ABU BAKAR AL-SHIDDIQ, Sahabat Nabi Yang Dijamin Masuk Surga

ABU BAKAR AL-SHIDDIQ, Sahabat Nabi Yang Dijamin Masuk Surga

Khalifah pertama dalam sejarah Islam sejak 11 -13 H/632-634 M, bernama Iengkap Abdullah ibn Abu Quhafah Utsman ibn Amir ibn Umar ibn Kab ibn Sa’ad ibn Taim ibn Murrah ibn Kab ibn Lu’ayyi ibn Thalib ibn Fihr ibn Nadr ibn Malik Al-Taimi Al-Qurasyi. Sebelum Islam, ia dikenal dengan nama Abdul Kabah. Setelah Abu Bakar lahir dan besar, ia diberi nama lain, yakni Atiq. Nama ini diambil dan nama lain Ka’bah, Baitul Atiq, yang berarti rumah purba. Setelah Islam, Rasulullah memanggilnya menjadi Abdullah. Nama Abu Bakar sendiri konon berasal dan predikat pelopor dalam Islam. Bakar berarti dini atau awal. Sementara ibunya, Ummu Khair Salma binti Sakhr, adalah perempuan suku Quraisy. Abu Bakar lahir pada 49 SH/573 M, yakni 2 tahun setelah Tahun Gajah atau le bih muda 2 tahun dan Nabi Muhammad Saw.

Khalifah yang berasal dan Bani Tamim ini telah menjadi sahabat karib Rasulullah sejak behiau belum diangkat menjadi nabi. Bahkan, Rasulullah pula yang mengubah namanya menjadi Abdullah. Ketika Muhammad diutus sebagai nabi, pedagang yang jujur dan ber- ada ini merupakan pria dewasa pertama yang mengakui kenabian Muhammad dan ajar an Islam yang disampaikannya. Keislamannya ¡ni mampu mendorong sejumlah tokoh Qu raisy mengikuti jejaknya. Di antaranya adalah Utsman ibn Affan, Al-Zubair ibn Al-Awwam, Sa’ad ibn Abu Waqqash, dan Abdurrahman ibn Auf.

Ketika Nabi Muhammad Saw. meninggalkan Makkah menuju Madinah pada malam 12 Rabi’ AI-Awwal tahun pertama Hijriah/28 Juni 622 M, Abu Bakar dipilih untuk me nyertai beliau, dan saat Rasulullah Saw. wafat, Abu Bakar yang diangkat sebagai khalifah memimpin umat Islam. Jabatan itu ¡a duduki lewat sebuah pemilihan dalam pertemuan yang dilangsungkan pada han kedua setelah Rasulullah Saw. wafat dan sebelum jenazah beliau dimakamkan. Penyelenggaraan pertemuan tersebut didorong kepentingan memilih pemimpin umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah Saw.

Setelah Rasulullah Saw. dimakamkan di rumah ‘A’isyah pada Selasa menjelang shalat ‘Isya’ di Masjid Nabawi, Abu Bakar AI-Shiddiq mengucapkan pidato kekhalifahannya yang pertama di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar yang menjadi fondasi kekuatan Is lam saat itu, “Wahai umat Islam sekalian! Aku diangkat sebagai pemimpin kalian, meski aku bukan yang terbaik di antara kalian. Karena ¡tu, apabila aku melakukan kebaikan, dukunglah! Sebaliknya, apabila aku melakukan kesalahan, Iuruskanlah! Ketahuilah, kebe naran adalah amanah dan kebohongan adalah pengkhianatan. Menurutku, yang terlemah di antara kalian adalah yang terkuat, sampai aku mengembalikan haknya. Janganlah se orang pun di antara kalian meninggalkan jihad. Ketahuilah, orang-orang yang meninggal : kan jihad akan ditimpa kehinaan dan Tuhan. Patuhlah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, apabila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, tiada kewajiban bagi kalian untuk patuh kepadaku. Kini, marilah kita melaksanakan shalat. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian.”

Selama Abu Bakar menjadi khalifah, Islam mulai berkembang memasuki kawasan yang berada di bawah kekuasaan Imperium Romawi dan Persia. Namun, karena masa peme rintahannya yang pendek, perluasan ke kedua kawasan tersebut baru benar-benar terlak sana pada masa pemerintahan Umar ibn Al-Khaththab.

Sebelum wafat, ia berpesan agar umat Islam mengangkat Umar ¡bn Al-Khaththab se bagai penggantinya. Pesan ini diterima oleh hampir semua sahabat. Pemberian wasiat dilakukan oleh Abu Bakar karena ia khawatir akan terulang lagi pertikaian seperti pada hari-hari setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, sehingga jenazah beliau baru dimakamkan setelah dua hari, suatu hal yang menyalahi pesan beliau sendiri agar jenazah selekasnya di kebumikan.

Tokoh yang bergelar Al-Shiddîq karena membenarkan perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. mi meninggal dunia pada Senin, 22 Jumada Al-Tsaniyah 13 H/22 Agustus 634 M, dengan meninggalkan 6 putra-putri: Abdullah (wafat pada tahun pertama kekhalifahan sang ayah), Asma’ (istri Al-Zubair ibn AI-Awwam), Abdurrahman, ‘A’isyah (istri Nabi Muhammad Saw.), Muhammad (Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Ah ibn Abu Thalib), dan Ummu Kaitsum (lahir setelah Abu Bakar wafat).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s