Nabi Melarang Menjual Kulit Kurban

Nabi Melarang Menjual Kulit Kurban
Sebagian kaum muslimin ketika melakukan ibadah yang satu ini dengan menjual hasil kurban termasuk yang sering terjadi adalah menjual kulit. 

Ternyata menjual kulit terdapat hadits khusus yang melarangnya . Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  • ﻣَﻦْ ﺑَﺎﻉَ ﺟِﻠْﺪَ ﺃُﺿْﺤِﻴَّﺘِﻪِ ﻓَﻼَ ﺃُﺿْﺤِﻴَّﺔَ ﻟَﻪُ
  • “ Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan kurban, maka tidak ada kurban baginya ” (HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shahih . Adz Dzahabi mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Ibnu ‘Ayas yang didho’ifkan oleh Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1088). Maksudnya, ibadah kurbannya tidak ada nilainya. Larangan ini ditujukan pada shohibul kurban, namun termasuk pula pada wakil shohibul kurban karena posisi wakil sama dengan posisi pemilik. Jika kita lihat prakteknya, panitia kurban adalah wakil shohibul qurban. Maka tidak boleh panitia menjual kulit tersebut.
  • Orang yang berqkurban tidak boleh menjual apapun dari hasil qurbannya. Karena orang yang berqurban, dia menyerahkan semua hewannya dalam rangka beribadah kepada Allah. Sehingga dia tidak boleh menguangkannya atau memberikan bagian dari hasil qurbannya untuk membayar jasa pihak jagal.
  • Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ﺃَﻣَﺮَﻧِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْ ﺃَﻗُﻮﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺑُﺪْﻧِﻪِ ﻭَﺃَﻥْ ﺃَﺗَﺼَﺪَّﻕَ ﺑِﻠَﺤْﻤِﻬَﺎ ﻭَﺟُﻠُﻮﺩِﻫَﺎ ﻭَﺃَﺟِﻠَّﺘِﻬَﺎ ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺍﻟْﺠَﺰَّﺍﺭَ ﻣِﻨْﻬَﺎ . ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﺤْﻦُ ﻧُﻌْﻄِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِﻧَﺎ. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk menangani onta kurbannya, mensedekahkan dagingnya, kulitnya, dan asesoris onta. Dan saya dilarang untuk memberikan upah jagal dari hasil qurban. Ali menambahkan: Kami memberikan upah dari uang pribadi. (HR. Bukhari 1717 & Muslim 1317).
  • Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman, orang yang menjual kulit kemudian uangnya dimanfaatkan pribadi, bisa membatalkan pahala qurbannya. Beliau bersabda, ﻣَﻦْ ﺑَﺎﻉَ ﺟِﻠْﺪَ ﺃُﺿْﺤِﻴَﺘِﻪِ ﻓَﻼَ ﺃُﺿْﺤِﻴَﺔَ ﻟَﻪُ. Siapa yang menjual kulit qurbannya maka tidak ada qurban baginya. (HR. Al-Hakim 2/390 dan dihasankan al-Albani)
  • Panitia qurban, statusnya adalah wakil dari shohibul qurban. Sehingga apapun yang dilakukan panitia qurban, dianggap sebagai praktek pemilik qurban. Oleh karena itu, panitia qurban tidak diizinkan menjual kulit qurban, kemudian uangnya dimanfaatkan untuk biaya operasional. Karena statusnya sama dengan menjual hasil qurban, yang manfaatnya kembali kepada pemilik qurban.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s