Apakah Fundamentalis Islam  Itu ?

Apakah Fundamentalis Islam Itu ?

Fundamentalisme adalah sebuah gerakan dalam sebuah aliran, paham atau agama yang berupaya untuk kembali kepada apa yang diyakini sebagai dasar-dasar atau asas-asas (fundamental). Karenanya, kelompok-kelompok yang mengikuti paham ini seringkali berbenturan dengan kelompok-kelompok lain bahkan yang ada di lingkungan agamanya sendiri. Mereka menganggap diri sendiri lebih murni dan dengan demikian juga lebih benar daripada lawan-lawan mereka yang iman atau ajaran agamanya telah “tercemar”.Kelompok fundamentalis mengajak seluruh masyarakat luas agar taat terhadap teks-teks Kitab Suci yang otentik dan tanpa kesalahan. Mereka juga mencoba meraih kekuasaan politik demi mendesakkan kejayaan kembali ke tradisi mereka.  Biasanya hal ini didasarkan pada tafsir atau interpretasi secara harfiah semua ajaran yang terkandung dalam Kitab Suci atau buku pedoman lainnya.

image

Menempatkan ajaran agama dalam bentuknya yang kontekstual dalam dinamika perubahan sosial adalah suatu hal yang harus dilakukan terus menerus. Sebab, agama pada dasarnya harus terus menemukan maknanya sepanjang jaman dan untuk menemukan makna yang berguna pada perubahan sosial itu, maka penafsiran ulang dan penyegaran pemahaman keagamaan mutlak dilakukan. Terlebih lagi, pada dasarnya sebuah teks tidak bisa terlepas dari konteks sosial dan sejarah yang melingkupinya.

Sebagai sebuah fenomena keagamaan, kemunculan fundamentalisme tidak bisa dilepaskan dari fenomena sosial, budaya dan politik. Gerakan ini juga dapat disebut sebagai gejala kebangkitan islam yang bersifat multidimensional. Analisis historis maupun epistemologis atas gerakan semacam ini terasa ada overlapping antara satu fenomena satu dengan fenomena lainnya.islam fundmental ini lebih menitik beratkan pada gerakan mengembalikan seluruh perilaku sesuai dengan al-quran dan al-hadis biasanya juga menunjuk pada kelompok revivalis islam .

Islam Fundamentalisme

Fundamentalisme islam merupakan gerakan relatif modern, memiliki doktrin yang berakar dari periode awal sejarah muslim. Seperti halnya gerakan-gerakan islam historis yang lain, gerakan ini memiliki semangat untuk melakukan pembaharuan islam, untuk kembali kepada kemurnian, untuk menahan perjalanan waktu dan peristiwa, dan untuk mewujudkan kembali kebesaran dan kesederhanaan zaman rasulullah.

Pengertian dan cirri-ciri fundamentalisme islam dalam pengertian dasarnya, disamping itu memiliki persamaan fundamentalisme Kristen, juga mengandung segi-segi perbedaan secara mendasar.. Fundamentalisme islam secara dasarnya adalah sikap dan pandangan yang berpegang teguh pada dasar-dasar pokok  dalam islam dan tidak mengaitkan dengan ilmupengetahuan dan tehnologi. Sedangkan fundamentalisme Kristen dalam pengertian poknya adalah sikap dan pandangan yang berpegang teguh dalam hal-hal yang prinsipil dogmatis dengan tidak menerima campur tanggan ilmu pengetahuan.

Sejarah Islam Fundamental

Penggunaan Istilah “fundamentalisme“ dalam Islam oleh kalangan Barat mulai populer berbarengan dengan terjadinya Revolusi Islam Iran pada 1979, yang memunculkan kekuatan Muslim Syi’ah radikal dan fanatik yang siap mati melawan the great satan, Amerika Serikat. Meski Istilah fundamentalisme Islam baru populer setelah peristiwa historis ini, namun dengan mempertimbangkan beberapa prinsip dasar dan karakteristik, maka fundamentalisme Islam telah muncul jauh sebelum itu.

Setelah Revolusi Islam Iran, istilah fundamentalisme Islam digunakan untuk menggeneralisasi berbagai gerakan Islam yang muncul dalam gelombang yang sering disebut sebagai “kebangkitan Islam” (Islamic revival). Memang, dalam beberapa dasawarsa terakhir terlihat gejala “kebangkitan Islam”, yang muncul dalam berbagai bentuk intensifikasi penghayatan dan pengamalan Islam, yang diikuti dengan pencarian dan penegasan kembali nilai‐nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Tetapi menyebut semua gejala intensifikasi itu sebagai “fundamentalisme Islam” jelas merupakan simplikasi yang distortif.

