KIsah Inspiratif Mualaf: Pendeta Nasrani Masuk Islam, Gagal Bakar Quran Di Depan Jemaatnya

KIsah Inspiratif Mualaf: Pendeta Nasrani Masuk Islam, Gagal Bakar Quran Di Depan Jemaatnya

PASTUR,MISIONARIS,DAN JEMAAT GEREJA MASUK ISLAM setelah gagal membakar AL-QURAN

Koran harian “Tartim” yang beredar di Nigeria dan merupakan koran terbesar dengan oplah paling banyak menyebarkan berita yang tidak akan dilupakan oleh penduduk Nigeria. Koran yang terbit setiap hari Rabu tersebut, dalam editorialnya telah menggoncangkan salah satu kota besar di Nigeria, kota Kajoula. Dalam berita tersebut dipaparkan bahwa seorang pimpinan pendeta Nasrani dengan sangat mengejutkan melempar mushaf Al-Qur’an ke tanah di depan para hadirin yang datang dalam majelisnya. Tidak hanya itu, ia kemudian menuangkan bensin dan berusaha membakar mushaf tersebut. Namun yang sangat mengherankan, mushaf tersebut sama sekali tidak terbakar dan api tidak sampai menyentuhnya. Bahkan, tangan pendeta tersebut yang justru terbakar oleh kobaran api. Peristiwa ini terjadi pada saat umat Nasrani sedang melaksanakan kebaktian di gereja.

Setelah kejadian ini, Pendeta Froos seketika langsung menyatakan keislamannya dan diikuti oleh pemimpin gereja Ya’kub Musa, kemudian diikuti oleh para pendeta dan misionaris di sana, sehingga jumlah mereka mencapai 200 misionaris, kemudian pendeta Ya’kub Musa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen Organisasi Kependetaan di Kanjoula. Di hari berikutnya, pemimpin redaksi koran “Ukazh”, Haji Ibrahim Sulaiman menulis berita tentang aktifitas Ya’kub Musa pasca mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen. la berdakwah menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok negeri Nigeria, Ibrahim Sulaiman juga menulis kisah-kisah Ya’kub Musa yag bisa dijadikan pelajaran bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Beliau adalah professor jurusan matematika University of Kansas. Ia menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim AS: Struggling to Surrender (Beltsville, 1994); Even Angels Ask (Beltsville, 1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (Beltsville, 2004). Ia telah memberi kuliah di banyak kampus dan menjadi pembicara di banyak konferensi Islam. Bermula dari sejak kecil Dr Jeffrey Lang dikenal selalu ingin tahu. Ia kerap mempertanyakan logika sesuatu dan mengkaji apa pun berdasarkan perspektif rasional. “Ayah, surga itu ada?” tanya Jeffrey kecil suatu kali kepada ayahnya tentang keberadaan surga, dan bukan suatu kejutan jika kelak Jeffrey Lang menjadi profesor matematika, sebuah wilayah dimana tak ada tempat selain logika.

Saat menjadi siswa tahun terakhir di Notre Dam Boys High, Jeffrey Lang memiliki keberatan rasional terhadap keyakinannya akan keberadaan Tuhan. Diskusi dengan para pendeta sekolah, orangtuanya, dan rekan sekelasnya tak juga bisa memuaskannya tentang keberadaan Tuhan. “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” kata ayahnya ketika ia membantah keberadaan Tuhan di usia 18 tahun. Ia akhirnya memutuskan menjadi atheis pada usia 18 tahun, yang berlangsung selama 10 tahun ke depan selama menjalani kuliah S1, S2, dan S3, hingga kemudia akhirnya dia memeluk Islam.

Adalah beberapa saat sebelum atau sesudah memutuskan menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami sebuah mimpi. Berikut penuturan Jeffrey Lang tentang mimpinya itu: Kami (dalam mimpi Dr Jeffrey Lang bersama orang lainnya yang tak ia kenal) berada dalam sebuah ruangan tanpa perabotan. Tak ada apa pun di tembok ruangan itu yang berwarna putih agak abu-abu. Satu-satunya ‘hiasan’ adalah karpet berpola dominan merah-putih yang menutupi lantai. Ada sebuah jendela kecil, seperti jendela ruang bawah tanah, yang terletak di atas dan menghadap ke kami. Cahaya terang mengisi ruangan melalui jendela itu. Kami membentuk deretan. Saya berada di deret ketiga. Semuanya pria, tak ada wanita, dan kami semua duduk di lantai di atas tumit kami, menghadap arah jendela.

Terasa asing. Saya tak mengenal seorang pun. Mungkin, saya berada di Negara lain. Kami menunduk serentak, muka kami menghadap lantai. Semuanya tenang dan hening, bagaikan semua suara dimatikan. Kami serentak kami kembali duduk di atas tumit kami. Saat saya melihat ke depan, saya sadar kami dipimpin oleh seseorang di depan yang berada di sisi kiri saya, di tengah kami, di bawah jendela. Ia berdiri sendiri. Saya hanya bisa melihat singkat punggungnya. Ia memakai jubah putih panjang. Ia mengenakan selendang putih di kepalanya, dengan desain merah. Saat itulah saya terbangun.

