Waspadai Ajaran Liberalisme Islam Oleh Tokoh Islam Indonesia, Liberalisme Agama Diharamkan MUI.

Waspadai Ajaran Liberalisme Islam Oleh Tokoh Islam Indonesia, Liberalisme Agama Diharamkan MUI.

Jaringan Islam Liberal adalah forum terbuka untuk membahas dan menyebarluaskan konsep liberalisme Islam di Indonesia. Prinsip yang dianut oleh Jaringan Islam Liberal yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Jaringan Islam Liberal percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Jaringan Islam Liberal memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Kaum liberal modern saat ini selalu dipelopori intelektual muda yang cerdas dan pintar yang berilmu tinggi dari perguruan tinggi Barat. Kaum Islam liberal atau islam progresif ini pada umumnya selalu memicu pertentangan dengan tokoh Islam lainnya karena dalam berbeda pendapat sering menyindir, memperolok bahkan mengejek dengan nada paling benar sendiri. Para kaum liberal ini dalam melakukan opini selalu berorientasi pada rasio pola pikir kecerdasannya tanpa menggunakan landasan rasionalitas Al Quran dan hadist. Bahkan rasio pemikiran mereka cenderung didominasi dengan pemikiran bahwa ajaran agama tidak lagi harus terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis). Pemikiran progresif Islam Liberal seringkali dilandasi dengan ajaran sekularisme dan pluralisme. Sejarah Konsepsi dan Penyimpangan tiga agenda JIL yang disorot adalah pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan akidah, isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global dan upaya penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel. Tak pelak lagi hal yang dianggap sebagai penyimpangan ajaran itulah yang membuat MUI, Organisasi Islam di Dunia dan berbagai negara beramai ramai menolak Islam Liberal karena dianggap dapat meracuni akidah umat muslim di lingkungannya. Bahkan MUI pada tahun 2005 telah mengeluarkan fatwa haram bagi ajaran liberalisme agama, pluralisme dan sekularisme.

Penolakan gerakan liberal memiliki pandangan yang melenceng dari Islam dan ajaran syariah. Dalam kepercayaan Islam Liberal tersebut, ada konsep pluralisme, percaya bahwa isi pikiran manusia adalah ilham, dan meragukan keaslian Alqur’an, mempertanyakan interpretasi Alqur’an dan hadist. Ajaran liberal tersebut mendorong munculnya interpretasi baru dalam konsep beragama, mempertanyakan ajaran Nabi dan Rasul, hingga menimbulkan metode berbeda mengenai fiqih.

Prinsip yang dianut Islam liberal yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Jaringan Islam Liberal percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Jaringan Islam Liberal memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Kaum liberal modern saat ini selalu dipelopori intelektual muda yang cerdas dan pintar yang berilmu tinggi dari perguruan tinggi Barat. Kaum Islam liberal atau islam progresif ini pada umumnya selalu memicu pertentangan dengan tokoh Islam lainnya karena dalam berbeda pendapat sering menyindir, memperolok bahkan mengejek dengan nada paling benar sendiri. Para kaum liberal ini dalam melakukan opini selalu berorientasi pada rasio pola pikir kecerdasannya tanpa menggunakan landasan rasionalitas Al Quran dan hadist. Bahkan rasio pemikiran mereka cenderung didominasi dengan pemikiran bahwa ajaran agama tidak lagi harus terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis). Pemikiran progresif Islam Liberal seringkali dilandasi dengan ajaran sekularisme dan pluralisme. Sejarah Konsepsi dan Penyimpangan Islam Liberal yang disorot adalah pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan akidah, isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global dan upaya penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel. Tak pelak lagi hal yang dianggap sebagai penyimpangan ajaran itulah yang membuat MUI, Organisasi Islam di Dunia dan berbagai negara beramai ramai menolak Islam Liberal karena dianggap dapat meracuni akidah umat muslim di lingkungannya.

