Inspirasi Luarbiasa Hebat Abbad Bin Bisyr Al Anshari Ra

Inspirasi Luarbiasa Hebat Abbad Bin Bisyr Al Anshari Ra

Dalam perjalanan pulang dari Perang Dzatur Riqa, Nabi SAW memutuskan untuk bermalam di suatu tempat sambil beristirahat. Beliau menawarkan kalau ada yang bersedia untuk menjaga keselamatan pasukan malam itu. Berdirilah satu orang Anshar, yakni Abbad bin Bisyr, dan seorang Muhajirin, yakni Ammar bin Yasir. Rasulullah SAW menyuruh mereka berdua untuk berjaga di suatu tempat yang disebut pintu syi’b. Mereka berduapun berangkat ke sana.

Sampai di pintu syi’b tersebut, Abbad bertanya kepada Ammar, “Pada bagian malam manakah engkau inginkan aku berjaga, awal malam atau akhir malam?”

“Biarlah aku berjaga di akhir malam,” Kata Ammar, kemudian ia tidur.

Sambil berjaga, Abbad mengerjakan shalat malam. Ternyata malam itu ada seorang musyrik yang mengikuti mereka dengan diam-diam. Tetapi lelaki musyrik dari Nakhl ini lebih ke masalah pribadi, bukan permusuhannya kepada Islam. Dia ingin membalas dendam, karena istrinya telah disakiti oleh salah seorang anggota pasukan muslim.

Begitu melihat dua orang yang berjaga, dimana salah satunya sedang tidur, Lelaki musyrik itu melepas anak panahnya dan mengenai Abbad yang sedang shalat. Walau terpanah, Abbad tidak menghentikan shalatnya. Ia mencabut panah tersebut dan terus shalat. Lelaki musyrik itu memanah lagi dan mengenainya, tetapi itupun belum menghentikan Abbad bin Bisyr dari shalatnya. Pada kali ketiga ketika panah mengenainya, Abbad ruku dan sujud, kemudian membangunkan Ammar dan berkata, “Bangun dan duduklah, aku telah terpanah dan tertahan di tempatku!”

Lelaki musyrik tersebut telah melompat keluar dari persembunyiannya untuk menyerang, tetapi begitu melihat dua orang yang bersiap dan mengetahui kehadirannya, ia segera melarikan diri. Melihat keadaan Abbad yang berlumuran darah, Ammar berteriak kaget, “Subkhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku saat pertama ia memanahmu?”

“Saat itu aku sedang membaca satu surat,” Kata Abbad menjelaskan, “Aku tidak suka menghentikan membacanya kecuali telah tamat satu surattersebut. Demi Allah, jika tidak karena khawatir melalaikan tugas Nabi SAW untuk berjaga, aku lebih suka mati daripada menghentikan bacaan qur’anku tersebut.”

Dalam suatu riwayat dijelaskan, saat itu Abbad sedang membaca surat al Kahfi.

Hari-hari menjelang perang Yamamah di masa kekhalifahan Abu Bakar, Abbad bin Bisyr menemui Abu Sa’id al Khudri, salah seorang sahabat Nabi SAW lainnya yang banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau, kemudian berkata, “Hai Abu Sa’id, semalam aku bermimpi seolah langit terbelah, kemudian mengatup (menelan) diriku. Insya Allah, itu adalah tanda kesyahidan.”

“Demi Allah, engkau bermimpi yang baik…” Kata Abu Sa’id al Khudri.

Bertiga dengan Abu Dujanah dan Barra bin Malik, ia memimpin sekitar 400 orang-orang Anshar dalam perang Yamamah tersebut. Mereka bertiga dianggap yang paling pemberani, sehingga bisa memberi teladan dan menguatkan hati anggota pasukan lainnya. Abbad berseru, “Pecahkan sarung pedang kalian, dan jadilah kalian orang-orang istimewa yang berbeda dengan kebanyakan orang…!”

