Mengapa Sunnah Dianggap Bi’dah dan Bi’dah Dianggap Sunah

Mengapa Sunnah Dianggap Bi’dah dan Bi’dah Dianggap Sunah

Satu ketika Muhammad bin Waasi’ – salah seorang ulama terkemuka di zamannya – masuk menemui Bilaal bin Abi Burdah, gubernur kota Bashrah. Panjang pakaian Muhammad bin Waasi’ hingga pertengahan betisnya.

Bilaal berkata kepadanya : “Syuhrah macam apa ini wahai Ibnu Waasi’ ?”.

Ibnu Waasi’ menjawabnya : “Engkau yang menganggap (pakaian ini menjadi) syuhrah kepada kami. Ini adalah pakaian orang dulu (Nabi ﷺ dan para shahabat). Engkau saja yang memanjangkan ujung pakaianmu, sehingga sunnah di antara kalian (dianggap) menjadi bid’ah dan syuhrah” [Siraajul-Muluuk oleh Ath-Thurthuusiy, hal. 36].

Itulah keadaan jika sunnah menjadi asing di tengah manusia. Mereka mengenal kebalikannya. Yang sunnah dianggap bid’ah, yang bid’ah dianggap sunnah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لا يَأْتِي عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تُحْيَا الْبِدَعُ وَتَمُوتُ السُّنَنُ.

Dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma, ia berkata : “Tidak datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka membuat-buat bid’ah dan mematikan sunnah di dalamnya. Hingga hiduplah bid’ah dan matilah sunnah” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir, Ibnu Wadldldah dalam Al-Bida’, Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah, Ibnu Abi Zamaniin dalam Ushuulus-Sunnah, dan yang lainnya].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s