Fundamentalisme Islam dapat dikatakan merupakan bentuk ekstrem dari gejala “revivalisme”. Jika revivalisme dalam bentuk intensifikasi keislaman lebih berorientasi “ke dalam” (inward oriented)‐ dan karenanya sering bersifat individual‐ maka pada fundamentalisme, intensifikasi itu juga di arahkan ke luar (outward oriented). Intensifikasi bisa berupa sekadar peningkatan attachment pribadi terhadap Islam‐ dan sebab itu sering mengandung dimensi esoteris‐tetapi fundamentalisme menjelma dalam komitmen yang tinggi tidak hanya untuk mentransformasi kehidupan individual, tetapi sekaligus kehidupan komunal dan sosial. Oleh karena itu, fundamentalisme Islam juga sering bersifat eksoteris, yang sangat menekankan batas‐batas kebolehan dan keharaman berdasarkan fiqh (“halal‐haram ).

Istilah funfamentalisme pertama digunakan olek kelompok-kelompok penganut agama krisrren di Amerika Serikat untuk menamai aliran pemikiran keagamaan yyang cenderung menafsirkan tek-tek  keagamaan secara kaku dan literalis ( harfiah ). Dalam kontes iuni fundamentalisme pada umumnya dianggap sebagai reaksi terjhadap modernisme. Reaksi ini bermula dari annggapan bahwa modernisme cenderung menafsirkan tek-tek keagamaan secara elastis dan fleksibel untuk menyesuaikannya dengan berbagai kemajuan zaman modern, ahirnya justru membawa agama keposisi yang semakin  terdesak kepinggiran.

Kecenderungan menafsairka tek-tek keagamaan secara kaku dan harfiah seperti yang dilakukan oleh kaum fundamentalis protestan, ternyata diterima juga oleh penganut-penganut agama lain diabad kedua puluh ini.oleh karena itu, tidak heran jika para sarjana orientalis dan islamisis barat menyebut kecenderungan yang serupa dikalangan muslim, sebagai fundamentalisme islam. Disamping dihubungkan dengan islam, istilah fundamentalisme dihubungkan dengan agama-agama selain Kristen, sehingga muncullah kaum fundamentalisme Sikhs dan sebagainya. Tetapi berbeda dengan kaum fundalis protestan yang menyebut dirinya fundalis, kelompok-kelompok dengan kecenderungan yang nserupa didalam agama lain sebagian malah menolak disebut dengan demikian. Kelompok seperti itu ditimur tengah umumnya lebih suka disebut dirinya dengan istilah Usuliyah Islamiah (asas-asas islam), Bat’s islam (kebangkitan islam), atau Harakah islam (Gerakan Islam). Sementara kelompok-kelompok yang kurang menyukai mereka menyebut dengan istilah Muta’ashshibin (Kelompok fanatic) atau mutatharrifin (kelompok radikalekstrimis).

Munculnya istilah fundamentalisme untuk pertama kali adalah penyebutan yang ditujukan kepada gerakan konservatif-militan dalam agama Kristen yang mengemuka di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Mereka menekankan kebenaran Bible dan menolak setiap temuan sains modern karena dianggap bertentangan dengan ajaran Kristen. Padahal, sains modern justru telah membawa masyarakat Barat pada kemajuan. Karena itu, kehadiran mereka adalah oposan dari gereja ortodoks terhadap kemajuan sains modern yang dituduh merusak sendi-sendi fundamental dalam agama Kristen. Mengingat karakter konservatifnya yang berpegang teguh pada ortodoksi agama Kristen, fundamentalisme seringkali dikonfrontasikan dengan modernisme yakni aliran yang mengutamakan setiap yang baru sebagai konsekuensi perkembangan sains modern (Asep Syamsul, 2000 : 29-30) Setelah revolusi Islam Iran (1979), istilah fundamentalisme Islam mulai diterapkan para orientalis dan pakar ilmu sosial untuk mengkaji gerakan-gerakan sosial dan politik yang muncul dalam Islam dengan asumsi bahwa berbagai penomena gerakan sosial dan politik itu memiliki kesemaan karakteristik dengan gejala fundamentalisme di dunia Barat. Mereka menggunakan istilah tersebut untuk menggeneralisasi berbagai gerakan sosial, politik dan keagamaan sejalan dengan munculnya gelombang yang disebut kebangkitan (revivalisme) Islam (Azyumardi Azra, 1996 : 107). Dalam hubungannya dengan Islam, istilah fundamentalisme seringkali digunakan secara tidak seimbangan dan tidak netral, bahkan cendrung memiliki makna labelisasi dan penyebutan yang bersifat mapan terhadap fenomena gerakan dalam kehidupan sosial, politik dan keagamaan. Dari beberapa kajian yang dilakukan oleh para ahli, istilah tersebut cendrung memiliki makna negatif untuk memberikan gambaran buruk dan menyudutkan kelompok yang diasumsikan sebagai gerakan fundamentalisme. Fazlur Rahman (1979 : 164), misalnya, menyebutkan fundamentalisme Islam sebagai orang yang dangkal, superfisial, dan anti intelektual yang pemikiran-pemikirannya tidak bersumber kepada al-Qur’an dan tradisi Islam klasik.

