Asbabul Wurud Hadi5s Nabi Pilihan : Puasa Isteri Harus Atas Izin Suami

Puasa Istri atas izin suami

Dikeluarkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ، إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ

‘Tidak boleh seorang perempuan berpuasa sedangkan suaminya berada di rumah melainkan dengan izin (suami), kecuali puasa Ramadhan.’

Sababul Wurud Hadits Ke-33:

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu Sa’id ia berkata: “Seorang wanita datang menghadap kepada Rasulullah saw sedang kami berada di sisi beliau, lalu sang wanita berkata: ‘Ya Rasulullah, suamiku Shafwan bin al-Mu’aththal memukulku jika aku shalat, menyuruhku berbuka jika aku berpuasa, ia tidak melakukan shalat shubuh kecuali setelah matahari terbit’ Beliau menanggapi sedang Shafwan ada di sisi beliau. Beliau menanyakan hal itu kepada Shafwan tentang kebenaran yang dikatakan sang istri. Ia pun menjawab: ‘Ya Rasulullah, adapun perkataannya ‘ia memukulku jika aku shalat’ karena ia membaca dua surat, dan aku telah melarangnya. Ia (Shafwan) berkata lagi: ‘Andaikan satu surat saja maka hal itu cukup bagi orang lain.’ Adapun perkataannya, ‘ia menyuruhku berbuka’ karena ia adalah wanita yang cantik lalu berpuasa, sedang saya laki-laki yang masih berusia muda, maka saya tidak dapat bersabar.’ Rasululullah saw pun bersabda: ‘Janganlah seorang wanita berpuasa,’ -sedang lafazhnya milik Ahmad-: ‘Janganlah salah seorang di antara kalian, wahai para wanita, berpuasa kecuali dengan izin suaminya.’ Sedang perkataannya ‘aku tidak shalat fajar kecuali setelah terbit matahari,’ maka (ketahuilah) sesungguhnya kami ini keluarga yang dikenal dengan hal itu, hampir-hampir kami tidak dapat bangun kecuali hingga terbit matahari.’ Nabi berkata: ‘Jika kamu telah bangun maka shalatlah.'”

Tahqiq ke 33

Hadits Ke-33:

  • Hadits tersebut adalah lafazh milik Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: al-Mar’atu Tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Wanita Berpuasa Tanpa Izin Suaminya, (1/572));
  • Dan juga diriwayatkan oleh Ahmad 2/476;
  • Al-Bukhari dalam kitab: an-Nikah, bab: Shaumu al-Mar’ati bi Idzni Zaujiha Tathawwu’an (Wanita Berpuasa Sunnah dengan Izin Suaminya, (7/39));
  • Muslim dalam kitab: az-Zakah, bab: Fadhlu Man Dhamma ila ash-Shadaqah Ghairaha min Anwa’i al-Birr (Keutamaan bagi yang Meng-gabungkan Berbagai Macam Kebaikan kepada Shadaqah, (3/65)), dan ia adalah satu bagian hadits miliknya.
  • Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’afi Karahiyyati Shaum al-Mar’ah bi Idzni Zaujiha (Hadits-hadits tentang Makruhnya Wanita Berpuasa Kecuali dengan Izin Suaminya, 2/140)). Abu Isa berkata: “Hadits Abu Hurairah hadits hasan shahih;”
  • Ibnu Majah dalam kitab: ash-Shiyam, bab: fi al-Mar’ah Tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Larangan bagi Wanita Berpuasa (Sunnah) Kecuali dengan Izin Suaminya, (1/560));
  • Ad-Darimi dalam kitab: ash-Shaum, bab: an-Nahyu ‘an Shaumi al-Mar’ah Tathawwu’an illa bi Idzni Zaujiha (Larangan Berpuasa Sunnah bagi Wanita Kecuali dengan Izin Suaminya, (1/344));
  • Ahmad 2/316, semuanya dengan lafazh-lafazh yang saling berdekatan;
  • Ibnu Majah juga meriwayatkannya 1/560 dari jalur hadits Abu Said, Ahmad 2/464 dari hadits Abu Hurairah dengan lafazh-lafazh yang berbeda.

Sababul Wurud Hadits Ke-33:

  • Hadits tersebut adalah lafazh milik Abu Dawud, bab: al-Mar’ah tashumu bi Ghairi Idzni Zaujiha (Wanita Berpuasa Tanpa Izin Suaminya), 1/572;
  • Selain itu ia juga diriwayatkan oleh Ahmad 3/80;
  • Al-Hakim 1/436 dan ia berkomentar setelahnya: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim namun keduanya tidak meriwayatkannya.” Dan dikomentari oleh adz-Dzahabi. Dengan lafazh-lafazh yang beragam.

Pada sabda Rasulullah saw: “Jika engkau telah bangun maka shalatlah’ adalah sebagai jawaban dari perkataan orang itu, ‘bahwa kami dari keluarga…’ Al-Khaththabi berkata: “Ia menyerupakan dirinya bahwa ia bagian dari keluarga itu dengan makna bahwa hal itu adalah pembawaan dasar (tabiat), dan kebiasaan itu telah mendominasi. Maka jadilah ia seperti orang yang lemah melakukannya. Hingga kemudian posisinya berada dalam kedudukan seperti orang pingsan, keadaan seperti ini diberi maaf dan tidak dihukum…” Lihat Aunul Ma’bud Syarah Abu Dawud oleh Abu ath-Thib Syamsul Haq yang dikenal dengan al-Azhim Abadi. Cetakan as-Salafiyah, Madinah al-Munawwarah 7/130.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.