Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?

Ketika akan tegak berdiri, apakah posisi telapak tangan ke lantai atau dengan posisi tangan mengepal?

َـاَق لَّاُثُ ِضْرَْلأا ىَلَع َدَمَتْعاَو َسَلَج ِةَيِ الَّاثلا ِةَدْ لَّاسلا ْنِم ُوَسْأَر َعَفَر اَذِ َف Dari Malik bin al-Huwairits, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk, dan bertumpu ke tanah (lantai), kemudian berdiri”. (HR. al-Bukhari). Ketika Rasulullah Saw akan bangun berdiri dari duduk istirahat tersebut, ia bertumpu dengan kedua tangannya, apakah bertumpu tersebut dengan telapak tangan ke lantai atau dengan dua tangan terkepal?

Sebagian orang melakukannya dengan tangan terkepal, berdalil dengan hadits riwayat Ibnu Abbas: ُنِجاَعْلا ُعَضَ اَمَ ِضْرَْلأا ىَلَع ِوْ َدَ َعَضَو ِوِتَلاَص ِفي َـاَق اَذإ َفاَ َملَّالَسَو ِوْيَلَع ُولَّاللا ىلَّالَص ِولَّاللا َؿوُسَر لَّافَأ “Sesungguhnya apabila Rasulullah Saw akan berdiri ketika shalat, beliau meletakkan kedua tangannya ke tanah (lantai) seperti orang yang membuat adonan tepung”. Berikut komentar ahli hadits tentang hadits ini: ِطيِسَوْلا ىَلَع ِوِمَلاَ ِفي ِحَلالَّاصلا ُنْبا َؿاَق : ِوِب لَّاجَتُْ ْفَأ ُزوَُيَ َلاَو ُؼَ ْعُػ َلاَو ُّحِصَ َلا ُث ِدَْتضا اَ َى . ِبلَّا َ ُمْلا ِحْ َش ِفي ُّيِوَولَّاػنلا َؿاَقَو : ِحيِ ْنلَّاػتلا ِفي َؿاَقَو ، ُوَل َلْصَأ َلا ٌلِطاَب ْوَأ ، ٌفيِعَض ٌث ِدَ اَ َى : ِحْ َش ِفي َؿاَقَو ، ٌلِطاَب ٌفيِعَض ِبلَّا َ ُمْلا : َؿاَق ، اَ ْػيَلَع اًدِمَتْعُم ُـوُ َػ َو ِوْ َدَ ُضِبْ َػ يِ لَّالا َوُىَو ُّحَصَأ ِفوُّنلاِبَو ِيالَّاللاِب َوُىَو ، ِوِسْرَد ِفي َؿاَق ُولَّا َأ دِِّلراَلَ ْلا ْنَع َلِ ُ : لَّاحَص ْوَلَو َؿاَق لَّاُثُ ِ ِ َعْلا َنِجاَع ُداَ ُمْلا َسْيَلَو ، ُيرِبَكْلا ُخْيلَّا لا َوُىَو ، ُلِجاَعْلا ُدِمَتْعَػ اَمَ ِوْ َدَ ِنْطَبِب اًدِمَتْعُم َـاَق ُهاَنْعَم َفاَكَل ُث ِدَْتضا : اَم ِنيْعَػ لَّافَأ ، ِحَلالَّاصلا ُنْبا ُهَ َ َذ. اَنْلُػق اَذإ الَّامَ َف ، ِيالَّاللاِب ُلِجاَعْلا ْوَأ ، ِفوُّنلاِب ُنِجاَعْلا َوُى ْلَى ِوِسْرَد ِفي ىَكَ لَّاِلراَلَ ْلا : ُنِجاَع َوُ َػف ِفوُّنلاِب ُولَّا إ ِحَلالَّاصلا ُنْبا َؿاَق ، ِضْرَْلأا ىَلَع ِوْيَػتَ اَر ُعَضَ َلاَو ُعِفَتْ َػ َو ، اَ ْػيَلَع ُئِكلَّاتَػ َو اَ ُّمُضَ َو ِوْيلَّافَ َعِباَصَأ ُضِبْ َػ ِلْبُْتطا : ْنِم ٌيرِثَ اَ َِ َلِمَعَو ِةَ ُّللا ِفي َنِجاَعْلا لَّافِ َف ، ُهاَنْعَم َكِلَذ ْنُكَ َْلد َتَبَػث ْوَلَو ، ْتُبْثَػ َْلد ٍث ِدَِبِ ، اَِ َدْ َع َلا ِةَلالَّاصلا ِفي ٍةلَّايِعْ َش ٍةَئْيَى ُتاَبْػثإ َوُىَو ، ِمَ َعْلا :

