Kisah Pondok Pesantren Tebuireng dari KH Hasyim Ashari Sampai Sekarang

Pondok Pesantren Tebuireng adalah salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1899. Selain materi pelajaran mengenai pengetahuan agama Islam, ilmu syari’at, dan bahasa Arab, pelajaran umum juga dimasukkan ke dalam struktur kurikulum pengajarannya. Pesantren Tebuireng telah banyak memberikan konstribusi dan sumbangan kepada masyarakat luas baik, terutama dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.

“Jika suatu amal tidak dilandasi keikhlasan maka tidak akan tambah kecuali kegelapan di dalam hati”. Demikian kutipan kitab Al Tanbihat Al Wajibat yang tertempel di muka halaman kompleks makam Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari dan keluarga di Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Diwek, Jombang, Jawa Timur.
Kutipan sederhana itu tertulis di atas papan kayu. Konon kata bermakna ini menjadi pemicu hasrat Hasyim Asy’ari untuk mendirikan pondok pesantren yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa Indonesia. Salah satunya Presiden RI ke-4 Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang tak lain cucu dari Syeikh Hasyim Asy’ari.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Sholahudin Wahid mengaku banyak mendengar cerita dari kakak ataupun sang ayah, KH Wahid Hasyim.yang mengisahkan tentang perjuangannya mendirikan pondok pesantren tersebut. Kala itu, pendirian pondok menjadi salah satu simbol perlawanan terhadap kemaksiatan dan penjajahan yang mendera saat itu.

Ia mengungkapkan, sang kakek tak hanya menerima intimidasi dari para preman pelindung lokalisasi, pertentangan keras juga datang dari penjajah Belanda yang saat itu tengah berkuasa. “Ini (simbol) perjuangan. Perjuangannya berat. Tidak mudah. Belanda saat itu ya tentu juga tidak mendukung pastinya,” kata pria yang akrab disapa Gus Solah seperti dilansir Liputan6.com di Jombang, Jawa Timur, Minggu (8/11/2015). Adik kandung Gus Dur ini mengisahkan bahwa dulunya lokasi pondok pesantren merupakan lokalisasi dan bedeng-bedeng. Di Desa Cukir, banyak ‘kupu-kupu malam beterbangan’. Selain itu, banyak pula pabrik milik Belanda yang gagah berdiri. Jika para buruh dan petinggi buruh itu menerima gaji, mereka langsung menghabiskannya di tempat ini. Mereka menghamburkannya dengan perbuatan maksiat. “Dulu kan bukan tanahnya pesantren ya. Di situ dulu kan ada pabrik. Nah biasanya kalo mereka sudah gajian banyak yang menghabiskan uangnya untuk maksiat disini. Tapi sekarang sudah tidak,” beber mantan Wakil Ketua Komnas HAM itu.

Sementara di lokasi makam Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sempat meneteskan air mata. Dia terkenang dengan sosok Hasyim Asy’ari yang dinilainya sebagai sosok pahlawan yang perlu dicontoh. Banyak yang bisa diambil dari perjalanan hidup sang kiai. “Mbahnya Gus Dur (KH Hasyim Asy’ari) itu pendiri NU. Jadi kalau besok Selasa, Hari Pahlawan itu di kota Pahlawan. Itu untuk pertama kalinya. Itu karena beliau sosok berpengaruh dan tokoh sentral Hari Pahlawan di Surabaya,” ungkap Khofifah dengan suara gemetar. Ia menuturkan KH Hasyim Asy’ari juga salah satu tokoh yang mempelopori pergerakan perlawanan untuk mengusir penjajah Belanda. “Ya mbah Gus Dur itu yang menggerakan perlawanan untuk mengusir penjajah,” tutup Khofifah yang juga memondokkan anak keempatnya, Ali Managalih Parawansa, di Ponpes Tebuireng. Di dalam pondok, selain materi pelajaran mengenai pengetahuan agama Islam, ilmu syari’at, dan bahasa Arab, juga ada pelajaran umum yang dalam struktur kurikulum. Pesantren yang didirikan pada 1899 ini juga banyak memberikan konstribusi dan sumbangan kepada masyarakat, baik sosial juga yang utama dalam dunia pendidikan Islam.

Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 M. Pesantren ini didirikan setelah ia pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren terkemuka dan di tanah Mekkah, untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya.

