Kisah Tragis Rachel Corrie Saat Bela Palestina, Inspirasi Bagi Umat Dunia

Kisah Tragis Rachel Corrie Saat Bela Palestina, Inspirasi Bagi Umat Dunia

Rachel Aliene Corrie anak muda berusia 23 tahun yang berasal dari Olympia, Washington, seorang pemudi pegiat perdamaian dari Amerika Serikat yang dikenal sebagai pegiat kelompok International Solidarity Movement (ISM). Gerakan Solidaritas Internasional yang bergerak untuk Palestina. Ia telah dilindas hingga tewas oleh sebuah buldozer milik militer Israel (IDF) di Rafah, pada sebuah wilayah yang dipersengketakan di selatan Jalur Gaza selama puncak perlawanan kedua Intifada di Palestina. Kisah tragis seorang Amerika seharusnya menjadi inspirasi bagi umat manusia khususnya umat muslim Indonesia betapa untuk membela Palestina itu adalah kewajiban setiap umat manusiaò

Ia datang ke Gaza sebagai bagian dari tugas kuliahnya untuk menghubungkan kota tempat tinggalnya dengan Rafah dalam sebuah proyek kota kembar. Sementara disana ia telah terlibat dengan rekan-rekannya yang lain sesama pegiat ISM dalam upaya non kekerasan guna mencegah penghancuran rumah warga Palestina oleh tentara Israel.

Beberapa pekan setelah kedatangannya di Palestina, tepatnya pada tanggal 16 Maret 2003, Corrie terbunuh ketika ia dan teman-temannya pegiat ISM terlibat konfrontasi dengan dua buldozer Israel. Corrie pada hari tersebut menghadang laju buldozer Israel yang hendak menghancurkan rumah keluarga seorang apoteker Palestina. Ia bersahabat dengan keluarga tersebut dan selama disana ia hidup bersama mereka. Dia ditabrak dan dilindas oleh buldozer yang dihadangnya hingga mengakibatkan tulang tengkoraknya retak, tulang rusuknya hancur dan menusuk paru-parunya.

Para saksi mata mengatakan bahwa buldozer dengan sengaja melaju kearah Corrie yang pada saat itu mengenakan jaket berwarna jingga terang. Namun hal itu dibantah oleh pemerintah Israel yang mengatakan bahwa insiden itu adalah sebuah kecelakaan yang disebabkan karena operator buldozer tidak melihat keberadaan Corrie di depan kendaraan berat itu.

Pada tahun 2005 orang tua Corrie mengajukan gugatan perdata terhadap negara Israel. Mereka menggugat atas Israel yang tidak melakukan penyelidikan penuh dan kredibel serta bertanggung jawab atas kasus kematian putri mereka,  baik peristiwa itu terjadi dengan disengaja ataupun dikarenakan hal lain yang disebut sebagai kecelakaan. Israel dalam gugatan itu dituntut untuk membayar kompensasi simbolis sebesar 1 Dolar Amerika Serikatdan membawa kasus tersebut sebagai langkah keadilan bagi Corrie dan perjuangan rakyat Palestina yang dibelanya.

Pada bulan agustus 2012 pengadilan Israel menolak gugatan itu, Israel tetap bertahan pada hasil penyelidikan tahun 2003 yang dilakukan oleh militer Israel yang telah memutuskan bahwa Isarael tidak bertanggung jawab atas kematian Corrie.

Kehidupan dan perjuangan Rachel Corrie diabadikan dalam banyak penghormatan, diantaranya drama yang berjudul My Name Is Rachel Corrie dan sebuah paduan suara The Skies are Weeping. Tulisan-tulisannya dibukukan pada tahun 2008 berjudul Let Me Stand Alone, buku tersebut mengisahkan tentang “proses pendewasaan seorang wanita muda yang ingin membuat dunia sebagai tempat yang baik”. Sebuah lembaga sosial Rachel Corrie Foundation for Peace and Justice didirikan untuk melanjutkan perjuangannya.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s