Viral Berita Menyesatkan, Takbir Keliling Berkonotasi Tawuran 

Berita tawuran saat malam lebaran menghiasi berbagai media online secara masif dan bersamaan. Saat ini substansi berita yang masif diviralkan yang dibuat media tertentu seperti dipaksakan bahwa takbir keliling identik dengan tawuran dan miras. Anehnya, tidak seperti biasanya berita tawuran itu tidak ada satupun wartawan media tersebut melakukan liputan langsung tetapi berdasarkan cuitan dati twitter TMC Polda Metro Jaya. Baik media masa cetak berkaliber nasional atau sebagian besar media online bernada sama dan hampir semuanya beritanya berdasarkan cuitan twitter. Padahal justru tawuran sesungguhnya yang benar terjadi justru bukan takbir keliling tetapi saat takbir di Masjid daerah Cipinang. Bahkan terdapat berita yang tidak biasa ketika dalam takbiran itu diberitakan bahwa peserta  membawa miras. Sebaliknya takbiran keliling yang dilakukan ribuan anggota dan simpatisan FPI (Front Pembela Islam) yang selama ini dianggap dan difitnah biangnya anarkisme dan kekerasan justru berlangsung aman namun tidak mendapat tempat dalam pemberitaan. Melihat fakta yang terjadi bahwa tawuran tidak berkaitan dengan takbir keliling. Tawuran adalah fenomena yang selalu terjadi di daerah tertentu di Jakarta yang tidak mengenal waktu atau bukan hanya terjadi di malam takbiran. Tawuran ternyata bisa terjadi di lokasi sekitar Takbir di Masjid seperti peristiwa Cipinang. Pola pemberitaan seperti ini ternyata terus terjadi sejak lama. Seolah olah ada sutradara besar yang melakukan grand design pembiasan berita di negeri ini. Kali ini Sang Sutradara sedang membuat sebuah sinetron baru bahwa takbir keliling penyebab tawuran.

Telah dilakukan pengamatan terhadap sekitar 25 berita di dunia maya tentang berita tawuran di malam takbir lebaran pada tahun 2017. Sebagian besar berita memuat tawuran antar pemuda di wilayah DKI Jakarta, Sabtu (24/6/2017) tengah malam di daerah Kemayoran. Uniknya semua berita tersebut bukan berdasarkan lipitan langsung para awak media tetapi berdasarkan data dari cuitan twitter laman media sosial @TMCPoldaMetroJaya, yanh beraai “tawuran yang dilakukan sekelompok pemuda terjadi di Kemayoran Jakarta Pusat. Peristiwa tersebut langsung ditangani petugas”. “23:41 tawuran antarpeserta takbiran keliling di Jalan Garuda Kemayoran sudah dalam penanganan Polri,” cuit akun @TMCPoldaMetroJaya, Sabtu, seperti dikutip Antara. Berita lain mengungkapkan kerjasama TNI dan Polri juga mengamankan peserta takbiran keliling yang membawa minuman keras di Gudang Peluru Tebet Jakarta Selatan. Semua berita tersebut diambil dari laman Polri. Keanehan lainnya dalam berita razia miras tersebut tidak ditampakkan profil tersangka meskipun hanya sekedar nama samaran atau foto pelaku dengan muka yang disamarkan. Biasanya Polri selalu bekerja profesional sesuai SOP tetapi kali ini ada sedikit kejanggalan dalam pemberitaan tersebut.

Mungkin tidak salah bila pemberitaan diambil dari satu situs atau cuitan twitter. Tetapi bukan berarti cuitan twitter Polri tidak dipercaya. Tetapi yang janggal dan aneh ketika beberapa harian nasional dan media online yang terpercaya membuat berita yang cukup penting karena menyangkut kepentingan umat Islam hanya melalui cuitan twitter. Padahal TKP berita adalah di daerah Jakarta Pusat bukan daerah pedalaman. Biasanya dalam kegiatan penting seperti malam takbiran pemburu berita selalu punya mata dan telinga yang tajam dan gerakan yang cepat untuk sampai TKP. Mengapa harian kaliber nasional itu tidak mengkonfirmasi langsung pada TKP. Padahal beberapa kesaksian swpweri yang siungkap di dunia maya menyebutkan bahwa tawuran di kemayoran hanya insiden kecil saat takbir keliling. Hanya saja karena lalulintas padat membuat keadaan macet sepertinya sangat kacau. 

