Al A’raf 80-81: Allah Sebut LGBT Perbuatan Fahisyah, Kaum Yang Melampaui Batas

LGBT atau GLBT adalah akronim dari “lesbian, gay, biseksual, dan transgender”. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa “komunitas gay” karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan. Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman “budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender”. Kadang-kadang istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau transgender. Maka dari itu, seringkali huruf Q ditambahkan agar queer dan orang-orang yang masih mempertanyakan identitas seksual mereka juga terwakili (contoh. “LGBTQ” atau “GLBTQ”, tercatat semenjak tahun 1996). Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika Serikat dan beberapa negara berbahasa Inggris lainnya. Dalam Firman Allah yang termuat dalam QS Al A’raf disebutkan bahwa LGBT adalah perbuatan fahisyah dan orang yang melampaui batas.

  • Al-A’raf, ayat 80-81
  • {وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81) }
  • Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.”

Apa itu Fahisyah

  • Dalam Surat Al A’raf menyebutkan kaum penyuka sejenis atau LGBT dengan sebutan perbuata Fahisyah. Apa itu Fahisyah ?
  • KEBURUKAN itu bertingkat-tingkat, dan keburukan paling parah disebut “fahisyah” (فاحشة), jamaknya “fawahisy” (فواحش). Bentuk lain darinya adalah “fuhsy” (فحش) dan “fahsya’” (فحشاء). Artinya sama.
  • Menurut ahli bahasa, semua hal yang melampaui batas bisa disebut “fahisyah“, tapi ini khusus untuk hal-hal yang buruk dan tidak disukai fitrah yang normal, baik berupa perkataan maupun tindakan. Semua perkara yang tidak sesuai dengan kebenaran dan kadar wajar juga disebut “fahisyah“. Ia merupskan salah satu jenis keliaran dan kebodohan, kebalikan dari kesantunan, kendali diri, dan akal sehat.
  • Dalam ayat-ayat di atas secara eksplisit disitir bahwa perbuatan kaum Luth yang gemar melampiaskan syahwat kepada sesama jenis adalah “fahisyah“. Zina juga disebut “fahisyah“, dan yang dimaksud “fahisyah mubayyinah” (perbuatan keji yang nyata) adalah zina. Menikahi atau menggauli istri ayah, baik ibu tiri apalagi ibu kandung, jelas sebuah “fahisyah“.
  • Makna asal dan konteks penggunaannya dalam Kitabullah memberi kita suatu gambaran jelas bahwa zina, lesbi, homo, dan bentuk-bentuk penyimpangan seksual lain adalah sesuatu yang sangat menjijikkan. Versi-versi terjemah Indonesia biasanya mengalihbahasakan “fahisyah” dengan keji yang berarti: kotor, hina, nista, tidak sopan, merendahkan martabat diri. “Fahisyah” adalah keburukan nomer wahid yang membuat manusia normal mual dan enggan melihat apalagi melakukannya.

Fahisyah artinya keji atau jelek. Kata fahisyah disebut sebanyak 13 kali dalam Al Quran, beberapa diantaranya: Ali Imran/3:135, An Nisa/4:15, dan Al A’raf/7:28, sedangkan bentuk jamaknya (fahsya’) disebut sebanyak 7 kali, diantaranya dalam Al Baqarah/2:169, yusuf/12:24, dan An Nur/24:21. Berikut ini beberapa perbuatan yang dikategorikan fahisyah dalam Al Quran: 

  1. Zina. Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatufahisyah dan jalan yang buruk (Al Isra/17:32, baca juga surat an Nisa/4:15 dan 19).
  2. Lesbian/Homosex. Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya), (ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya,’Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyahitu yang belum dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka) bukan kepada wanita, malah kamu ini kaum yang melampaui batas’(Al A’raf/7:80-81, baca juga Al Ankabut?29:28). 
  3. Menikahi isteri ayah. Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau, sesungguhnya perbuatan itufahisyah dan seburuk-buruk jalan (An Nisa/4:22). 
  4. Perbuatan pidana Janganlah kamu keluarkan mereka (para isteri yang akan dicerai sementara dalam masa iddah) dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan fahisyah yang nyata… (At Tahalaq/65:1). 
  5. Hamka memberikan contoh fahisyah yang nyata ini adalah berzina atau memasukkan laki-laki lain (yang tidak disukai suaminya) kedalam rumah atau berhutang tanpa sepengetahuan suami sementara kebutuhan belanja sudah terpenuhi oleh suaminya atau perbuatan lain yang merusak rumah tangga. 
  6. Syirik . Dan apabila mereka mengerjakan pekerjaan fahisyah, mereka berkata: kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: Sesungguhnya Allah tidak menyuruh mengerjakan fahisyah”(Al A’raf/7:28). 
  7. Beberapa ulama memberikan contoh perbuatan fahisyah ini adalah thawaf di sekeliling ka’bah dengan bertelanjang atau mengingkari Allah dan menyekutukan Nya (lihat Al Quran dan tafsirnya, Universitas Islam Indonesia). Syaithan menyeru agar manusia melakukan fahisyah,’Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan fahisyah; mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui’(Al Baqarah/2: 169 dan 268, serta An Nur/24:21). Sementara Allah melarang kita melakukan fahisyah,’Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan fahsya, kemungkaran dan permusuhan… (An Nahl/16:90 baca juga Al Araf/7:28).  Allah telah memberikan resepnya bagaimana caranya agar manusia tercegah dari perbuatan fahsya, ’Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan fahsya’ dan munkar (Al Ankabut/29:45). Jika kita merasa telah melakukan shalat, namun masih melakukan perbuatan fahsya’ berarti shalat kita belum sesuai dengan standar rasulullah saw. Mari tingkatkan kualitas shalat kita!
  • Secara tersirat, Al-Quran hendak mengatakan bahwa zina, lesbianisme, homoseksual, dan bentuk-bentuk penyimpangan seksual adalah sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, kewajaran, dan kenormalan. 