42 Dipersembahkan untuk ummat oleh Tafaqquh Study Club | Website: http://www.tafaqquhstreaming.com Silakan menyebarluaskan e-book ini dengan menyertakan sumber ُ ِعالَّا لا َؿاَق ، ُّنِسُمْلا ُلُجلَّا لا َوُى : َؿاَق َنِجاَعَو َتْنُ ِءْ َمْلا ِؿاَصِخ لَّا َ َف : ِ ِ َعْلا ِنِجاَع ْنِم اًذوُخْ َم َكِلَ ِب َِبرِكْلا ُفْصَو َفاَ ْفِ َفاَ ِعِباَصَأ دِّمَض ِةلَّايِفْيَ ِفي َلا ِنْ َدَيْلا ِعْضَو َدْنِع ِداَمِتْعِلاا ِةلَّادِش ِفي ُويِبْ لَّاتلاَف Imam Ibnu ash-Shalah berkata dalam komentarnya terhadap al-Wasith: “Hadits ini tidak shahih, tidak dikenal, tidak boleh dijadikan sebagai dalil”. Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Ini hadits dha’if, atau batil yang tidak ada sanadnya”. Imam an-Nawawi berkata dalam at-Tanqih: “Haditsh dha’if batil”.

Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Diriwayatkan dari Imam al-Ghazali, ia berkata dalam kajiannya, kata ini dengan huruf Zay [ ُلِجاَعْلا] (orang yang lemah) dan huruf Nun [ ُنِجاَعْلا] (orang yang membuat adonan tepung), demikian yang paling benar, yaitu orang yang menggenggam kedua tangannya dan bertumpu dengannya. Andai hadits ini shahih, pastilah maknanya: berdiri dengan bertumpu dengan telapak tangan, sebagaimana bertumpunya orang yang lemah, yaitu orang yang telah lanjut usia, bukan maksudnya orang yang membuat adonan tepung. Al-Ghazali menceritakan dalam kajiannya, apakah dengan huruf Nun [ ُنِجاَعْلا] (orang yang membuat adonan tepung), atau dengan huruf Zay [ ُلِجاَعْلا] (orang yang lemah). Jika kita katakan dengan huruf Nun, berarti orang yang membuat adonan roti, ia menggenggam jari-jemarinya dan bertumpu dengannya, ia bangkit ke atas tanpa meletakkan telapak tangannya ke tanah (lantai). Ibnu ash-Shalah berkata: “Perbuatan seperti ini banyak dilakukan orang non-Arab, menetapkan suatu posisi dalam shalat, bukan melaksanakannya, berdasarkan hadits yang tidak shahih. Andai hadits tersebut shahih, bukanlah seperti itu maknanya. Karena makna [ َنِجاَعْلا ] menurut bahasa adalah orang yang telah lanjut usia. Penyair berkata: ‘Sejelek-jelek perilaku seseorang adalah engkau dan orang lanjut usia’. Jika tua renta disifati dengan itu, diambil dari kalimat * ِ ِ َعْلا ِنِجاَع ] (tukang buat roti yang membuat adonan), penyamaan itu pada kuatnya bertumpu ketika meletakkan kedua tangan, bukan pada cara mengepalkan jari jemari