Sepanjang sepuluh tahun menjadi atheis, Jeffrey Lang mengalami mimpi yang sama. Bagaimanapun, ia tak terganggu dengan mimpi itu. Ia hanya merasa nyaman saat terbangun. Sebuah perasaan nyaman yang aneh. Ia tak tahu apa itu. Tak ada logika di balik itu, sehingga ia tak peduli kendati mimpi itu terus berulang.

Sepuluh tahun kemudian, saat pertama kali memberi kuliah di University of San Fransisco, dia bertemu seorang murid Muslim yang mengikuti kelasnya. Tak hanya dengan sang murid, Jeffrey pun menjalin persahabatan dengan keluarga sang murid. Agama bukan menjadi topik bahasan saat Jeffrey menghabiskan waktu dengan keluarga sang murid. Hingga setelah beberapa waktu salah satu anggota keluarga sang murid memberikan Alquran kepada Jeffrey.

Kendati ia tak berniat mengetahui Islam, Jeffrey mulai coba-coba membuka-buka Alquran dan membacanya. Seketika itu kepalanya dipenuhi berbagai pergumulan.

“Anda tak bisa dengan hanya membaca Alquran, dan juga anda tidak bisa jika tidak menganggap ini sesuatu hal yang serius. yang anda harus lakukan, adalah , apakah anda menyerah kepada Alquran, atau, anda ‘menantang’, Al-Qur’an” ungkap Jeffrey.

Ia kemudian mendapati dirinya berada di tengah-tengah perdebatan yang sangat menarik. “Ia (Alquran) ‘menyerang’ Anda, secara personal. Alquran akan mendebat, akan mengkritik, dan membuat (Anda) malu, dan menantang anda. Sejak awal ‘ia’ (Alquran) menorehkan garis perang, dan saya berada di fihak yang berseberangan.”

“Saya menderita kekalahan parah (dalam pergumulannya). Setelah saya baca menjadi jelas bahwa, Sang Penulis’ (Alquran) mengetahui diri saya lebih baik ketimbang diri saya sendiri,” kata Jeffrey. Ia mengatakan seakan Sang Penulis membaca pikirannya. Setiap malam ia menyiapkan sejumlah pertanyaan dan keberatan, namun selalu mendapati akan jawabannya pada bacaan berikutnya, seiring dengan ia membaca halaman demi halaman Alquran secara berurutan.

“Alquran berada jauh di depan pemikiran saya. Ia menghapus segala kegundahan yang telah saya rasakan selama bertahun-tahun dan menjawab pertanyaan saya.”. Jeffrey berusaha melawan dengan keras dengan keberatan dan pertanyaan, namun semakin ia buka Alquran semakin jelas ia kalah dalam pergulatan. “Saya dituntun ke sudut di mana tak ada lain selain satu pilihan.”

Ketika itu awal 1980-an, dan tak banyak saat itu Muslim di University of San Fransisco, tempat ia mengajar. Jeffrey mendapati sebuah ruangan kecil di basement, tempat di mana sejumlah mahasiswa Muslim melakukan sholat. Usai pergulatan panjang di benaknya, ia memberanikan diri untuk mengunjungi tempat itu.

Beberapa jam mengunjungi di tempat itu, ia menguatkan dirinya untuk mengucap syahadat untuk memasuki pintu Islam. Usai syahadat, waktu shalat dzuhur tiba. Ia berdiri dalam deretan dengan para mahasiswa lainnya, dipimpin imam yang bernama Ghassan. Jeffrey mulai mengikuti mereka shalat berjamaah untuk yang pertama kali

Jeffrey ikut bersujud. Kepalanya menempel di karpet merah-putih. Suasananya begitu tenang dan hening ia rasakan, “bagaikan semua suara di alam ini telah dimatikan”,tuturnya. Ia lalu kembali duduk di antara dua sujud.

“Saat itulah saya melihat ke depan, dan Saya melihat Ghassan, berada didepan sisi kiri saya(Imam), di tengah-tengah shaf jama’ah, tepat di bawah jendela yang menerangi ruangan dengan cahaya. Dia sendirian, tanpa barisan. Dia mengenakan jubah putih panjang. Selendang (scarf) putih menutupi kepalanya, dengan desain berwarna merah.”

“Mimpi itu.. !?”. Teriak saya dalam hati. “Mimpi itu!, persis sekali” ! Saya mencoba untuk melupakannya, tapi kini saya tertegun dan takut. Apakah ini pun hanya sebuah mimpi? Apakah kemudian saya akan terbangun?? Saya mencoba fokus untuk memastikan apakah saya sedang tertidur. Rasa dingin mengalir cepat ke seluruh tubuh saya. “Ya Tuhan, ini bukan mimpi, ini nyata!!” Batinnya. Lalu rasa dingin itu hilang, berganti dengan rasa hangat yang berasal dari dalam. Air mata saya bercucuran.”

Teringat ucapan ayahnya sepuluh tahun silam “Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey!” terjadi sudah. Ia kini berlutut, tertunduk dengan wajahnya menempel di lantai, Bagian tertinggi otaknya yang selama ini berisi seluruh pengetahuan dan intelektualitasnya kini berada di titik terendah, dalam sebuah sujud penyerahan total kepada Tuhan, yang selama ini ia cari, Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya kepada Islam. “Saya tahu Tuhan itu selalu dekat, mengarahkan hidup saya, menciptakan lingkungan dan memberi kesempatan untuk memilih, namun tetap meninggalkan pilihan krusial kepada saya,” ujarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s