tetapi Mazhab Syafi’I menguatkan hadits Wa’il (mendahulukan lutut daripada tangan). Mereka berkata tentang hadits riwayat Abu Hurairah bahwa hadits itu Mudhtharib; karena ia meriwayat kedua cara tersebut.

Imam Ibnu al-Qayyim meneliti dan membahas secara panjang lebar, ia berkata: “Dalam hadits riwayat Abu Hurairah terdapat kalimat yang terbalik dari perawi, ia mengatakan: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut”, kalimat asalnya adalah: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”. Ini terlihat dari lafaz awal hadits: “Janganlah turun diketahui bahwa turunnya unta itu adalah dengan cara lebih mendahulukan tangan (kaki depan) daripada kaki belakang.

Pendapat Ibnu Baz: ي لا وى ا ىو ، و د لبق ويتب ر عض لب فو خآ ؿاقو ويتب ر لبق و د عض م ضعب ؿا ف ملعلا لىأ نم يرث ىلع ا ى لكش ف نب لئاو ث دتض فاوتظا وى ا ىو يرعبلا فلاخ د ف ويتب ر ىلع نم تظا ؾ ب اذ ف و ديب أدب يرعبلا ؾو ب فلأ يرعبلا ؾو ب فلا عفر اذ ف عو تظا وى ا ى ضرلأا ىلع اض أ وت بج عض ثُ ضرلأا ىلع و د عض ثُ لاوأ ويتب ر ىلع د س فأ باوصلا وى ا ىو امأو ، ث دتضا ب عمتصا وىو ملسو ويلع للها ىلص بِنلا نع ةنسلا وب تءاج ي لا عو تظا وى ا ى ض ن ثُ و د ثُ لاوأ و جو عفر ة ى بيأ ث د في ولوق : فأ باوصلا ا إ للها وتزر مي لا نبا كلذ ذ ام بلا ا و أ ملعأ للهاو ىاظلاف ويتب ر لبق و د عضيلوهانعم في ءاج امو نب لئاو ث د عم فت تَّ و ولوأ ث دتضا خآ فاو تَّ و د لبق ويتب ر عض

Masalah ini menjadi polemik di kalangan banyak ulama, sebagian mereka mengatakan: meletakkan kedua tangan sebelum lutut, sebagian yang lain mengatakan: meletakkan dua lutut sebelum kedua tangan, inilah yang berbeda dengan turunnya unta, karena ketika unta turun ia memulai dengan kedua tangannya (kaki depannya), jika seorang mu’min memulai turun dengan kedua lututnya, maka ia telah berbeda dengan unta, ini yang sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr (mendahulukan lutut daripada tangan), inilah yang benar; sujud dengan cara mendahulukan kedua lutut terlebih dahulu, kemudian meletakkan kedua tangan di atas lantai, kemudian menempelkan kening, inilah yang disyariatkan. Ketika bangun dari sujud, mengangkat kepala terlebih dahulu, kemudian kedua tangan, kemudian bangun, inilah yang disyariatkan menurut Sunnah dari Rasulullah Saw, kombinasi antara dua hadits.

Adapun ucapan Abu Hurairah: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum lutut, zahirnya –wallahu a’lam- terjadi pembalikan kalimat, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim –rahimahullah-. Yang benar: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, agar akhir hadits sesuai dengan awalnya, agar sesuai dengan hadits riwayat Wa’il bin Hujr, atau semakna dengannya.

Pendapat Ibnu ‘Utsaimin: ولوأو ث دتضا خآ باطت فأ ا درأ اذإ باوصلا فوك ئنيحف”و د لبق ويتب ر عضيلو” تلق ام تب لا لبق ن ديلا عضو ول و لأ ؛يرعبلا ؾبر ام ؾبرل .فاضقانتم ه خآو ث دتضا ؿوأ فوك ئني و . … اىاتش ةلاسر ةوخلأا ضعب فلأ دقو(دو سلا في ن ديلا لبق تب لا عضو في دوبعتظا حتف) دافأو ويف داجأو . …و د لبق ويتب ر فاس لإا عض فأ دو سلا في ملسو ويلع للها ىلص ؿوس لا ا مأ تيلا ةنسلا ف ف ا ى ىلعو.

Ketika itu maka yang benar jika kita ingin sesuai antara akhir dan awal hadits: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”, karena jika seseorang meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, sebagaimana yang saya nyatakan, pastilah ia turun seperti turunnya unta, maka berarti ada kontradiktif antara awal dan akhir hadits. Adalah salah seorang ikhwah menulis satu risalah berjudul Fath al-Ma’bud fi Wadh’i ar-Rukbataini Qabl al-Yadaini fi as-Sujud, ia bahas dengan pembahasan yang baik dan bermanfaat. Dengan demikian maka menurut Sunnah yang diperintahkan Rasulullah Saw ketika sujud adalah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.