Bagaimana shalat orang yang tidak thuma’ninah?

Bagaimana shalat orang yang tidak thuma’ninah?

Tidak sah, karena Rasulullah Saw memerintahkan agar orang yang tidak thuma’ninah mengulangi shalatnya. ِولَّاللا ُؿوُسَرَو ىدِّلَصُ َدِ ْسَمْلا َلَخَد ًلاُجَر لَّافَأ َةَ ْػ َ ُى ِبََأ ْنَع – ملسو ويلع للها ىلص – ُوَل َؿاَ َػف ِوْيَلَع َملَّالَسَف َءاَ َف ، ِدِ ْسَمْلا ِةَيِ اَ ِ « دِّلَصُت َْلد َكلَّا ِ َف ، دِّلَصَف ْعِجْرا » . َؿاَ َػف َملَّالَس لَّاُثُ ، ىلَّالَصَف َعَجَ َػف « دِّلَصُت َْلد َكلَّا ِ َف ، دِّلَصَف ْعِجْرا ، َكْيَلَعَو » . ِنِْمِلْعَ َف ِةَثِلالَّاثلا ِ َؿاَق . َؿاَق « ، اًعِ اَر لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْعَ ْرا لَّاُثُ ، ِفآْ ُ ْلا َنِم َكَعَم َ لَّاسَيَػت اَِبِ ْأَ ْػقاَو ، ْ دِّػبَكَف َةَلْػبِ ْلا ِلِبْ َػتْسا لَّاُثُ ، َءوُضُوْلا ِغِبْسَ َف ِةَلالَّاصلا َلذِإ َتْمُق اَذِإ لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْدُ ْسا لَّاُثُ ، اًسِلاَج لَّانِئَمْطَتَو َىِوَتْسَت لَّاتََّ ْعَفْرا لَّاُثُ اًدِجاَس ، لَّانِئَمْطَت لَّاتََّ ْدُ ْسا لَّاُثُ ، اًمِئاَق َؿِدَتْعَػت لَّاتََّ َكَسْأَر ْعَفْرا لَّاُثُ اَ دِّلُ َكِتَلاَص ِ َكِلَذ ْلَعْػفا لَّاُثُ ، اًمِئاَق َىِوَتْسَت لَّاتََّ ْعَفْرا لَّاُثُ ، اًدِجاَس ».

Dari Abu Hurairah, seorang laki-laki masuk ke dalam masjid, ia melaksanakan shalat, Rasulullah Saw berada di sudut masjid. Rasulullah Saw datang, mengucapkan salam kepadanya dan berkata: “Kembalilah, shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”. Ia kembali dan melaksanakan shalat.

Rasulullah Saw berkata: “Engkau mesti kembali, shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”. Pada kali yang ketiga, ia berkata: “Ajarkanlah kepada saya”.

Rasulullah Saw berkata: “Jika engkau akan melaksanakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’, kemudian menghadaplah ke kiblat, bertakbirlah. Bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’an. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian angkat kepalamu hingga engkau tegak sempurna. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah sujud. Kemudian bangunlah hingga engkau thuma’ninah duduk. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah sujud. Kemudian bangunlah hingga engkau duduk sempurna. Kemudian lakukanlah seperti itu dalam semua shalatmu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Shalat Thuma’ninah

ةني مطلاو :و وى نع وعفر ًلاثم لصفن ثيبِ ت ب فوكس وأ ،ة دعب فوكس.ا لقأو : ًلاثم عو لا في ءاضعلأا تست فأةيعفا لا ؿاق ام يوتعا نع عف لا لصفن ثيبِ . ضعب ؿاق ام ،فوكس نِّدأ رد بف يسانلا امأو ،ه ا ل بجاولا لا رد ب كلذوبى تظا نم حيحصلاو ،ةلبانتضا :لق فإو فوكسلا انهأ . ام ،ام نم عف لاو ،دو سلاو عو لا في ةحيبست ردق حراوتصا كست يى وأةيفنتضا ؿاق. ةيكلاتظا ؿاق ام ،ةلاصلا فا رأ عيتر في ام ًانمز ءاضعلأا را تسا يى وأ .Thuma’ninah adalah tenang setelah satu gerakan. Atau tenang setelah dua gerakan, kira-kira terpisah antara naik dan turun. Minimal Thuma’ninah adalah anggota tubuh merasa tenang, misalnya ketika ruku’, kira-kira terpisah antara naik dan turun, sebagaimana pendapat Mazhab Syafi’i. Dapat diukur dengan kadar ingatan wajib bagi orang yang mengingat. Adapun orang yang lupa kira-kira pada kadar minimal tenang, sebagaimana pendapat sebagian Mazhab Hanbali. Pendapat Shahih menurut mazhab adalah: tenang, meskipun sejenak. Atau tenangnya anggota tubuh kira-kira satu sujud, dan bangun dari ruku’ dan sujud, demikian menurut pendapat Mazhab Hanafi. sujud, dan bangun dari ruku’ dan sujud, demikian menurut pendapat Mazhab Hanafi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.