Bom Teroris Surabaya, Berhasil Mengadu Domba Rakyat

Belum bernapas lega setelah kasus kerusuhan Mako Brimob, tiga hari berselang Indonesia diguncang bencana lebih heboh. Bom besar meledak hampir bersamaan di tiga gereja di Surabaya. Bila dicermati berbeda dengan kerusuhan Mako Brimob yang diduga karena ketidakpuasan napi. Tampaknya kasus pengeboman gereja di Surabaya adalah murni aksi terorisme. Aksi teror tujuan utamanya membuat panik. Tetapi media masa dan media sosial dibanjiri opini saling menyindir, saling menyalahkan dan semua pihak merasa paling benar. Teroris mungkin tidak berhasil membuat kita takut tetapi berhasil membuat kita diadu domba dan saling mengadu domba. Padahal perpecahan Indonesia akan lebih buruk dibandingkan ketakutan itu sendiri.

Bom teroris di Surabaya bukan pertama kali di Indonesia dan bukan yang terhebat di Indonesia. Bom teroris sering kali terjadi dan banyak yang lebih hebat di segala penjuru dunia. Tetapi seperti biasa sebesar apapun bom teror meledak maka kepanikan dan kontroversipun semakin banyak diperdebatkan. Aksi terorisme adalah salah satu kejahatan extraordinary yang tidak mudah mengatasinya.

Sehingga banyak sekali faktor dan penyebab mengapa aksi itu terus terjadi. Karena rumitnya kejahatan itu maka apapapun yang ada di bumi Indonesia ini bisa dianggap sebagai penyebab teroris. Sehingga bila mencari penyebab dan mencari siapa yang salah, maka sepintar apapun atau sehebat siapapun dia, akan sulit bisa memastikan penyebab tunggal kejahatan itu. Bahkan sampai saat ini modus utama terorisme tidak pernah dapat diidentifikasi dengan jelas. Sehingga bila hal itu didiskusikan oleh berbagai disiplin ilmu dan siapapun pakarnya pasti akan terjadi perdebatan yang tidak akan pernah selesai.

Multifaktorial

Kalau tahu penyebab utamanya maka terorisme sejak dari dulu dengan mudah bisa dihilangkan dari muka bumi. Saat seorang ahli sosial katakan kemiskinan penyebabnya, tetapi mengapa pelaku teror juga banyak orang yang berduit. Ketika seorang akademisi memvonis kebodohan sebagai penyebab, tetapi mengapa seorang doktor seperti Ashari bisa jadi gembong teroris.

Ketika seorang ahli agama mengatakan bahwa kedangkalan agama sebagai penyebab, tetapi mengapa seorang pintar agama bisa mendukung terorisme. Ketika seorang pakar intelejen mengatakan bahwa agama tertentu penyebab teroris dan mengatakan negera tertentu sumber terorisme, tetapi Vladimir Putinpun mengatakan “Terrorism has no nationality or religion”.

Melihat sangat kompleksnya masalah terorisme sehingga tidaklah bijak bila kita saling menyalahkan dan saling merasa paling benar dalam tragedi dunia ini. Terorisme adalah dendam dan kebencian dengan latar belakang multifaktorial di tengah dominasi egoisme manusia. Benazir Bhuttopun menyebutkan bahwa “Democracy is necessary to peace and to undermining the forces of terrorism”.

Pakar terorispun mengatakan bahwa RUU Teroris dapat mencegah gangguan teroris di masa depan. Tetapi ahli lain juga pesimis karena terorisme itu adalah kejahatan extraordinary yang sangat kompleks. Bahkan, Amerika yang mengaku dan dianggap negara super hebat dalam mengatasi teroris saja sempat kecolongan dan tercoreng dengan aksi terorisme terbesar sepanjang masa yaitu aksi WTC, 9 September.

Diadudomba

Tragisnya, ketika semua berteriak kami tidak takut tetapi dilain pihak sebagian pihak baik di media masa atau media sosial tidak disadari dipenuhi sikap saling menyalahkan dan merasa paling benar. Mereka saling menyindir dan saling membela diri, padahal mereka bersaudara dan lupa musuh bahwa teroris adalah musuh bersama. Media masa nasional bahkan ada yang menyindir agama tertentu dengan menulis : “Wahai teroris, dimana alamat surgamu ?” Ahli terorisme bahkan ada yang mengatakan bahwa aksi bela Islam belakangan ini memicu terorisme.

Ada juga yang berkomentar, “Polisi tidak tegas terhadap teroris sehingga teroris semakin subur”. Pihak lain ada yang mengatakan bahwa “Bom Surabaya settingan atau skenario untuk pengalihan isu”. Saat konferensi pers ada juga pihak yang menyalahkan ada media televisi yang tidak ketat memilih penceramah agama sehingga memprovokasi teroris. Ada juga badut politik yang mengail di air keruh dengan menulis “PKS, Gerindra dan FPI tidak pernah mengutuk teroris, sehingga sekarang kita tahu siapa mereka”. Sementara yangnlain menulis kalau HTI tidak dilarang, maka teroris lebih gila lagi. Bahkan ada yang berani menulis. “Seharusnya polisi dan pemerintah bertindak tegas awasi semua kantor PKS di Jawa Timur.

