Umat Bergejolak dan Banjir Hujatan Pada Polri, Ketika Film Pendeknya Lecehkan Umat Islam Indonesia

Banjir Hujatan Ketika Film Pendek POLRI Lecehkan Umat Islam Indonesia

Ketidakpuasan umat Islam terhadap Polri muncul lagi untuk kesekian kalinya. Belum hilang kasus Ahok, aksi damai 212 dan kasus kriminalIsasi ulama kembali Polri memperlihatkan kurangnya sensitivitas polisi dalam sejumlah aktifitas profesionalitasnya belakangan ini. Sikap Polri itu dipandang para tokoh Islam dan pengamat sosial politik sebagai penyebab munculnya langkah-langkah penegakan hukum yang diskriminatif, berbagai ucapan dan aktifitas yang dianggap melukai hati kalangan masyarakat tertentu.  Kali ini yang sangat menghebohkan adalah peristiwa diunggahnya Film “Kau adalah Aku yang Lain” lewat akun media sosial oleh Divisi Humas Polri menimbulkan kontroversi dan gejolak luarbiasa umat Islam Indonesia. Film ini dianggap mendiskreditkan kelompok agama tertentu. 

Inilah hujatan dan kritikan terhadap Polri

  • Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan menyayangkan beredarnya film pendek pemenang Police Movie Festival berjudul ‘Aku Adalah Kau yang Lain’, yang menjadi kontroversi. Amirsyah meminta pihak kepolisian memberi klarifikasi terkait dengan film tersebut. “Terhadap film pendek tersebut, MUI merasa prihatin terhadap kinerja Humas Polri,” kata Amirsyah dalam keterangannya, Kamis (29/6/2017).  Amirsyah juga prihatin terhadap kinerja tim juri yang berlatar belakang seniman, seperti Renny Jayusman dan Oppy Andaresta, yang dinilai kurang profesional. Sebab, tim juri memilih 20 film terbaik yang salah satunya memicu pro-kontra. “Humas Polri kurang memiliki rasa sensitivitas karena menerima dan meng-upload-nya ke media. Jadi, meskipun film tersebut bukan buatan polisi, namun disesalkan film tersebut sempat beredar di publik,” ujarnya. Amirsyah meminta Humas Polri dan sutradara film menyampaikan permintaan maaf kepada publik. “Meminta sutradara agar minta maaf kepada publik karena telah melukai hati umat Islam. Juga Humas Polri agar minta maaf di hari baik ini, Idul Fitri,” tuturnya. Ke depan, MUI mendesak pihak terkait melibatkan sejumlah pihak, seperti Lembaga Sensor Film (LSF), MUI, Muhammadiyah, dan NU, dalam pembuatan film semacam itu. “Sehingga film yang beredar di masyarakat tidak kontraproduktif terhadap visi dan misi institusi Kepolisian RI dalam melindungi, mengayomi masyarakat,” ucap Amirsyah. 
  • Ketua Dewan Pertimbangan dan Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyayangkan beredarnya video atau film pendek berbau sara yang disebarkan oleh Divisi Humas Polri.Menurut Din, video tersebut berpotensi mendeskreditkan islam dan umat muslim. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode mengatakan, video berdurasi tujuh menit itu jelas menyakiti hati umat Islam.Dia menganggap video tersebut memberi penggambaran bahwa umat islam adalah agama yang intoleran. Din juga meminta kepada semua pihak yang terlibat, baik sutradara maupun produser dan sponsornya untuk meminta maaf.Din menilai, narasi dalam video itu keliru dan rancu, karena justru umat Islamlah yang sangat toleran dan membela kemajemukan Indonesia. Din juga menyesalkan keterlibatan Polri dalam pembuatan atau penyebaran video/film itu. Dia mengaku mempertanyakan kresibilitas polisi sebagai aparat penegak hukum, namun justru membantu hal yang berpotensi mengganggu keamanan.
  • Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid sangat menyayangkan film tersebut bisa memenangkan Festival Film Polisi 2017. Film yang kemudian ditayangkan sehari sebelum Idul Fitri pada melalui media sosial Divisi Humas Polri ini kemudian menjadi polemik baru. Karena faktanya pesan yang ditangkap umat Islam dari film bukan pesan toleransi yang diterima. Tapi justru memojokkan umat Islam. Mencitraburukkan umat Islam dan justru membuat umat Islam menjadi tidak mudah diterima oleh warga yang lain, seolah umat Islam intoleran. Karena itu Hidayat menilai, sikap yang paling baik dari polisi, bukan hanya menarik penayangan film ini, tapi juga perlu meninjau ulang pembuat film ini sebagai pemenang. Kemudian harus diusut siapa yang sebenarnya mempromosikan film ini di media sosial oleh humas Polri.
  • Suara lebih keras keluar dari tokoh Oslam yang lain kali ini dari dewan pakar ICMI. Dewan Pakar ICMI Anton Tabah Digdoyo menilai film berjudul “Aku Adalah Kau Yang Lain” merupakan bentuk fitnah terhadap Islam. Anton menilai Polri seharusnya tidak menayangkan film tersebut karena bertentangan dengan fakta. Anton mengatakan seharus Polri tidak menayangkan film seperti itu, karena Indonesia telah sepakat memilih berdemokrasi pancasila berdasar ke Tuhan Yang Maha Esa yang artinya berkebebasan dalam koridor ajaran agama.
  • Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS Nasir Djamil memahami, dibuatnya film pendek berjudul “Kau adalah Aku yang Lain” bertujuan baik yakni ingin mempertontonkan peran polisi dalam menjembatani perbedaan yang terjadi di masyarakat. “Mungkin maksudnya bagus, ingin memperlihatkan peran dan fungsi polisi dalam menjembatani perbedaan yang terjadi di dalam masyarakat,” kata Nasir seperti silansir Republika.co.id, Kamis (29/6). Namun demikian, menurutnya setting film tersebut malah mempertontonkan kekonyolan. “Setting film tersebut sangat konyol dimana menampilkan umat Islam dan umat Kristen. Seolah-olah ajaran Islam itu tidak toleran. Nasir kemudian berpendapat, film tersebut sangat menyudutkan Islam dan umatnya karena ditampilkan intoleran. Bahkan, menurutnya sangat wajar jika film tersebut mengundang reaksi dan kecaman dari masyarakat dan sejumlah tokoh umat Islam “Jelas film itu sangat menyudutkan Islam dan umatnya karena ditampilkan intoleran. Wajar kalau kemudian menimbulkan reaksi dan kecaman dari masyarakat dan sejumlah tokoh umat Islam,” ujar Nasir.Nasir kemudian berpendapat, film tersebut sangat menyudutkan Islam dan umatnya karena ditampilkan intoleran. Bahkan, menurutnya sangat wajar jika film tersebut mengundang reaksi dan kecaman dari masyarakat dan sejumlah tokoh umat Islam “Jelas film itu sangat menyudutkan Islam dan umatnya karena ditampilkan intoleran. Wajar kalau kemudian menimbulkan reaksi dan kecaman dari masyarakat dan sejumlah tokoh umat Islam,” ujar Nasir. Film Kau adalah Aku yang Lain menjadi pemenang dalam festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017. Film ini diunggah ke Youtube kemudian link-nya dibagikan melalui akun Facebook dan Twitter Divisi Humas Polri pada hari Kamis, (23/6) lalu. Selanjutnya, film ini menjadi kontroversi di media sosial. Sebagian warganet mengapresiasi film itu, tapi banyak juga yang menilai isi film ini mendiskreditkan dan menyudutkan Islam. Youtube pun memutuskan menghapus video film tersebut dari lamannya. 
  • Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menyoroti empat hal terkait kontroversi film tersebut, yakni isi film, momentum penayangan, pengunggah, dan penghargaan. Menurut Reza, penayangannya pada momen Idul Fitri, yang merupakan hari raya umat Islam, memperburuk isi film tersebut. Film yang dipublikasikan lewat akun media sosial resmi Polri ini menyabet juara pertama Police Movie Festival. “Percampuran isi, momen, pengunggah, dan trofi itu memperlihatkan kurangnya sensitivitas polisi dalam sejumlah kerjanya belakangan ini,” kata Reza, kepada Republika.co.id, Kamis (29/6). Sikap Polri itu dipandang sebagai penyebab munculnya langkah-langkah penegakan hukum yang diskriminatif dan melukai hati kalangan masyarakat tertentu. Reza berharap polisi bisa lebih matang dan peka dalam membawa diri di tengah kompleksitas sosial. Reza pun membandingkan dengan perilaku Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dinilai banyak kalangan lebih lihai merebut hati publik. TNI justru dirasa lebih menenteramkan dan mengayomi masyarakat. Ia menyebut penayangan film “Kau adalah Aku yang Lain” membuat institusi kepolisian kehilangan kepercayaan masyarakat. “Amunisi utama polisi sesungguhnya adalah kepercayaan masyarakat. Bukan senjata api, teknologi canggih untuk melacak penjahat, maupun keterampilan bela diri. Apesnya, kepercayaan itulah yang saat ini terkesan sedang diunggis bahkan oleh institusi kepolisian sendiri,” kata Reza Indragiri. Reza mengungkapkan, situasi ini menjadi momentum bagi Polri untuk menata strategi kehumasannya. Polisi harus menjadi agen perubahan sosial yang proaktif dan santun. Polisi tidak boleh diskriminatif dan tebang pilih dalam penegakan hukum. Menurutnya, pendekatan komunikasi polisi berpengaruh dalam pergaulan masyarakat. Peserta Community Policing Development Program, Jepang ini meminta Polri untuk meminta maaf karena telah secara kurang arif mengabaikan ekses dari konten film tersebut, di balik keinginan untuk menyemaikan sikap toleransi dan kebhinekaan. “Konkretnya, betapa luhurnya jika Polri meminta maaf kepada masyarakat luas, teristimewa kepada komunitas yang di dalam film “Kau adalah Aku yang Lain” telah difiksikan secara vulgar sebagai kaum penindas
  • Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simajuntak mengatakan, video karya Anto Galon menunjukkan rendahnya kualitas literasi toleransi si pembuat dan juri serta arat kepolisian. Pesan toleransi dalam video berdurasi tujuh menit itu, kata Dahnil perlu ditingkatkan lagi agar pesan toleransinya dapat lebih autentik. Melalui video tersebut, lanjut Dahnil, Polri justru terkesan memperkuat stigmatisasi memprovokasi dan bersikap intoleran. Dia juga mengaku sedih dengan penggambaran umat muslim yang ditampilkan dalam video yang berjudul ‘Kau adalah Aku yang lain’. Terkait prinsip toleransi dan berpancasila, Dahnil menganggap pihak yang perlu mengkaji ulang adalah elit politik dan aparatur negara, bukan rakyat. Rakyat, kata dia, telah memiliki toleransi yang otentik dan tertanam dalam nadi dan jiwa, bukan berdasar pada komoditi politik atau ekonomi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s