Merekapun berperang dengan perkasa, dan terus maju hingga berhenti di kebun Musailamah, di Qana Hajar, pertahanan terakhir dimana akhirnya Musailamah terbunuh oleh tombaknya Wahsyi, dan akhirnya pasukan nabi palsu dan pendusta besar tersebut dikalahkan. Abbad sendiri akhirnya menemui syahidnya dengan luka-luka yang begitu banyak, termasuk di wajahnya, sehingga ia sulit dikenali, kecuali dengan tanda yang ada di tubuhnya.Abbad Bin Bisyr Al Anshari Ra
Dalam perjalanan pulang dari Perang Dzatur Riqa, Nabi SAW memutuskan untuk bermalam di suatu tempat sambil beristirahat. Beliau menawarkan kalau ada yang bersedia untuk menjaga keselamatan pasukan malam itu. Berdirilah satu orang Anshar, yakni Abbad bin Bisyr, dan seorang Muhajirin, yakni Ammar bin Yasir. Rasulullah SAW menyuruh mereka berdua untuk berjaga di suatu tempat yang disebut pintu syi’b. Mereka berduapun berangkat ke sana.
Sampai di pintu syi’b tersebut, Abbad bertanya kepada Ammar, “Pada bagian malam manakah engkau inginkan aku berjaga, awal malam atau akhir malam?”
“Biarlah aku berjaga di akhir malam,” Kata Ammar, kemudian ia tidur.
Sambil berjaga, Abbad mengerjakan shalat malam. Ternyata malam itu ada seorang musyrik yang mengikuti mereka dengan diam-diam. Tetapi lelaki musyrik dari Nakhl ini lebih ke masalah pribadi, bukan permusuhannya kepada Islam. Dia ingin membalas dendam, karena istrinya telah disakiti oleh salah seorang anggota pasukan muslim.
Begitu melihat dua orang yang berjaga, dimana salah satunya sedang tidur, Lelaki musyrik itu melepas anak panahnya dan mengenai Abbad yang sedang shalat. Walau terpanah, Abbad tidak menghentikan shalatnya. Ia mencabut panah tersebut dan terus shalat. Lelaki musyrik itu memanah lagi dan mengenainya, tetapi itupun belum menghentikan Abbad bin Bisyr dari shalatnya. Pada kali ketiga ketika panah mengenainya, Abbad ruku dan sujud, kemudian membangunkan Ammar dan berkata, “Bangun dan duduklah, aku telah terpanah dan tertahan di tempatku!”
Lelaki musyrik tersebut telah melompat keluar dari persembunyiannya untuk menyerang, tetapi begitu melihat dua orang yang bersiap dan mengetahui kehadirannya, ia segera melarikan diri. Melihat keadaan Abbad yang berlumuran darah, Ammar berteriak kaget, “Subkhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku saat pertama ia memanahmu?”
“Saat itu aku sedang membaca satu surat,” Kata Abbad menjelaskan, “Aku tidak suka menghentikan membacanya kecuali telah tamat satu surattersebut. Demi Allah, jika tidak karena khawatir melalaikan tugas Nabi SAW untuk berjaga, aku lebih suka mati daripada menghentikan bacaan qur’anku tersebut.”
Dalam suatu riwayat dijelaskan, saat itu Abbad sedang membaca surat al Kahfi.
Hari-hari menjelang perang Yamamah di masa kekhalifahan Abu Bakar, Abbad bin Bisyr menemui Abu Sa’id al Khudri, salah seorang sahabat Nabi SAW lainnya yang banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau, kemudian berkata, “Hai Abu Sa’id, semalam aku bermimpi seolah langit terbelah, kemudian mengatup (menelan) diriku. Insya Allah, itu adalah tanda kesyahidan.”
“Demi Allah, engkau bermimpi yang baik…” Kata Abu Sa’id al Khudri.
Bertiga dengan Abu Dujanah dan Barra bin Malik, ia memimpin sekitar 400 orang-orang Anshar dalam perang Yamamah tersebut. Mereka bertiga dianggap yang paling pemberani, sehingga bisa memberi teladan dan menguatkan hati anggota pasukan lainnya. Abbad berseru, “Pecahkan sarung pedang kalian, dan jadilah kalian orang-orang istimewa yang berbeda dengan kebanyakan orang…!”
Merekapun berperang dengan perkasa, dan terus maju hingga berhenti di kebun Musailamah, di Qana Hajar, pertahanan terakhir dimana akhirnya Musailamah terbunuh oleh tombaknya Wahsyi, dan akhirnya pasukan nabi palsu dan pendusta besar tersebut dikalahkan. Abbad sendiri akhirnya menemui syahidnya dengan luka-luka yang begitu banyak, termasuk di wajahnya, sehingga ia sulit dikenali, kecuali dengan tanda yang ada di tubuhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.