Selidiki dugaan keterlibatan kader dan loyalis PKS atas peristiwa bom di Surabaya”. Meme politik lainnya ada yang bilang “Hanya berselang 3 hari di Mako Brimob, kini ledakan 3 gereja di Surabaya sinyal untuk seseorang mengundurkan diri”. Bahkan yang lebih menyedihkan kata umpatan paling kasar di Surabaya seperti “J.nc.k” diumbar seenaknya. Buka hanya itu, pernah seorang politikus PDI Perjuangan yang juga Direktur Eksekutif Megawati Institut, Siti Musdah Mulia menuding sekolah Islam sebagai penyebab munculnya terorisme di Indonesia. Bahkan dia menyarankan agar sekolah-sekolah Islam, termasuk pesantren, untuk dikurangi karena menjadi tempat berkembangnya terorisme.

Wajar sekali bila ribuan bahkan jutaan meme dan komentar membanjiri media masa nasional dan media sosial yang dilakukan oleh individu atau organisasi tertentu tentang bom Surabaya. Hal itu semua bisa juga karena respon fisiologis manusia saat marah, panik atau takut meski mereka selalu berteriak “kita tidak takut”. Saat muncul kepanikan dan kecemasan di bawah sadar manusia, mereka saling menyindir, saling menyalahkan dan saling menyudutkan kadang tidak memakai rasio akal sehat dan nalar cerdas .

Semua berkomentar tergantung isi otak kepalanya dan niat buruk hatinya. Tetapi banyak juga yang bijak dan meneduhkan. Sedangkan kelompok lain membela diri dari tudingan dan fitnahan terhadap apa yang yang tidak dilakukan ajaran agamanya dan umatnya. Banyak yang berteriak paling benar dan paling menjadi korban. Bahkan ada yang menjadi pahlawan dadakan dengan berteriak akan mengorbankan nyawa dan darahnya untuk melawan teroris.

Pelajaran penting dari bom teroris ini bahwa saling menyalahkan dan merasa paling benar bukanlah tindakan bijak dan tidak menyelesaikan masalah. Sehingga semua pihak baik rakyat dan penguasa harus saling instrospeksi bahwa munculnya terorisme adalah kesalahan dan kelengahan bersama sehingga dapat dicegah dan diperangi bersama.

Meski sulit memastikan penyebab utama aksi teroris, tetapi akar utama masalah tampaknya adalah ketidak adilan hukum, politik, ekonomi dan sosial baik di dunia internasional dan regional yang menimbulkan permusuhan, dendam dan kebencian. Berbagai faktor lainnya mungkin jadi faktor pemicu dan faktor resiko. Sehingga baik anak bangsa atau tokoh manusia, seharusnya tidak egois, dan bisa meneladani tindakan sekecil apapun dengan berperilaku adil secara hukum, ekonomi, politik dan sosial akan berkontribusi mengurangi permusuhan, dendam atau kebencian sesama manusia.

Menurut Patrick J Kenedy, “Terorisme adalah peperangan psikologis. Teroris mencoba memanipulasi kita dan mengubah perilaku kita dengan menciptakan ketakutan, ketidakpastian, dan perpecahan dalam masyarakat”. Hal inilah yang membuat media masa dan media sosial dibanjiri sikap saling mengumpat, saling menyalahkan, menyindir ajaran agama dan menyinyiri antar umat beragama.

Masyarakat tidak sadar bahwa emosinya sedang dipermainkan teroris untuk saling menyalahkan. Rakyat tidak sadar bahwa kepentingan individu dan kelompok sedang merasuki otaknya untuk membidik dan menembak kelompok lainnya dengan “Bom Surabaya” sebagai pelurunya. Masyarakat Indonesia yang sebenarnya bersaudara tidak sadar telah disihir para teroris agar saling mengumpat dan mengumbar kebencian. Manusia Indonesia tidak sadar masuk perangkap teroris sedang di adu domba antar umat beragama dan umat seagama.

Kita semua bersaudara, saatnya Indonesia bersatu melawan terorisme. Fokuslah bahwa terorisme adalah musuh utama semua agama dan musuh bersama semua umat manusia. “Diam adalah emas”, saat ini paling baik untuk dilakukan bila verbal kita tidak bisa bijak. Arek Suroboyo dan Indonesia berduka, Indonesia mengutuk mereka dan Indonesia terus berdoa. JANGAN MAU DIADUDOMBA DAN JANGAN MENGADU DOMBA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s