Tafsir Al-Tabari, Kitab Tafsir Rekomendasi Para Ulama Besar Dunia

Tafsir Al-Tabari, Kitab Tafsir Rekomendasi Para Ulama Besar Dunia

Tafsir Al-Tabari atau Ath-Thabari yang aslinya berjudul “Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an” adalah sebuah Tafsir Al-Qur’an yang disusun oleh Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Namun lebih dikenal sebagai Tafsir Tabari saja. Kitab ini dijuluki sebagai kitab terlengkap dan teragung[butuh rujukan] yang menafsirkan Al Qur’an karena metode penyusunan yang bagus dan wujudnya yang sangat tebal dan berjilid-jilid, yakni diketahui sekitar 26 Jilid.

Penyusun mengatakan ketika menulis kitab ini, “Ketika aku berusaha menjelaskan Tafsir al-Qur’an dan menerangkan makna-makna yang Insya-Allah menjadi kitab yang mencakupi setiap perkara yang perlu diketahui oleh manusia melebihi kitab-kitab lain yang ada sebelumnya. Aku berusaha menyebutkan dalil-dalil yang disepakati oleh seluruh ummat dan yang diperselisihkannya, menjelaskan alasan setiap mazhab yang ada dan menerangkan alasan yang benar berdasarkan pendapatku dalam setiap permasalahan yang berkaitan secara ringkas.” Di antara unsur-unsur istimewa dan terpenting dalam methodologi Tafsir ath-Thabari ini adalah ketika meneliti setiap tema perbahasannya yang bertumpu kepada pendapat-pendapat (atau methode tafsiran) yang dikuatkan dengan sanad-sanad dari ayat, hadis dan atsar-atsar para salaf pada setiap ayat al-Qur’an, sehingga buku ini mencakupi seluruh pendapat yang ada dari kalangan salaf yakni para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut tabi’in. Sekaligus menjadi penjelas bahawa Tafsir dia ini adalah Tafsir bil matsur yang mengemukakan methode tafsiran ayat berdasarkan hadis-hadis Nabi dan kefahaman para salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Metode Imam ath-Thabari dalam menyusun kitab ini sangat detil dalam menjelaskan setiap perkara. Dia meneliti dengan sabar setiap hadits dan atsar yang menyentuh penafsiran ayat al-Qur’an dengan menjelaskan Asbabun Nuzul-nya (sebab turunnya ayat), hukum-hukum, qira’at, dan beberapa kalimat yang maknanya perlu penjelasan yang terperinci. Usaha ini menghasilkan kitab tafsir yang besar dengan cetakan yang berjilid-jilid. Kemudian kitab ini telah ditahqiq, dan dibukukan dari manuskrip asli yang disemak dan diteliti oleh Syaikh al-Muhaddits Ahmad Muhammad Syakir dan Syaikh Mahmud Muhammad Syakir.

Rekomendasi para Ulama 

  • Imam as-Suyuthi berkata, “Jika anda bertanya, kitab tafsir mana yang dapat dijadikan sebagai rujukan?”Maka aku jawab, “Yaitu tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari, di mana para Imam yang amat kompeten bersepakat bahawa belum ada kitab tafsir yang menyerupainya.”
  • Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun kitab-kitab tafsir yang beredar di tangan orang yang paling benar adalah karya Ibnu Jarir ath-Thabari. Dia menyebutkan perkataan-perkatan para salaf dengan sanad-sanad yang kuat, tidak ada bid’ah di dalamnya dan tidak meriwayatkan hadis dari orang-orang yang diragukan seperti Mukatil B. Sulaiman dan al-Kalbi.” 
  • Al-Hafiz Ibnu Katsir adalah tokoh dalam bidang tafsir yang telah mengambil banyak manfaat dari Tafsir ath-Thabari ini sekaligus menghasilkan ringkasan dan menambahkan banyak manfaat berkaitan dangan hadis, fiqh, ushul, sejarah, dan beberapa yang lainnya yang bermanfaat yang kemudian dikenali sebagai Tafsir Ibnu Katsir.
  • Imam adz-Dzahabi berkata, “Inilah tafsir seorang Imam dalam ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah yang dipenuhi dengan perkataan para Salaf yang menetapkannya bukan yang menafikannya, dan tidak mentakwilkannya dan Dia (Allah) tidak menyerupai makhluk selama-lamanya.”

