Yesus dan Para Nabi Berpuasa. Benarkah Yesus dan Para Nabi Seorang Muslim

Yesus dan Para Nabi Berpuasa. Benarkah Yesus dan Para Nabi Seorang Muslim

Firman Allah “kama kutiba ‘alal-ladzina min qablikum” ini menunjukkan bahwa kewajiban puasa telah dilakukan oleh orang-orang beriman sebelum Nabi Muhammad SAW, dengan syariat yang berbeda-beda.

…Dalam Bibel sendiri, bertebaran kisah puasa para nabi terdahulu, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru…

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi, jauh sebelumnya, Nabi Adam telah diperintahkan untuk berpuasa tidak memakan buah khuldi (Qs. Al-Baqarah 35). Maryam bunda Nabi Isa pun berpuasa hingga tidak bicara kepada siapapun (Qs. Maryam 26). Nabi Musa bersama kaumnya berpuasa empat puluh hari. Nabi Isa pun berpuasa. Nabi Daud berpuasa selang-seling (sehari berpuasa dan sehari berikutnya berbuka). Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa Asyura yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy yang lain.

Dalam Bibel sendiri, bertebaran kisah puasa para nabi terdahulu, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Perhatikan ayat-ayat berikut:

  • Puasa pada masa Nabi Musa: “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu” (Imamat 16:29)
  • “Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya” (Imamat 16:31)
  • “Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian; kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan harus merendahkan diri dengan berpuasa…” (Imamat 23:27, Bilangan 29:7).
  • “Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa…” (Imamat 23:32).
  • Puasa pada bulan kesembilan: “Pada bulan sembilan tahun kelima pemerintahan Yoyakim raja Yehuda, rakyat disuruh berpuasa untuk memperoleh belas kasihan dari TUHAN. Penduduk Yerusalem dan orang-orang yang datang dari kota-kota Yehuda, semuanya berpuasa” (Yeremia 36:9, BIS). Dalam penanggalan lunar (komariyah), bulan kesembilan hijriyah itu adalah bulan Ramadhan.
  • Nabi Daud berpuasa dengan tidak makan dan semalaman berbaring di tanah (2 Samuel 12:16). Bahkan ia bertaqarrub kepada Allah dengan puasa sampai badannya kurus: “Lututku melentuk oleh sebab berpuasa, dan badanku menjadi kurus, habis lemaknya” (Mazmur 109:24).
  • Nabi Yunus berpuasa selama 3 hari 3 malam dalam perut ikan (Yunus 1:17). Pada masanya, orang-orang Niniwe berpuasa selama 40 hari 40 malam dengan tidak makan, tidak minum dan tidak berbuat jahat (Yunus 3:1-10).
  • Orang-orang Israel pada massa Samuel berpuasa untuk bertaubat kepada Tuhan (I Samuel 7:6) dan berkabung (I Samuel 31:13; II Samuel 1:12).
  • Ester berpuasa selama 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum (Ester 4:16); Nabi Zakharia diperintah Tuhan untuk berpuasa (Zakharia 7:5); Nehemia berpuasa ketika berkabung (Nehemia 1:4); Daniel juga berpuasa (Daniel 9:3); Yoel berpuasa bersama penduduk negerinya (Yoel 1:14).
  • Selain berpuasa dengan tidak makan dan tidak minum, Bibel juga mencatat puasa dengan cara lain: Nabi Ayub berpuasa 7 hari 7 malam tidak bersuara (Ayub 2:13); Puasa Elia berpuasa dengan berjalan kaki selama 40 hari 40 malam ke gunung Horeb (1 Raja-raja 19:8); Daniel berpuasa dengan hanya makan sayur dan minum air putih selama sepuluh hari (Dan 1:12).
  • Kitab Perjanjian Baru juga banyak mencatat amalan puasa, antara lain: Puasa Senin-Kamis setiap pekan yang dilakukan oleh orang Farisi pada masa Yesus (Lukas 18:12); Yohanes pembabtis berpuasa dengan tidak makan dan tidak minum (Matius 11:18); Hana seorang nabi perempuan tidak pernah meninggalkan ibadah puasa dalam rangka bertaqarrub kepada Tuhan (Lukas 2:36-37); Paulus berpuasa selama 3 hari 3 malam dengan cara tidak makan, tidak minum dan tidak melihat (Kisah Para Rasul 9:9); Jemaat mula-mula berpuasa untuk menguatkan Paulus dan Barnabas dalam pelayanan (Kisah Para Rasul 13:2-3); dan lain-lain.
  • Yesus dan Musa, karena dalam kitab Bibel sendiri mengabadikan puasa yang mereka lalukan. Bukankah Nabi Musa dan Yesus sama-sama berpuasa jasmani dan rohani selama 40 hari 40 malam nonstop? Musa berpuasa tidak makan dan tidak minum selama 40 hari 40 malam pada saat menerima Sepuluh Firman/Dasatitah (The Ten Commandments):
  • “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan Tuhan empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman” (Keluaran 34:28).
  • Sementara Yesus berpuasa 40 hari 40 malam hingga kelaparan pada saat dicobai iblis di padang gurun: “Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus” (Matius 4:2).