Nurcholish Madjid (1992 : 586) juga memberikan penilaian yang pejoratif dan kurang netral dan menyebut fundamentalisme Islam sebagai sumber kekacauan dan penyakit mental yang menimbulkan akibat yang lebih buruk dibandingkan dengan masalah-masalah sosial yang sudah ada, seperti minuman keras dan obat terlarang. Untuk beberapa kasus tertentu, stigmasi fundamentalisme Islam terhadap gerakan yang muncul dalam masyarakat Islam mungkin ada benarnya karena berangkat dari fakta-fakta empirik yang menunjukkan warna gerakan yang cendrung puritan, radikal dan ekstrim. Tetapi, labelisasi fundamentalisme Islam yang bersifat sinisme itu digunakan secara mapan dan tidak berubah-rubah untuk menggeneralisasi semua fenomena gerakan sosial, politik dan keagamaan dalam Islam jelas merupakan simplikasi yang keliru

Dasar-dasar pemikiran Islam fundamental

Fundamentalisme yang dalam beberapa aspek diidentikan sebagai kelompok islam tradisionalis, secra historis juga disebut sebagai kelompok konservatif.

Istilah ini juga merupakan sebutan lain kelompok revivalis yang muncul pada abad 18 dan 19 di Arab, India dan Afrika.

Secara umum karakteristik gerakan revivalisme adalah sebagai berikut:

1) Adanya sikap dan keprihatinan yang mendalam terhadap degenerasi soso moral umat islam.
2) Memberi himbauan kepada umat islam agar kembali kepada sumber-sumber keagamaan otoritatif berupa al-quran dan al-hadits serta menghilangkan praktik-praktik tahayul, bid’ah dan khurafat dalam konteks tradisi keberagamaan.
3) Memberikan himbauan kepada umat islam agar membuang jauh-jauh teologi fatalisme, demi mencapai kemajuan.
4) Menghimbau umat islam agar melaksanakan pembaharuan lewat jihad sekalipun, jika diperlukan.

Karakteristik islam fundamental

1) Oppositionalism (paham perlawanan). Gejala fundamentalisme dalam agama apapun selalu menunjukkan sikap perlawanan terhadap semua sistem yang di anggap dapat mengancam eksistensi agama.

2) Penolakan terhadap Heri Meneutika. Sikap ini ditunjukkan sebagai bentuk penolakan terhadap sikap kritis terhadap teks suci. Karena bagi kelompok ini teks-teks keagamaan telah jelas dengan sendirinya oleh karenanya tidak membutuhkan penafsiran manusia dengan pendekatan apapun.
3) Penolakan terhadap pluralisme dan revitalisme.
4) Penolakan terhadap perkembangan historis dan sosiologis.

Islam fundamental dan gerakan baru keagamaan.

Seiring dengan perkembangan sosial keagamaan, terdapat fenomena pencarian baru terhadap bentuk-bentuk dan ekspresi sepiritualitas. Fenomena tersebut dapat dinyatakan sebagai satu trend dari bentuk pelarian disebabkan adanya kekeringan sepiritual yang selama ini.

Tedapat dua gerakan baru keagamaan yang lebih menonjolkan aspek fundamentalistiknya dari sisi kecenderungan pemahaman dan praktik keagamaannya, yakni hizb al-tahrir indonesia(HTI) dan majelis mujahidin indonesia (MMI), tentu tidak bisa dikatakan sebagai gerakan baru keagamaan yang menyimpang dari frame ideologi keagamaan mainstream.
Konstruksi ideologi dua keagamaan ini berbeda dari gerakan islam mainstream di indonesia, seperti NU dan Muhamadiyah. Perbedaan itu tampak sangat mencolok terutama pada persoalan konstruksi epistemologi berupa bagaimana kelompok ini memandang da memperlakukan teks-teks keagamaan. Jika NU Dan Muhamadiyah menggunakan metode dan corak tafsir dengan pendekatan yang demikian beragam, baik yang berkarakter salaf maupun khalaf, bahkan juga pendekatan yang banyak digunakan oleh para ilmuwan barat, maka kedua kelompok fundamentalisme ini menghindari penggunaan tafsir dengan metode apapun. Jikalaupun mereka menerima tafsir, maka penerimaannya itu sangat di batasi pada pemahaman dan interpretasi yang telah dilakukan oleh para ulama salaf. Oleh karena itu, menjadi benar jika dinyatakan bahwa kelompok fundamentalisme ini cenderung skripturalis ( bersifat tekstual atau mendasarkan paham keagamaan pada teks-teks).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s