Rujukan

  • Tafsir ath-Thabari 1/51
  • Al-Itqan fi ulum al-Qur’an, karya Jalaluddin as-Suyuthi
  • Majmu al-Fatawa Ibnu Taimiyah, 2/227-228
  • Siyar A’lam an-Nubala’, 14/280

    Kitab Tafsir Al-Thabari 

    • Sebagaimana dimaklumi Al-Quran sebagai sumber utama dalam Islam, memuat ajaran Islam yang sangat lengkap, disamping itu juga diyakini dapat menjawab segala macam problematika umat. Namun disisi lain, al-Quran tidak dapat dipahai secara harfiyah [laterlek] begitu saja, dibutuhkan semacam penjelas makna yang terkandung didalamnya. Dalam hal ini, Tafsir sebagai salah disiplin Ilmu senantiasa berkembang, kitab-kitab hadts dengan berbagai macam metode silih berganti bermunculan. 
    • Dinamika tersebut sebenarnya telah ada beradab-abad tahun yang lalu, dan sampai saat ini al-Quran masih terus dikaji dengan berbagai pendekatan. Sehingga muncullah Kitab Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer.  Berkenaan dengan hal ini, kali ini kami akan memberikan informasi berkenaan dengan salah satu Tafsir yang terkenal dan sering dijadikan rujukan diberbagai forum pendidikan. Kitab Tafsir yang dimaksud adalah Tafsir al-Thabari.
    • Biografi Singkat Pengarang Tafsir al-Thabari
    • Mungki banyak diantara kita yang mendengar tentang kitab Tafsir al-Thabari, namun juga tidak menutup kemungkinan tidak mengenal bahkan tidak mengetahui siapa pengarangnya.
    • Nama Pengarang Tafsir al-Thabari adalah  Muhammad bin Jarir Ibn Yazid Ibn Ghalib al-Thabari al-Amuli, yang memiliki alam kunyah Abu Ja’far. Beliau lahir pada tahun 225 H / 839 M di Iran, tepatnya di kota Amul, sebagai Ibukota Thabaristan, Dan wafat pada tahun 311 H atau sekitar tahun 923 M.
    • Al-Thabari yang diketahui telah hafal al-Quran sejak berumur 7 tahun ini memulai karir pendidikannya dari kampong halamannya sendiri, yakni Amul. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya diberbagai negara, antara lain Rayy, Bashrah, Kufah Syiria hingga mesir. Selain situasi politik yang kondusif, lantaran hidup pada masa kejayaan Islam, beliau juga berada dalam keluarga yang memiliki nuansa pendidikan agama yang sangat baik.
    • Sinopsis Singkat Tafsir al-Thabari
    • Kitab Tafsir al-Thabari dikarang pada sekitar paruh abad ketiga Hijriyah. Dalam penulisan Tafsir al-Thabari yang memiliki nama asli Jami’ al-Bayan ‘An Ta’wil Ayi al-Quran ini selain memuat aspek Tafsir, beliau juga memberikn ulasan sejarah dan fiqih. Dan ditinjau dari kebahasaan, sepertinya beliau tidak jauh berbeda dengan Tafsir al-Qurthubi yang menyertakan berbagai macam syair-syair. Hal ini bertujua untuk memperkuat makna yang akan dipilih untuk dianalisa.
    • Disisi beliau seringkali mengenyampingkan pembahasan aspek gramatika [Nahwu], dan justru lebih menekankan analisi qira’ah, dan menjelaskan berbagai macam kecendrungan pemahaman diakibatkan berbagai macam qira’ah yang berbeda. Selain itu, al-Thabari juga seringkali memaparkan riwayat-riwayat ataupun pendapat dari kalangan sahabat, maupun tabi’in dan tabi’  tabi’in. 
    • Dalam aspek Fiqih, al-Thabari lebih memilih keluar dari perdebatan panjang para ahli fiqih. Al-Thabari memposisikan dirinya sebagai Mufassir yang tidak terikat pada madzhab fiqih tertentu, namun beliau tetap membahas dan acapkali memberikan penilaian atas dasar analisa yang ditemukan.
    • Semantara itu, dalam aspek tauhid atau ilmu kalam, al-Thabari seringkali ikut dalam diskusi dan pembahasan yang panjang. Apalagi ketika beliau harus memilah antara Ahlussunnah wa al-Jama’ah dengan pemahaman kaum Mu’tazilah.
    • Dari segi metode penafsian, Kitab Tafsir al-Thabari ini tergolong dalam tafsir bi al-Ma’tsur, dengan tahapan penafsirannya sebagai berikut :
    • Mula-mula beliau membahas ayat al-Quran dengan memaparkan makna terminologinya, dan terkadang juga menyinggung I’rab. Dan ketika tidak memiliki penguat pemahaman sebuah makna dai riwayat hadits, beliau menyadur berbagai macam syair-syair, untuk selanjutnya dibahas sesuai aspeknya.
    • Keterangan Kitab Tafsir al-Thabari
    • عنوان الكتاب : تفسير الطبري من كتابه جامع البيان عن تأويل آي القرآن
    • المؤلف : الشيخ محمد بن جرير الطبري