Tidak ada petunjuk puasa secara jelas dan rinci

  • Bila puasa dalam Islam telah diatur secara jelas dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi, sebaliknya Bibel tidak punya aturan yang jelas tentang amalan puasa.
  • Yesus dalam Bibel tak pernah memberikan penjelasan normatif mengenai waktu, syarat, dan amalan-amalan puasa secara detil. Akibatnya umat Kristen melakukan puasa secara variatif.  Berbagai aliran/denominasi gereja yang melakukan puasa dengan tatacara yang disusun oleh pendetanya masing-masing. Kristen Protestan tidak mewajibkan untuk berpuasa, sedangkan Kristen Katolik mewajibkan untuk berpuasa  pada masa pra-paskah.
  • Keuskupan Surabaya mengeluarkan peraturan puasa tahun 2004 bahwa puasa Katolik adalah bebas makan apa saja, tapi hanya boleh makan kenyang sekali sehari. Peraturan yang ditandatangani oleh Romo Julius Haryanto CM itu menyatakan bahwa berdasarkan Kitab Hukum Kanonik nomor 1249-1253 dan Statuta Keuskupan Regio Jawa No. 111, ditetapkan: Semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60 wajib berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Dalam arti yuridis, puasa orang Katolik ini berarti makan kenyang hanya sekali sehari.
  • Kristen Ortodoks Syria (KOS) berpuasa “shaumil kabir” selama 40 hari berturut-turut pada tiap tahun sekitar bulan April, tanpa makan sahur. Puasa KOS lainnya adalah puasa Rabu dan Jum’at dalam rangka mengenang kesengsaraan Kristus.
  • Ada pula denominasi gereja yang berpuasa hanya menahan hal-hal yang disenanginya, misalnya: berpuasa merokok, berpuasa tidak makan nasi dan daging, berpuasa tidak nonton televisi dan lain sebagainya. Semuanya dijalankan dalam kurun waktu tertentu, bisa 40 hari seperti yang Yesus Kristus pernah lakukan, bisa genap sebulan, ada pula yang melakukan bersamaan waktu puasa kaum Muslim.
  • Frustasi dengan ketidakjelasan syariat puasa, sebuah lembaga kristiani dalam amarannya berjudul “Puasa dalam Agama Kristen” mengimbau agar jemaat berpuasa terserah sesuai seleranya:
  • “Bagaimana cara kita berpuasa? Terserah pribadi masing-masing. Tentukan sendiri jangka waktunya: 8 jam, 1 hari, 1  hari 1 malam, 3 hari, 7 hari, 40 hari, dst. Tentukan jenis puasanya: hanya makan sayur, tidak makan, tidak makan dan tidak minum, atau puasa kebiasaan  jelek seperti nonton tv, baca koran, majalah, menahan rasa marah/benci, tidak merokok, tidak berjudi, tidak  masturbasi, dll

Bukti Bahwa Yesus Adalah Muslim

Mantan pendeta yang dulu bernama Agustinus Christovel Kainama menjadi muslim, bukan karena ia mempelajari Al-Quran, melainkan karena ia memperdalam Injil sebagai kecintaannya kepada Yesus.  Saat memahami Nabi Isa ternyata juga menjalankan puasa, shalat, disunat, wudhu, tahajud dan bersedekah. “Semua itu dilakukan pula oleh umat Islam,” ujarnya. Saat sudah begitu dalam mengkaji Injil, ia malah memutuskan menjadi muslim karena apa yang dilakukan oleh Yesus. Menurut ajaran agama Islampun sesuai yang di firmankan Allah dalam al Quran bahwa semua nabi adalah muslim termasuk nabi Isa atau Yesus

Muslim adalah secara harfiah berarti “seseorang yang berserah diri kepada Allah”, termasuk segala makhluk yang ada di langit dan bumi. Kata muslim kini merujuk kepada penganut agama Islam saja, kemudian pemeluk pria disebut dengan Muslimin  dan pemeluk wanita disebut Muslimah adalah sebutan untuk wanita Islam. Al Qur’an menjelaskan tentang semua nabi dan rasul adalah sebagai Muslim, dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Al Qur’an menyatakan bahwa mereka adalah Muslim karena mereka hanya berserah diri kepada Tuhan, memberikan firman, dan menegakkan agama Allah. Demikian pula dalam surah Al-Imran dalam Al-Qur’an. “Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) berkata kepada Isa: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Al-Imran 3:52)”

Umat Muslim meyakini bahwa Allah adalah zat kekal, yang memiliki semua sifat ke-Maha-an, tidak tertandingi, mandiri, tidak melahirkan, dan tidak pula diperanakkan, mereka meyakini doktrin atau aqidah ketauhidan (monoteisme).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s