Justru tawuran yang sebenarnya terjadi di Cipinang di Jakarta Timur. Tetapi hal itu terjadi bukan peserta takbir keliling tetapi saat takbir di masjid. Tawuran pecah antara warga Jatinegara Kaum dan Cipinang Jakarta timur. Kejadian itu terjadi pada Minggu (25/6/2017) dini hari. Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo menjelaskan saat melakukan takbir di Mesjid, ada beberapa warga dari Jatinegara Kaum yang membunyikan petasan dan mengarahkan petasan tersebut ke arah warga RW 10 Cipinang. Anehnya saat ini berita yang diviralkan adalah insiden kecil saat takbir keliling di Kemayoran bukan peristiwa tawuran yang lebih besar pada acara takbir di masjid di Cipinang. Tetapi anehnya lagi media masa yang memberitakan peristiwa tawuran saat takbir masjid di Cipinang hanyalah okezone.com

Investigasi dan penelitian

Keganjilan fenomena seperti itu menarik untuk dilakukan investigasi dan penelitian di lapangan kejadian sesungguhnya. Karena berita tersebut seakan akan bahwa kegiatan takbir keliling untuk syiar agama sudah demikian buruk dan kotornya. Takbir keliling yang dilarang penguasa dan pejabat menjadi bahan komoditas untuk memvonis bahwa takbir keliling identik dengan kerusuhan dan miras.

Pola pemberitaaan media masa cetak dan online yang terjadi dalam menyikapi hal itu juga agak ganjil. Justru yang diviralkan adalah kejadian kecil di Kemayoran bukan tawuran sebenarnya yang terjadi pada takbir di Masjid di Cipinang. Fenomena tersebut menguatkan dugaan bahwa berita tersebut dikemas sedemikian rupa berkorelasi dengan upaya pelarangan pihak tertentu terhadap takbir keliling. Kemasan berita tersebut seakan membuat opini bahwa takbir keliling adalah sesuatu yang berkonotasi dengan kekerasan. Tampaknya kejadian itu menunjukkan seperti ada sutradara besar di negeri ini sedang membuat sinetron yang harus dikumandangkan secara seragam dan bersamaan yang harus diviralkan bahwa takbir keliling penyebab utama tawuran. Sutradara besar itu tampaknya selama ini yang menguasai sebagian besar media di Indonesia. Sutradara besar itu juga yang selama ini bisa membuat seseorang pecundang menjadi pahlawan dan seorang pecundang menjadi pahlawan. Sutradara besar itu juga bisa membuat yang batil menjadi benar.

Takbir Keliling

Lain Jakarta lain NTB. Gubernur NTB Tuan Guru Haji Muhammad Zainul atau biasa dikenal dengan Tuan Guru Bajang (TGB) mendukung sepenuhnya bahkan menghadiri Gema Takbir Malam 1.000 Cahaya di depan Kantor Gubernur NTB pada Sabtu (24/6) yang diikuti sekitar 29 ribu umat muslim. Bersyukurlah umat di NTB mempunyai Gubernur yang terkenal bijaksana terhadap semua umat beragama itu sangat peduli terhadap umat Islam di sana dalam menjalankan ibadahnya. TGB gubernur yang hafiz Quran itu mengatakan di depan masyarakat yang mencintainya: “Takbir itu merupakan perintah Allah SWT dalam Alquran usai umat Islam melaksanakan perintah berpuasa selama bulan suci ramadhan. Setelah Allah SWT perintahkan puasa, maka Allah perintahkan sempurnakan bilangan ramadhan jangan dikurangi, lalu kata Allah bertakbirlah kalian atas apa yang Allah berikan sebagai petunjuk dan hidayah. TGB menegaskan, prosesi takbir keliling bukan merupakan sikap untuk gagah-gagahan, sekadar selebrasi, maupun hanya ingin beramai-ramai, melainkan menjalankan perintah Allah SWT.  Seorang muslim manakala ada perintah Allah maka jalankan sebaik-baiknya. TGB mengungkapkan, sejak takbiran merupakan tradisi yang sudah ada sejak puluhan tahun di Indonesia dengan membawa kegembiraan sebagaimana tradisi halal bi halal dan juga bersilaturahmi. Menurut TGB, banyak di tempat lain yang karena kondisi dan keadaaan hanya bisa melaksanakan takbir di masjid, namun dengan penuh kesyukuran NTB mampu menggelar takbir keliling di sejumlah ruas di Kota Mataram. Takbir keliling di Indonesia penuh kesukacitaan menunjukan syiar agama, mari takbir beramai-ramai, mudah mudahan takbir kita, Allahuakbar, datangkan keberkahan. TGB juga mengingatkan baik kafilah maupun warga untuk menjalankan takbir keliling dengan tertib dan memperhatikan kebersihan.  “Takbir seramai-ramainya tapi juga seperti-tertibnya, itu ajaran Islam. Tidak boleh ada sampah yang tercecer usai Gema Takbir, bersih kita mulai, bersih juga kita akhiri.”. Kalimat menyejukan dari seorang pemimpin yang mengayomi semua umat beragama seperti TGB seharusnya menjadi inspirasi bagi seluruh pemimpin negeri ini. Ternyata bukan hanya TGB, walikota bandung, Cirebon dan kepala daerah lainnya masih mengijinkan takbir keliling bagi warganya. 

