ASBABUL WURUD HADITS: Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Hukum Berpuasa dalam Perjalanan (Safar)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dari Ka’ab ibn ‘Ashim al-Asy’ari, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ مِنَ امْ بِرِّ، امْ صِيَامُ، فِي امْ سَفَرِ
‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).’

Sababul Wurud Hadits Ke-31:

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah ia berkata: “Rasulullah saw pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu beliau melihat seorang laki-laki tengah dikerumuni orang banyak, dan di beri naungan di atasnya, mereka berkata: ‘Orang ini tengah berpuasa.’ Rasulullah saw pun bersabda: ‘Bukanlah bagian dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan (safar).'”

Tahqiq ke 31

Hadits Ke-31:

Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/432;
An-Nasa’i juga meriwayatkannya dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyamfi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/146)), lihat Majma’ az-Zawaid 3/161. Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir.”
Begitu juga hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Ja’a fi as-Shiyaam fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Berbuka di dalam Perjalanan, (1/532)), dari haditsnya dan dari hadits Ibnu ‘Umar.
Sababul Wurud Hadits Ke-31:

Hadits tersebut adalah lafazh milik Ahmad 3/299;
Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Qaulu an-Nabiy saw li Man Zhullila ‘alaihi wa Isytadda al-Harr Laisa min al-Birr as-Shaum fi as-Safar (Sabda Nabi saw bagi Orang yang Dinaungi Atasnya dan Udara yang Terik Bukanlah Bagian dari Kebaikan Berpuasa dalam Perjalanan, (3/44));
Muslim dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Jawazu as-Sahum wa al-Fithri fi Syahri Ramadhan li al-Musafirfi Ghairi Ma’shiyah (Bolehnya Berpuasa dan Berbuka dalam Bulan Ramadhan bagi Musafir yang Tujuannya Bukan Untuk Maksiat, (3/175));
Dan diriwayatkan oleh Ahmad 3/317;

Abu Dawud dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ikhiyar al-Fithr (Memilih Berbuka, (1/561))
At-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’a fi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan), secara muallaq;
An-Nasa’i dalam kitab: ash-Shiyam, bab: Ma Yukrahu min as-Shiyam fi as-Safar (Tentang Apa-apa yang Tidak Disukai Berpuasa di dalam Perjalanan, (4/148)), dengan lafazh-lafazh saling berdekatan.

Aku berkata: “Di antara penguat hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Abwab ash-Shaum, bab: Ma Ja’afi Karahiyyati as-Shaum fi as-Safar (Hadits-hadits tentang Makruhnya Berpuasa dalam Perjalanan, (2/106)), dari hadits Jabir bin Abdillah, bahwasanya Rasulullah saw, pernah keluar menuju Makkah pada ‘Amul Fathi (hari penaklukan Makkah), beliau berpuasa hingga sampai di daerah Kara’ al-Ghamim dan orang-orang turut berpuasa bersama beliau. Lalu disampaikan kepada beliau: ‘Orang-orang mendapatkan kepayahan dalam berpuasa, dan orang-orang menunggu apa yang engkau perbuat.’ Kemudian beliau meminta semangkuk air-setelah shalat ashar-, dan meminumnya, sedangkan orang-orang menyaksikan yang beliau (perbuat), maka berbukalah sebagian dari mereka dan sebagian lagi tetap berpuasa. Berita tentang bertahannya sebagian orang dalam berpuasa terdengar oleh beliau, lalu beliau bersabda, ‘Mereka itu adalah pendurhaka.'” Abu Isa berkata: “Hadits Jabir hasan shahih.”

Dan ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum berpuasa dalam perjalanan, sebagian dari ahli ilmu dari kalangan shahabat Nabi saw dan begitu juga dari selain mereka berpendapat bahwa berbuka itu adalah lebih utama, hingga di antara mereka ada yang memandang bahwa puasa mesti diulangi apabila berpuasa di dalam perjalanan. Ahmad dan Ishaq memilih pendapat berbuka di dalam perjalanan.

Dan sebagian lagi ahli ilmu dari kalangan para shahabat Nabi saw dan selain mereka berpendapat: “Jika seseorang mendapatkan kekuatan dalam perjalanan maka berpuasa adalah baik, dan itu lebih utama, dan jika ia berbuka maka hal itu juga baik. Dan ini adalah pendapat yang dianut oleh Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas ,dan Abdullah bin al-Mubarak.

Asy-Syafi’i berkata: “Adapun makna dari sabda Rasulullah saw: ‘Bukanlah termasuk dari kebaikan itu berpuasa di dalam perjalanan.’ Dan begitu juga dengan sabda beliau ketika sampai kepadanya berita bahwa orang-orang masih tetap berpuasa, beliau bersabda: ‘Mereka itu adalah pendurhaka,’ tidak lain adalah bagi yang tidak ada kecondongan di dalam hatinya menerima rukhsah (keringanan) dari Allah Ta’ala. Adapun orang yang memandang bahwa berbuka itu adalah hal yang mubah lalu ia berpuasa dan kuat melakukan hal itu maka itu adalah yang lebih aku sukai.” Lihat Sunan at-Tirmidzi, 2/107; al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 3/99; dan setelahnya; serta Mu’jam al-Fiqh al-Hanbali cetakan Wazaratul Aukaf wa as-Syu’un al-Islamiyah, Kuwait, 2/261.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s