Penolakan gerakan liberal memiliki pandangan yang melenceng dari Islam dan ajaran syariah. Dalam kepercayaan Islam Liberal tersebut, ada konsep pluralisme, percaya bahwa isi pikiran manusia adalah ilham, dan meragukan keaslian Alqur’an, mempertanyakan interpretasi Alqur’an dan hadist. Ajaran liberal tersebut mendorong munculnya interpretasi baru dalam konsep beragama, mempertanyakan ajaran Nabi dan Rasul, hingga menimbulkan metode berbeda mengenai fiqih.

Manifesto Jaringan Islam Liberal

“Islam liberal” menggambarkan prinsip yang dianut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. Islam selalu dilekati kata sifat, sebab kenyataannya Islam ditafsirkan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir –dengan demikian juga memilih satu kata sifat– yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam liberal, kami membentuk “Jaringan Islam Liberal”. Landasan penafsiran kami adalah:

  1. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Kami percaya, ijtihad (penalaran rasional atas teks-teks keislaman) adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik terbatas atau keseluruhan, adalah ancaman atas Islam, sebab Islam akan mengalami pembusukan. Kami percaya ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), maupun ilahiyyat (teologi).
  2. Mengutamakan semangat religio-etik, bukan makna literal teks. Ijtihad yang kami kembangkan berdasarkan semangat religio-etik Quran dan Sunnah Nabi, bukan semata makna literal teks. Penafsiran literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian peradaban kemanusiaan universal.
  3. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. Kami mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung konteks tertentu; terbuka, sebab setiap penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran adalah cermin kebutuhan penafsir pada masa dan ruang yang terus berubah.
  4. Memihak pada yang minoritas dan tertindas. Kami berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kaum minoritas tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas minoritas berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas dipahami dalam makna luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, dan ekonomi.
  5. Meyakini kebebasan beragama. Kami yakin, urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Kami tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar pendapat atau kepercayaan.
  6. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Kami yakin, kekuasaan agama dan politik harus dipisahkan. Kami menentang negara agama (teokrasi). Kami yakin, bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus

Ada dua kelompok yang dikategorikan “musuh” utama Islam liberal. Pertama, konservatisme yang telah ada sejak gerakan liberalisme Islam pertama kali muncul. Kedua, fundamentalisme yang muncul akibat pergesekan Islam dan politik setelah negara-negara muslim meraih kemerdekaannya. Aktivis JIL Ahmad Sahal, menariknya pada periode sahabat. Rujukannya Umar bin Khattab. Dialah figur yang kerap melakukan terobosan ijtihad. Umar beberapa kali meninggalkan makna tekstual Al-Quran demi kemaslahatan substansial. Munawir Sjadzali juga kerap merujukkan pikirannya kepada Umar ketika memperjuangkan kesetaraan hak waris anak laki-laki dan perempuan. Umar menjadi inspirator berkembangnya mazhab rasional dalam bidang fikih yang dkenal sebagai madrasatu ra’yi. Dengan demikian, Sahal menyimpulkan, Islam liberal memiliki genealogi yang kukuh dalam Islam. Akhirnya, Islam liberal adalah juga anak kandung yang sah dari Islam.