Tawuran adalah fenomena yang setiap saat terjadi bukan karena malam takbiran atau bukan karena fenomena agama Islam. Dari berbagai peristiwa teraebut justru takbir keliling bukan penyebab utama tawuran karena takbir di masjidpun juga terjadi tawuran. Jadi korelasi antara takbir keliling dan tawuran tidak ada hubungannya. Di masa depan Polri sebaiknya menyikapi hal inj dengan cermat dan dikaji secara ilmiah. Hal ini harua ditinjau dari sosial ekonomi masyarakat bukan hanya sekedar pertimbangan politik kekuasaan saja. Ke depan sebenarnya takbir keliling tidak masalah bila Polri sigap dalam pengamanannya khususnya pengamanan pada daerah rawan tawuran seperti di Cipinang, Matraman dan daerah lainnya. Bila pihak keamanan lebih profesional dengan menggunakan data ilniah berbasia bukti bisa saja melakukan pencegahan sejak dini meski takbir keliling dilakukan. Misalnya pada daerah yang rawan tawuran tidak boleh dilewati peserta takbir keliling. Pencegahan lainnya polisi bisa saja menyisir atau melakukan rasia pada oknum peserta atau provokator takbir yang dicurigai.

Kalau polisi bisa melakukan pencegahan terhadap kasus tawuran pada suporter sepakbola yang lebih beringas. Mengapa pada peserta takbir kelilng yang melafalkan asma Allah polisi menjadi gamang. Kalau pertandingan sepakbola atau konser Rock dengan peserta panasnya anak darah muda yang sering menimbulkan tawuran bisa diatasi dan dibolehkan. Mengapa aksi takbir keliling yang justru diikuti oleh sebagian besar umat yang berniat merayakan kemenangan rohkani dan berniat melakukan sunah Rasul untuk mengucapkan kebesaraan Asma Allah harus dipersulit dan dilarang. Aksi 212 jadi pelajaran berharga pemimpin negeri ini. Aksi damai dan niat baik ulama dan 7 juta umat muslim yang sebelumnya ditakuti dan dicurigai ternyata berbuah damai dan indah bahkan rumputpun tidak ada yang diinjak. Apalagi takbir keliling juga berniat baik yang hanya berjumlah ratusan ribu orang.  Takbir Keliling itu adalah budaya khas Indonesia seperti halnya pawai Ogoh ogoh di Bali atau Pawai Rosario di Manado. Bila kaum pemimpin menyebut aku Pancasila dan Aku Indonesia mengapa budaya khas Indonesia itu harus dilarang apalagi di tengah negeri mayoritas umat Islam.

Seharusnya pihak keamanan harus jernih dalam berpikir dan bersikap. Dalam setiap kegiatan profesionalnya polisi selalu sangat cerdas dengan mengedepankan rasio ilmiah berbasis bukti. Tetapi saat ini polisi tampaknya dominan menggunakan rasionalitas politik dan kekuasaan. Sehingga dalam intervensi pendekatan pengamanan terhadap aksi takbir keliling menjadi tidak rasional yang mengundang banyak kritik dan ketidakpuasan umat Islam. Karena saat ini pendekatan polisi lebih di dominasi oleh latar belakang politik kekuasaan bukan berdasarkan latar belakang sosial, ekonomi dan pskiologis masa.

Ternyata bila pemimpinnya berniat baik mendukung umatnya beribadah maka tidak perlu curiga dan takut. Allah akan menjaga kemanan dan memberi keberkahan umatnya dalam melakukan takbir keliling. Usaha yang dilakukan Gubernur TGB seharusnya menjadikan inspirasi bagi pemimpin daerah lainnya bila mempunyai niat baik untuk mendukung umatnya melakukan ibadah. Bila pemimpinnya berniat baik demi keridhaan Allah maka Polisi, TNI dan rakyat akan bahu membahu menjaga keamanan dan mendapatkan keberkahan dari Allah. “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan, sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena ingin mendapat keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan, barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya akan dinilai sebagaimana yang dia niatkan”. Berbahagialah umat yang mempunyai pemimpin yang berani dan mempunyai niat baik. Berbagailah rakyat yang bisa menggelar budayanya. Para pemimpin negeri ini saat berteriak keras aku Pancasila dan Aku Indonesia harus melihat hatinya yang lebih dalam saat melarang dan mencurigai takbir keliling yang merupakan ibadah agama berwujud budaya Nasional. Takbir keliling tidak jauh berbeda dengan pawai Ogoh ogoh di Bali dan pawai Rosario di Manado. Ternyata rakyat kecil ibukota lebih Pancasila dan lebih Indonesia ketika menghormati dan tidak pernah mengeluh ketika Pawai Ogoh ogoh dari saudaranya yang beragama Hindu dan berasal dari Bali dilakukan dengan aman dan damai di Jakarta yang mayoritas muslim meski membuat kemacetan parah. Indahnya takbir dan indahnya keberagaman Indonesia ternyata tidak selalu indah di mata dan telinga kaum yang selalu mencurigai Islam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s