Agus Salim, Tokoh Muslim Indonesia Pendiri SI

Agus Salim, Tokoh Muslim Indonesia Pendiri SI

Tokoh Muslim Indonesia sekaligus tokoh kedua di Sarekat Islam (SI) setelah Haji Omar Said Tjokroaminoto, dan mendapat julukan The Grand Old Man . Lahir di Kota Gadang, Bukittinggi, pada Rabu, 18 Dzulhijjah 1301 H/8 Oktober 1884 M. Agus Salim yang meru pakan putra dan seorang jaksa ini hanya sempat bersekolah sampai tingkat Hoogere Burger School (HBS) atau Sekolah Dasar Belanda. Kemudian bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris di Riau. Pada 1323 H/1905 M, ia pindah kerja ke Indragiri, lalu menjadi karyawan Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi.

    Setelah berkesempatan memperdalam pengetahuan dan wawasan Islam di Arab Sau di, Agus Salim kembali ke Tanah Air pada 1333 H/1914 M. Setahun kemudian ia mendirikan Hollands Inlandsche School (HIS) di tempat kelahirannya. Pada 1918, Agus Salim memutuskan pindah ke Jakarta dan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Neraca. Pada 1338 H/1919 M, ia mulai memasuki Sarekat Islam dan menjadi salah seorang tokoh ge rakan tersebut.

    Pada 1344 H/1925 M, Agus Salim bekerja di Hindia Baroe, sebuah harian milik orang Belanda yang memiliki pemikiran Iebih maju tentang tanah jajahan. Agus Salim mensya ratkan independensi (kebebasan) dalam melaksanakan pekerjaannya. Agus Salim menja di hoofredacteur atau pemimpin redaksi yang bertugas mengatur cara dan bentuk pem beritaan, membuat tajuk rencana, dan mengisi rubrik Mimbar Jumat. Hindia Baroe di bawah pimpinannya berkembang pesat.

    Meski demikian, pada perjalanannya para direksi dan petinggi Hindia Baroe meminta sang pemimpin redaksi untuk memperlunak kritiknya, hingga Agus Salim pun lebih memilih meletakkan jabatan yang disandangnya ketimbang harus mengorbankan idealismenya. Agus Salim saat menjawab pertanyaan Mohammad Roem tentang sikapnya tersebut berkata, “Hal itu sudah saya pikirkan sebelumnya …. Saat memimpin Hindia Baroe, saya tidak seperti pemimpin Sarekat Islam, dan saat menulis tajuk rencana, saya tidak berpikir seperti dalam rapat partai. Saya melihat rakyat Indonesia di hadapan saya …. Saya benar benar berusaha agar Hindia Baroe benar-benar menjadi harian umum yang berkualitas. Saya banyak mendapat kritik dan kawan-kawan sendiri, banyak kawan partai mengirimkan tulisan yang tidak mungkin saya muat karena memang tidak bermutu atau hanya bermutu bagi partai. Tetapi dalam hal pandangan saya terhadap pemerintah Hindia Beanda, tidak ada tawar-menawar ….”

    Sosok Agus Salim dapat dilihat dan komentar seorang diplomat Belanda tentang dirinya, “… Pria tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang genius. la mampu bicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam 9 bahasa. Kelemahannya hanya satu, la hidup melarat.” (Prof. Schermerhorn dalam Het dagboek van Schermerhorn). Agus Salim me ninggal dunia di Jakarta pada Kamis, 8 Rab’ Al-Awwal 1374 H/4 November 1954 M.

Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau. 

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.

Karya tulis

  • Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia
  • Dari Hal Ilmu Quran
  • Muhammad voor en na de Hijrah
  • Gods Laatste Boodschap
  • Jejak Langkah Haji Agus Salim (Kumpulan karya Agus Salim yang dikompilasi koleganya, Oktober 1954)

Karya terjemahan 

  • Menjinakkan Perempuan Garang (dari The Taming of the Shrew karya Shakespeare)
  • Cerita Mowgli Anak Didikan Rimba (dari The Jungle Book karya Rudyard Kipling)
  • Sejarah Dunia (karya E. Molt)

Karier politik 

  • Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto.
  • Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:
  • anggota Volksraad (1921-1924)
  • anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945M
  • enteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
  • pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949
  • Presiden Sukarno dan Agus Salim dalam tahanan Belanda, 1949.
  • Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.
  • Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.
  • Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Namanya kini diabadikan untuk stadion sepak bola di Padang.
  •  Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim dikenal masih menghormati batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s