Rakyat Dzalim Maka Allah Berikan Pemimpin Dzalim, Umat Muslim Harus Sabar Tanpa Batas

Rakyat Dzalim Maka Allah Berikan Pemimpin Dzalim, Umat Muslim Harus Sabar Tanpa Batas

Siapa yg menjamin pemimpin setelahnya lebih baik dari sebelumnya. Jika kiranya masyarakat ini baik, insya Alloh
terlahirkan pemimpin yang baik. Maka visi dan misi dakwah tashfiyah dan tarbiyah dengan dasar dakwah tauhid, Di setiap individu muslim terus tanpa henti, dan bersabar tanpa batas.

Alkisah, ada seorang khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu seraya berkata,

  • “Wahai Khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak dikritik oleh orang yang tidak sebagaimana pemerintahan Abu Bakr dan Umar?”

Sahabat Ali menjawab,

  • “Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!” (Syarah Riyadhus Shalihin 2/36 oleh Muhammad ibn Shalih al Utsaimin)

Kisah ini menunjukkan suatu kaidah berharga bahwa pemimpin itu tergantung keadaan rakyatnya. Jika rakyatnya baik maka Allah akan mengangkat untuk mereka pemimpin yang baik. Sebaliknya, jika rakyat banyak berbuat dzalim, maka jangan heran jika Allah memberikan pemimpin yang dzalim kepada mereka, sebagaimana balasan yang setimpal dari perbuatan mereka. (dalam risalah Kamaa Takuunuu Yuwalla ‘Alaikum karya asy Syaikh Abdul Malik Ramadhani al Jazairi)

Ungkapan tersebut di atas bukan dinukil dari hadits Nabi SAW meski sangat terkenal di tengah masyarakat. Ungkapan ini adalah sebuah kata hikmah yang sering diungkapkan oleh para sejarawan dan ahli sosial. Seakan ungkapan tersebut sudah menjadi kaidah baku dalam masalah kepemimpinan dan didukung oleh penelitian terhadap sejarah. Faktanya, hampir semua jama’ah atau kelompok masyarakat itu dipimpin oleh orang yang sesuai dengan kwalitas kebaikan masyarakatnya. Jadi, setiap pemimpin adalah cerminan rakyatnya, sebagaimana ketika Allâh SWT menjadikan Fir’aun sebagai penguasa bagi kaumnya, karena mereka sama seperti Fir’aun. 

Allâh SWT  berfirman :

  • فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
  • Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. [Az-Zukhruf/43:54]

Dalam ayat ini Allâh SWT menegaskan bahwa kaum Fir’aun adalah orang-orang fasik, oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menjadikan orang yang seperti mereka sebagai penguasa mereka. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “al-khafîf berarti orang dungu yang tidak beramal dengan ilmunya, dan ia selalu mengikuti hawa nafsunya.

Jadi sejatinya ungkapan “Kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian” adalah kata hikmah zaman dulu kala. Al-Ajlauni berkata, “Imam Thabrani t meriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahullah bahwa ia mendengar seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk al-Hajjâj (salah seorang pemimpin yang kejam), lantas ia berkata, “Janganlah kamu lakukan itu! Kalian diberikan pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Kami khawatir, jika al-Hajjâj digulingkan atau meninggal, maka monyet dan babi yang akan menjadi penguasa kalian, sebagaimana telah diriwayatkan bahwa pemimpin kalian adalah buah dari amalan kalian dan kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.

Perkataan beliau rahimahullah “telaH diriwayatkan …” menunjukkan bahwa kaidah ini sudah ada sejak dahulu, bahkan ada beberapa pernyataan dari kalangan assalafusshâlih tentang penisbatan kalimat ini kepada sebagian para Nabi terdahulu. Tentu ini sudah cukup menjadi bukti nyata akan keberadaan kaidah ini di zaman dahulu. Namun kaidah ini diketahui awal mulanya meskipun ia sudah menjadi kaidah baku dalam masalah kerakyatan dan kepemimpinan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s