Bahkan terdapat Hadis Nabi yang sangat tinggi kesahiannya menegaskan hal yang membuat umat muslim terperanjat. “Pada akhir zaman, akan muncul sekelompok anak muda usia yang bodoh akalnya.Mereka berkata menggunakan firman Allah, padahal mereka telah keluar dari Islam, bagai keluarnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tak melewati tenggorokan. Di mana pun kalian jumpai mereka, bunuhlah mereka. Orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala di hari kiamat.” KUTIPAN bernada provokatif di atas terpampang sebagai moto sebuah buku mungil yang judulnya menyiratkan peringatan keras: Bahaya Islam Liberal. Buku saku setebal 100 halaman itu ditulis Hartono Ahmad Jaiz, 50 tahun, seorang mantan wartawan. Meski kecil, buku tersebut bisa berdampak besar karena mengandung pesan “penghilangan nyawa”. Moto itu bukan sembarang untaian kata. Melainkan terjemahan hadis Nabi Muhammad SAW, yang tersimpan dalam kitab Al-Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari. Mayoritas kaum muslim menilai hadis hasil seleksi Bukhari memiliki kadar kesahihan amat tinggi. Jadi, perintah membunuh dalam hadis itu bisa dipahami sebagai kewajiban syar’i (bemuatan agama) yang bernilai ibadah. Buku itu terbit Januari 2002, bersamaan dengan maraknya pemberitaan tentang komunitas anak muda yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal (JIL). Penempatan hadis riwayat Ali bin Abi Thalib tersebut sebagai moto buku mengundang pertanyaan: apakah Islam liberal yang dikupas buku itu, dengan demikian, sudah masuk kriteria kelompok yang dimaksud isi hadis, sehingga wajib dibunuh? Namun haris lebih dipahami bahwa Hadis tersebut masih bersifat umum. Karena itu, Hartono menyadari, penerapannya bisa menimbulkan fitnah dan perselisihan. Maka perlu pelibatan aparat hukum untuk meredam sengketa. Sesuai dengan kaidah fikih: hukum al-hakim yarfa’u al-khilaf (putusan pihak berwenang berfungsi menyudahi polemik).

Fatwa Haram liberalisme Agama MUI

Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
Nomor : 7/Munas VII/MUI/11/2005
TentangPluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama

Bismillahirrahmanirrahim

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/26-29 Juli 2005 :

Menimbang :

  1. Bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama serta paham-paham sejenis liannya dikalangan masyarakat;
  2. Bahwa berkembangnya paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut;
  3. Bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

Mengingat :

  1. Firman Allah SWT :

    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Imram [3] : 85)

    “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam..” (QS. Al-Imran [3] : 19)

    “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agama-ku”. (QS. Al-Kafirun [109] : 6)

    “Dan tidak patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetpkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzab [33] : 36)

    “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dai negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlakuk adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan kawanmu orang-orang yang memernagi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mreka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Mumtahinah [60] : 8-9)

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamju melupakan bahagaianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orng-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash [28] : 77)

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah”. (QS. Al-An’am [6] : 116)

    “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minun [23] : 71)

  2. Hadist Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam:
    1. Imam Muslim (wafat 262) dalam kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salllam :“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)
    2. Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi, yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang berama Majusi, di mana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. (Riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih Bukhari).
    3. Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas-komunitas non muslim seperti komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal Najran, bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Ahthab adalah tokoh Yahudi dari Ban Quraizhah (Sayyid Quraizhah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Memperhatikan :Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan : Fatwa Tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama

Pertama : Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan,

  1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
  2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
  3. Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuaid engan akal pikiran semata.
  4. Sekulerisme agama adalah memishkan urusan dunia dari agama, agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Kedua : Ketentuan Hukum

  1. Pluralisme, Sekulerisme, dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
  2. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme, Sekulerisme dan Liberalisme agama.
  3. Dalam masalah aqidahdan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.
  4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain lain (pluralitas agama), dalam maslah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M.

Musyawarah Nasional VIIMajelis Ulama Indonesia

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

KH. Ma’ruf Amin
Ketua

Drs. H.Hasanuddin M. Ag
Sekretaris

Pimpinan Sidang Pleno:

Prof. Dr. H. Umar Shihab
Ketua.

Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin
Sekretaris.

Tokoh Islam Yang Dianggap Bebrabagai Pengamat dan tokoh Islam lainnya beberqpa pemikirannya berpaham liberal

