INSPIRASI MENGHARUKAN PALING HEROIK: Keridhoan Petugas Damkar Korbankan Nyawa Demi Selamatkan Kakek Tua

Gubenur DKI Jakarta Anis Baswedan dalam bulan puasa ini dalam halaman di FB menceritakan kisah heroik yang sangat mengaharukan.

Di tengah kobaran api dalam sebuah rumah, petugas ini melepas baju pelindungnya. Dia selimutkan baju itu pada seorang kakek. Lalu dia angkat kakek itu keluar. Kakek itu selamat dari api, tapi sang petugas terbakar tubuhnya. Dia relakan raganya dijilat api, asal kakek yg tak dikenalnya itu selamat. Itulah Muhammad Rifai. Itulah petugas Pemadam Kebakaran kita. Sang Pemberani. Kawan dan atasannya menambahkan, sesungguhnya Rifai baru saja keluar dari kobaran api membawa korban. Sampai di luar dia mendengar bahwa masih ada satu orang tersisa di dalam. Saat itulah awal peristiwa heroik itu: Rifai putar balik, dia kembali masuk ke dalam rumah penuh kobaran api. Saya temui Rifai di ruang ICU RSCM. Dia baru selesai operasi 4 jam. Tubuhnya penuh luka bakar. Perban sekujur tubuhnya. Saya pegang pundaknya, ia menengok. Matany terbuka, senyum tertahan oleh selang-selang. Saya katakan: kami bangga, kami hormat. Rifai adalah pemberani dan teladan. Di sini fasilitaa kesehatan dan dokter terbaik untuk luka bakar. Insya Allah akan segera pulih. Saat itu matanya bergerak, mengedip dan kepalanya mengangguk.

Di depan ruang ICU, ibu dan istrinya menunggu. Pada ibunya, berkerudung krem, saya sampaikan terima kasih. Terima kasih telah melahirkan dan membesarkan seorang pemberani, seorang pejuang. Pada istrinya, berkerudung hitam, yang sedang mengandung 6 bulan saya titipkan pesan: jangan bersedih, insya Allah Rifai segera pulih. Jaga kandungan baik-baik, bayi ini punya ayah seorang teladan dan insya Allah kelak dia akan lebih hebat dari ayahnya.

Pengorbanan untuk sesama umat, Rasulullah dan Allah

Motif pengorbanan itu tidak lain adalah cinta kepada sesama serta sangat cinta pada Allah dan demi mencapai keridhoan-Nya dengan imbalan surga. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah“ (QS. Al-Baqarah: 207). “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (QS. 9:111).

Para nabi dan rosul merupakan orang-orang yang mencintai Allah dan sanggup berkorban apa saja dalam mewujudkan cinta mereka. Karena itu, tingkah laku dan sepak terjang mereka senantiasa menjadi cerminan bagi para pengikutnya sampai ke saat kita sekarang ini. Allah membuktikan, berkorban dalam arti sesungguhnya dapat dilakukan oleh manusia-manuisa biasa seperti kita (QS. Al-Baqarah: 207). Pengorbanan yang dilakukan oleh Rasulullah, para shahabat, dan mujahid-mujahid Islam terdahulu bukanlah sekedar pemotongan hewan Qurban setahun sekali, tetapi telah wujud dalam kehidupan nyata.

Abu Bakar Shiddiq tampil dengan segala pengorbanan untuk menyelamatkan dakwah yang dilakukan Rosulullah Saw. Ia pasang badan untuk menjadi tameng Rasulullah Saw dari segala kemungkinan buruk yang direncanakan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ia korbankan pula hartanya. Bahkan ia kerahkan anggota keluarganya untuk turut berkontribusi bagi dakwah. Apa yang beliau lakukan itu, sesuai benar dengan ungkapannya sendiri, Hal yanqushud-dinu wa ana hayyun (Tidak boleh Islam berkurang sementara saya masih hidup).

Saat Rasulullah masih tinggal di Makkah, tercatat nama seperti Sumayyah, seorang wanita yang menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam, Bilal, Zanirah, dan lain-lain yang disiksa karena keimanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam peperangan, para prajurit Islam berkorban dengan pengorbanan yang patut diteladani. Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abdul Muthollib, Abdullah bin Rawahah menjadi syuhada Uhud. Khabbab bin Arats disalib dan disiksa sampai menemui ajalnya oleh orang-orang musyrik.

Mush’ab bin Umair menemui syahidnya dengan bermandikan darah di perang Uhud. Masih banyak para syuhada atau ksatria dari para sahabat yang tidak mungkin disebutkan satu persatu namanya. Berlandaskan cinta, demi ridho Allah, mereka mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk tegaknya syiar Islam.

“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan (bisnis) yang kamu khawatiri kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah, Rasul, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya” (QS. At-Taubah:24).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s