Tebuireng dahulunya merupakan nama dari sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Letaknya delapan kilometer di selatan kota Jombang, tepat berada di tepi jalan raya Jombang – Kediri. Menurut cerita masyarakat setempat, nama Tebuireng berasal dari “kebo ireng” (kerbau hitam). Versi lain menuturkan bahwa nama Tebuireng diambil dari nama punggawa kerajaan Majapahit yang masuk Islam dan kemudian tinggal di sekitar dusun tersebut.

Dusun Tebuireng sempat dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan perilaku negatif lainnya. Namun sejak kedatangan K.H. Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut berubah semakin baik dan perilaku negatif masyarakat di Tebuireng pun terkikis habis. Awal mula kegiatan dakwah K.H. Hasyim Asy’ari dipusatkan di sebuah bangunan yang terdiri dari dua buah ruangan kecil dari anyam-anyaman bambu (Jawa: gedek), bekas sebuah warung yang luasnya kurang lebih 6 x 8 meter, yang dibelinya dari seorang dalang. Satu ruang digunakan untuk kegiatan pengajian, sementara yang lain sebagai tempat tinggal bersama istrinya, Nyai Khodijah.

Organisasi NU tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dengan lebih dari 400 cabang, tetapi pengurus-pengurus wilayah NU yang kegiatan usahanya cukup nyata antara lain adalah yang berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Saat ini, keberadaan Pondok Pesantren Tebuireng telah berkembang dengan baik dan semakin mendapat perhatian dari masyarakat luas.

Sistem pendidikan

Seiring dengan perjalanan waktu, santri yang berdatangan menimba ilmu semakin banyak dan beragam. Kenyataan tersebut telah mendorong Pondok Pesantren Tebuireng beberapa kali telah melakukan perubahan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan. Sebagaimana pesantren-pesantren pada zaman pendiriannya, sistem pengajaran awal yang digunakan adalah metode sorogan (santri membaca sendiri materi pelajaran kitab kuning di hadapan guru), serta metode weton atau bandongan atau halqah (kyai membaca kitab dan santri memberi makna). Semua bentuk pengajaran tersebut tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan tingkat pendidikan dinyatakan dengan bergantinya kitab yang khatam (selesai) dikaji dan diikuti santri. Materi pelajarannya pun khusus berkisar tentang pengetahuan agama Islam, ilmu syari’at dan bahasa Arab.

Perubahan sistem pendidikan di pesantren ini pertama kali diadakan Kyai Hasyim Asy’ari pada tahun 1919, yaitu dengan penerapan sistem madrasi (klasikal) dengan mendirikan Madrasah Salafiyah Syafi’iyah. Sistem pengajaran disajikan secara berjenjang dalam dua tingkat, yakni Shifir Awal dan Shifir Tsani.

Tahun 1929, kembali dilakukan pembaharuan, yaitu dengan dimasukkannya pelajaran umum ke dalam struktur kurikulum pengajaran. Hal tersebut adalah suatu tindakan yang belum pernah ditempuh oleh pesantren lain pada waktu itu. Sempat muncul reaksi dari para wali santri, bahkan para ulama dari pesantren lain. Hal demikian dapat dimaklumi mengingat pelajaran umum saat itu dianggap sebagai kemunkaran, budaya Belanda dan semacamnya. Hingga terdapat wali santri yang sampai memindahkan putranya ke pondok lain. Namun, madrasah ini berjalan terus karena Pondok Pesantren Tebuireng beranggapan bahwa ilmu umum akan sangat diperlukan bagi para lulusan pesantren.

Daftar pengurus

Dalam perjalanan sejarahnya, hingga kini Pesantren Tebuireng telah mengalami 7 kali periode kepemimpinan. Secara singkat, periodisasi kepemimpinan Tebuireng sebagai berikut:

  1. KH. Muhammad Hasyim Asy’ari : 1899 – 1947
  2. KH. Abdul Wahid Hasyim : 1947 – 1950
  3. KH. Abdul Karim Hasyim : 1950 – 1951
  4. KH. Achmad Baidhawi : 1951 – 1952
  5. KH. Abdul Kholik Hasyim : 1953 – 1965
  6. KH. Muhammad Yusuf Hasyim : 1965 – 2006
  7. KH. Salahuddin Wahid : 2006 – sekarang
  1. g
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s