Komentar Ibnu ‘Utsaimin tentang masalah ini: ث و نب كلام و- ًاض أ – ملسو ويلع للها ىلص بِنلا فأ ذ[و د ىلع دمتعا ـو فأ دارأ اذإ فا ] ةفص ىلع وى لى نكلويأ ،ث دتضا ا ى ةحص عوملمجا في للها وتزر يوونلا ك أ دقو ،كلذ في دراولا ث دتضا ةحص ىلع نيبن ا ف ؟لا ـأ نجاعلا 43 وححص ن خ تتظا ضعبو ،نجاعلا . ه خأو بر و لأ ؛سليَ و أ ملسو ولآ ىلعو ويلع للها ىلص بِنلا ؿا نم ظ ي لاف ٍل ىلعو كلذ فوكيل و د ىلع دمتعا ـو و ض ن فأ دارأ اذإ ثُ سليَ فاكف ،ـاي لا لذإ دو سلا نم ًاماتد ضو نلا عيطتس لا فاكف ،محللا ةسلتصا ه ى في حجا لا ؿو لا فا ا تعو ،ملسو ولآ ىلعو ويلع للها ىلص بِنلا ؿا نم ىاظلا وى ا ى ،ول ل سأ-نيعأ : ةسلجة اترسلاا – دنع دمتع فأ لذإ جات ا اذإ ثُ ،سل يلف كلذ وبشأ ام وأ ويتب ر في لدأ وأ ض م وأ ل ث وأ بركل ا يلإ جات ا فإ و أنيع ،عباصلأا رو ظ ىلع دمتعا ءاوس ،ت ا ةفص يأ ىلع دمتعيلف و د ىلع ـاي لا : ىلع وأ ا يلع دمتعاو ا كى وعباصأ عتردمتع لاف جت لد فإو ،دمتعيلف دامتعلاا لذإ جات ا اذإ م تظا ،كلذ يرا وأ ،وت ار.

Malik bin Huwairits juga menyebutkan bahwa Rasulullah Saw: apabila ia akan berdiri, ia bertumpu dengan kedua tangannya. Apakah bertumpu ke lantai itu dengan mengepalkan tangan atau tidak? Ini berdasarkan keshahihan hadits yang menyatakan tentang itu, Imam an-Nawawi mengingkari keshahihan hadits ini dalam kitab al-Majmu’, sedangkan sebagian ulama muta’akhirin (generasi belakangan) menyatakan hadits tersebut shahih.

Bagaimana pun juga, yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw bahwa beliau duduk ketika telah lanjut usia dan badannya berat, beliau tidak sanggup bangun secara sempurna dari sujud untuk tegak berdiri, maka beliau duduk, kemudian ketika akan bangun dan tegak berdiri, beliau bertumpu ke kedua tangannya untuk memudahkannya, inilah yang jelas dari kondisi Rasulullah Saw.

Oleh sebab itu pendapat yang kuat tentang duduk istirahat, jika seseorang membutuhkannya karena usia lanjut atau karena penyakit atau sakit di kedua lututnya atau seperti itu, maka hendaklah ia duduk. Jika ia butuh bertumpu dengan kedua tangannya untuk dapat tegak berdiri, maka hendaklah ia bertumpu seperti yang telah disebutkan, apakah ia bertumpu dengan bagian punggung jari jemari, maksudnya mengepalkan tangan seperti ini, kemudian bertumpu dengannya, atau bertumpu dengan telapak tangan, atau selain itu. Yang penting, jika ia perlu bertumpu, maka hendaklah ia bertumpu. Jika ia tidak membutuhkannya, maka tidak perlu bertumpu

Sumber : Imam ash-Shan’ani, Subul as-Salam: 2/152.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.