    • Perkembangan kajian tafsir tidak dapat dilepaskan dari nama at-Thabari. Beliau adalah seorang mufassir andal, senior, dan karyanya sampai saat ini masih dijadikan rujukan oleh banyak orang terkait penafsiran Al-Qur’an. Di antara karya monumental at-Thabari adalah  Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an.
    • Kitab ini berisi tafsir al-Qur’an 30 juz, sangat tebal dan berjilid-jilid, serta memuat banyak riwayat terkait konteks dan makna sebuah ayat. Dalam kitab ini, at-Thabari juga tidak lupa menjelaskan tafsir surat al-Maidah 51. Ia menjelaskannya panjang lebar dan mendiskusikan beberapa riwayat yang berkaitan dengan konteks penurunan ayat ini.
    • Setelah mengutip kisah perdebatan ‘Ubadah bin Shamit dan ‘Abdullah bin Ubay, kisah Abu Lubabah, dan kisah dua orang muslim yang pindah agama lantaran takut ditimpa kesusahan, at-Thabari mengatakan:
    • والصواب من القول في ذلك عندنا أن يقال: إن الله تعالى ذكره نهى المؤمنين جميعا أن يتخذوا اليهود والنصارى أنصارا وحلفاء على أهل الإيمان بالله ورسوله، وأخبر أنه من اتخذهم نصيرا وحليفا ووليا من دون الله ورسوله والمؤمنين فإنه منهم في التحزب على الله وعلى رسوله والمؤمنين، وأن الله ورسوله منه بريئان
    • “Pendapat yang benar menurut kami ialah bahwa Allah SWT melarang seluruh orang beriman menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai penolong, sekutu, dan teman koalisi (setia) yang dapat merugikan orang mukmin lainnya. Allah SWT mengabarkan bagi siapa pun  yang menjadikan mereka sebagai penolong, sekutu, dan teman setia, maka dia menjadi bagian dan berpihak pada mereka dalam hal melawan Allah SWT, Rasulullah SAW, dan orang mukmin. Dengan demikian, Allah dan Rasulullah tidak bertanggung jawab atas mereka.
    • Menurut at-Thabari, perbedaan ulama tentang asbabul nuzul surat al-maidah 51 ini tidak terlalu substansial dan kontradiktif: baik ditujukan untuk Ubadah bin Shamit dan ‘Abdullah bin Ubay, Abu Lubabah, atau  dua orang muslim yang pindah agama lantaran takut susah, intinya sama saja. Karena yang menjadi acuan dalam ayat ini adalah keumuman maknanya.
    • Sebenarnya ketiga kisah di atas masih dipermasalahkan otentitasnya, namun yang pasti menurut at-Thabari, ayat ini ditujukan kepada orang munafik. Hal ini dapat dipahami dengan melihat ayat setelahnya. At-Thabari menuliskan:
    • غير أنه لا شك أن الآية نزلت في منافق كان يوالي يهود أو نصارى، خوفا على نفسه من دوائر الدهر، لأن الآية التى بعد هذه تدل على ذلك. وذلك قوله: “فترى الذين في قولبهم مرض يسارعون فيهم يقولون نخشى أن تصيبنا دائرة:
    • “Tidak diragukan lagi bahwa ayat ini diturunkan dalam konteks orang munafik, yaitu mereka yang berkoalisi dengan Yahudi dan Nasrani karena takut ditimpa musibah dan kesusahan. Kesimpulan ini didasarkan pada ayat setelahnya, ‘Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapatkan bencana’ (QS: al-Maidah ayat 52).”
    • Pada bagian akhir penafsiran surat ini, at-Thabari menjelaskan:
    • أن الله لا يوفق من وضع الولاية في غير موضعها فوالي اليهود والنصاري-مع عداوتهم الله ورسوله والمؤمنين- على المؤمنين، وكان لهم ظهيرا ونصيرا، لأن من تولاهم فهو لله ولرسوله حرب
    • “Sesungguhnya Allah tidak memberkati orang yang berkoalisi (minta tolong) kepada orang yang tidak tepat. Seperti menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai sekutu dan penolong. Padahal mereka memusuhi Allah, Rasul, dan orang mukmin. Siapapun yang berkoalisi dengan mereka berati ia memerangi Allah, Rasul, dan orang mukmin.”
    • Dari pemaparan di atas dapat dipahami bahwa ayat ini berkaitan dengan orang munafik. Mereka hanya memanfaatkan Islam hanya untuk kepentingan sesaat. Giliran umat Islam lemah, mereka takut dihancurkan oleh orang kafir dan akhirnya berpihak ada orang kafir yang memerangi umat Islam. Sebagian riwayat menyebut, mereka tidak sekedar berpihak, tetapi juga mengikuti agama mereka.
    • Dengan demikian, dalam konteks ini dilarang keras menjadikan orang kafir sebagai teman dekat, pelindung, ataupun penolong, karena hal itu dapat menyakiti perasaan orang Islam, bahkan menghancurkan orang Islam secara bertahap. Wallahu a’lam.
    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s