Sejarah Bulan Ramadhan: Ali bin Abi Thalib RA Memeluk Agama Islam

Ali bin Abi Thalib RA Memeluk Agama Islam

Pada suatu hari, bani Hasyim sedang berkumpul, yang mana Rasulullah S.a.w. juga turut di dalamnya. Mereka semua berkumpul untuk membahas permasalahan Abu Thalib karena usianya telah lanjut. Sementara itu, anak-anak yang ditinggalkannya berjumlah banyak, sedangkan dirinya tidak memiliki harta yang cukup untuk mencukupi kehidupan keluarganya.

Pembicaraan dalam pertemuan ini berlangsung dalam nuansa mengharukan yang amat sangat. Namun pada akhirnya bani Hasyim memperoleh kata sepakat untuk membantu menanggung beban Abu Thalib hingga ia dapat menjalani sisa-sisa harinya dengan tenang.

Al-Abbas bin Abdil Muththalib mengambil anak Abu Thalib yang tengah, yaitu Thalib, untuk diasuh dan dicukupi kebutuhan hidupnya. Sedang Hamzah bin Abdil Muththalib mengambil Ja’far bin Abi Thalib untuk diasuhnya, dan Uqail bin Abi Thalib sajalah yang masih tetap berada dalam asuhan ayahnya.

Adapun Muhammad S.a.w. mendapatkan bagian untuk mengasuh putera bungsu Abu Thalib yang juga sebagai anak terbaiknya, yaitu Ali bin Abi Thalib. Kemudian Rasulullah S.a.w. kembali menuju rumahnya bersama Ali, dan sejak saat itu, Ali berada dalam asuhan dan pendidikan langsung dari Rasulullah S.a.w..

Sebelum risalah Islam turun, karena Ali berada dalam asuhan Nabi S.a.w. sejak masih kecil, maka ia belum pernah bersujud kepada berhala sebagaimana ia tidak suka bermain-main layaknya anak-anak seusianya pada waktu itu. Kehidupan Ali lebih banyak diwarnai pada melihat, mengamati dan memperhatikan anak pamannya sendiri, yaitu Nabi S.a.w., yang sekarang mengasuh dirinya sebagai insan terbaik dan paling mulia.

Berangkat dari itu, maka Ali merupakan potret kedua Nabi S.a.w. akibat ia belajar langsung dari beliau tentang akhlak terpuji dan segala aktifitas yang mulia.

Di tengah kegelapan Makkah dari ruh tauhid pada waktu itu, terpancarlah sinar kenabian dengan turunnya malaikat Jibril A.s. di Gua Hira` membawa risalah Islam. Pada saat itu, malaikat Jibril turun untuk menyampaikan wahyu pertama dari ayat Al-Qur`an, yaitu “Bacalah.” Dengan turunnya ayat ini, maka Muhammad kini menjadi seorang utusan Allah untuk semua manusia. Setelah beliau menerima wahyu pertama ini, beliau kemudian kembali ke rumahnya untuk mengajak isterinya Khadijah R.a. agar beriman terhadap ajaran yang dibawanya. Langkah Khadijah ini kemudian diikuti oleh Ali yang pada waktu usianya baru mencapai tujuh tahun. Sungguh ini sesuatu yang sangat ‘menakjubkan’.

Bukanlah maksud ungkapan ‘menakjubkan’ di sini merujuk pada Ali menyatakan masuk Islam, karena ia hidup dalam pendidikan dan arahan Nabi S.a.w. semenjak masih kecil. Akan tetapi ‘menakjubkan’ di sini lebih karena proses yang terjadi pada Ali memeluk Islam.

Pada saat itu, ketika Rasulullah S.a.w. mengajaknya untuk memeluk Islam, maka dengan seketika itu juga Ali langsung menerimanya. Walau demikian, Nabi S.a.w. tetap memerintahkan Ali agar meminta izin dari ayahnya terlebih dahulu. Namun ketika Ali mendengarkan perintah ini, maka Ali menjawab, “Apakah ayahku telah meminta izin kepada Allah ketika Allah menciptakan diriku?”

Semenjak saat itu, dalam waktu yang relatif singkat, maka Ali selalu mengikuti setiap gerakan dan langkah yang ditempuh oleh Rasulullah S.a.w.. Ali melakukan shalat di belakang beliau dan menangis karena beliau. Ali mengikuti Rasulullah S.a.w. sebagaimana anak unta yang masih kecil mengikuti induknya tanpa mau berpisah darinya.

Ketika dirinya melihat banyak orang-orang musyrik Makkah menyakiti beliau, maka dengan lantang Ali berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan membelamu dari penganiayaan mereka.”

Rasulullah S.a.w. melihat bahwa Ali adalah seorang hamba beriman yang usianya masih kecil, namun kadar hati dan akalnya sudah dewasa hingga berhak untuk mendapatkan prediket ‘Pemuda Beriman’. Ali telah melihat bahwa Rasulullah S.a.w. merupakan suri teladan yang baik, contoh yang harus diikuti dan sebagai manusia berilmu serta beretika. Atas dasar ini, maka Ali banyak memperoleh banyak manfaat dari beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.