  • Abdul Mukti Ali (1923-2004). Guru Besar Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Yogyakarta Guru Besar IAIN Yogyakarta.
  • Nurcholis Madjid. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ( 1965) Pensyarah Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah (1985-2005)
  • Djohan Effendi. IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1970)
  • Prof.Dr Harun Nasution. Penulis buku-buku teks utama IAIN Indonesia.
  • Ahmad Wahib. Fakultas Ilmu Pasti dan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM)
  • M.Dawam Rahardjo. Fakultas Ekonomi UGM (1969)
  • Munawir Sjadzali. Universiti of Exeter, Inggeris.. Georgetown Universiti Amerika.
  • Abdul Munir Mulkhan. Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel (cawangan) Jember dan Sunan Kalijaga.
  • Azyumardi Azra. Fakultas Tarbiyyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1982). Pensyarah Pasca Sarjana Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyyah IAIN Jakarta (1992-sekarang). Guru Besar Sejarah Fakultas Adab IAIN Jakarta.. Pembantu Rektor (1) IAIN Jakarta (1998). Rektor IAIN (UIN) Jakarta (1998-2005
  • Prof.Dr. Komaruddin Hidayat. Sarjana Fakultas Usuluddin IAIN Jakarta (1981). Guru Besar Filsafat Agama IAIN Jakarta (2001-sekarang). Director Pasca Sarjana UIN Jakarta (2005-sekarang). Rektor UIN Jakarta (2006-2010)
  • Nasaruddin Umar. Sarjana IAIN Alauddin, Makasar. Dr. IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.. Pensyarah Fakultas Usuluddin Pasca Sarjana IAIN Jakarta.. Pembantu Rektor 3 IAIN Jakarta.
  • Zainun Kamal. Pembantu Dekan 1 Faklutas Usuluddin UIN Jakarta.. Pensyarah tetap Faklutas Usuluddin, UIN Jakarta.. Pensyarah Pasca Sarjana UIN, Jakarta.
  • Kautsar Azhari Noer. Guru Besar IAIN (UIN) Jakarta.
  • Alwi Abdurrahman Shihab. IAIN Alauddin, Ujung Padang (1986)
  • M.Amin Abdullah. Sarjana Fakultas Usuluddin –Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1982).
  • Masdar Farid Mas’udi. Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1979).
  • Said Aqiel Siradi. Pensyarah Pasca Sarjana UIN Jakarta.
  • Ahmad Syafi’I Ma’arif. Ohio University, Amerika (1980). Pemikiran Islam, Universiti Chicago, Amerika (1983)
  • Goenawan Mohammad. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Jakarta.
  • Jalaluddin Rahmat. Fakultas Publisistik Universiti Pejajaran (1976)
  • M.Syafi’I Anwar. Colombia Universiti, Amerika (2004)
  • Moeslim Abdurrahman. S2 (Master) dan S3 (Phd) Universiti Urbana, Amerika.
  • Ulil Abda’la. Faklutas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya (1987). Program Magister Pasca Sarjana UIN Jakarta (1996). Dr. UIN Jakarta (1999).
  • Abdul Moqsith Ghazali. S2 (Master) UIN Jakarta. S3 (Phd) UIN Jakarta (sekarang). Pensyarah UIN Jakarta.
  • Ahmad Sahal. Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta. Faklutas Usuluddin UIN Jakarta.
  • Bahtiar Effendy. Sarjana IAIN Jakarta (1986). Pensyarah Pasca Sarjana UIN Jakarta (1995-sekarang). Ketua Dewan Akademi Program Pasca Sarjana UIN Jakarta (1999-sekarang).
  • Fathimah Usman. Sarjana IAIN Wali Songo, Semarang. Pusat Studi Gender IAIN Wali Songo. Pensyarah Faklutas Usuluddin IAIN Wali Songo.
  • M.Jadul Maula. IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
  • Muhammad Ali. Pensyarah Faklutas Usuluddin UIN Jakarta
  • Abdul Moqsith Ghazali
    Ahmad Fuad Fanani
    Ahmad Gaus AF
    Ahmad Sahal
    Bahtiar Effendy
    Budhy Munawar-Rahman
    Denny JA
    Fathimah Usman
    Hamid Basyaib
    Husein Muhammad
    Ihsan Ali Fauzi
    M. Jadul Maula
  • M. Luthfie Assyaukanie
    Muhammad Ali
    Mun’im A. Sirry
    Nong Darol Mahmada
  • Rizal Malarangeng
    Saiful Mujani
    Siti Musdah Mulia
    Sukidi
    Sumanto al-Qurthuby
    Syamsu Rizal Panggabean
    Taufik Adnan Amal
  • Ulil Abshar-Abdalla
    Zuhairi Misrawi
  • Zuly Qodir
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s