    Firman Allah Swt.:

    • {وَ لُوطًا}
    • Dan Lut. (Al-A’raf: 80)
    • Bentuk lengkapnya ialah: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Lut. Atau dan ingatlah Lut, ketika ia berkata kepada kaumnya. Lut adalah Ibnu Haran ibnu Azar, yaitu anak saudara lelaki Nabi Ibrahim Al-Khalil a.s. Dia telah beriman bersama Nabi Ibrahim a.s. dan hijrah ke tanah Syam bersamanya. Kemudian Allah mengutus Nabi Lut kepada kaum Sodom dan daerah-daerah sekitarnya untuk menyeru mereka agar menyembah Allah Swt., memerintahkan mengerjakan kebajikan, dan melarang mereka melakukan perbuatan mungkar. Saat itu kaum Sodom tenggelam di dalam perbuatan-perbuatan yang berdosa, hal-hal yang diharamkan, serta perbuatan fahisyah yang mereka adakan sendiri dan belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan Bani Adam dan juga oleh lainnya; yaitu mendatangi jenis laki-laki, bukannya jenis perempuan (homoseks). Perbuatan ini merupakan suatu hal yang belum pernah dilakukan oleh Bani Adam, belum dikenal dan belum pernah terbetik dalam hati mereka untuk melakukannya selain penduduk Sodom; semoga laknat Allah tetap menimpa mereka.
    • Amr ibnu Dinar telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? (Al-A’raf: 80) Amr ibnu Dinar berkata, “Tidak ada seorang lelaki pun yang menyetubuhi lelaki lain kecuali kaum Nabi Lut yang pertama-tama melaku­kannya.”
    • Al-Walid ibnu Abdul Malik —Khalifah Umawiyah, pendiri masjid Dimasyq (Damaskus)— mengatakan, “Sekiranya Allah Swt. tidak menceritakan kepada kita mengenai berita kaum Nabi Lut, niscaya saya tidak percaya bahwa ada lelaki menaiki lelaki lainnya.”

    Karena itulah maka Nabi Lut mengatakan kepada kaumnya, seperti yang disitir oleh firman Allah Swt.:

    • {أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ * إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ}
    • Mengapa kalian mengerjakan perbuatan Jahisyah ituyang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita. (Al-A’raf: 80-81)
    • Yakni mengapa kalian enggan terhadap kaum wanita yang telah diciptakan oleh Allah buat kalian, lalu kalian beralih menyukai laki-laki. Hal ini merupakan perbuatan kalian yang melampaui batas dan suatu kebodohan kalian sendiri, karena perbuatan seperti itu berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. 

    Karena itulah dalam ayat yang lain disebutkan bahwa Nabi Lut berkata kepada kaumnya:

    • { [قَالَ] هَؤُلاءِ بَنَاتِي إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ}
    • Inilah putri-putriku (kawinilah mereka), jika kalian hendak berbuat (secara halal). (Al-Hijr: 71)

    Nabi Lut memberikan petunjuk kepada mereka untuk mengawini putri-putrinya. Tetapi mereka merasa keberatan dan beralasan tidak meng­inginkannya.

    • {قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ}
    • Mereka menjawab, “Sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya engkau tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”(Hud: 79)
    • Yaitu sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kami tidak berselera terhadap putri-putrimu, tidak pula mempunyai kehendak kepada mereka. Sesungguhnya engkau pun mengetahui apa yang kami maksudkan terhadap tamu-tamumu itu.

    Para ahli tafsir mengatakan bahwa kaum lelaki mereka melampias­kan nafsunya kepada lelaki lain, sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain. Demikian pula kaum wanitanya, sebagian dari mereka merasa puas dengan sebagian yang lainnya.

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s