Makna dan Kehebatan Takbir Kalimah ALLAHUAKBAR

Sesungguhnya takbir itu masalah penting dan pahalanya sangat besar di sisi Allah. Terdapat banyak nash yang mendorong, menganjurkan dan menyebut-nyebut pahalanya.

  • Allah berfirman, “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS al-Isra: 111)
  • Allah berfirman tentang puasa, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS al-Baqarah: 185)
  • Allah berfirman tentang haji dan ibadah-ibadah di dalamnya yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Hajj: 37)
  • Allah juga berfirman, “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah.” (QS al-Mudatstsir: 1-3)

Keutamaan Takbir

  • Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu mencoba menerangkan tentang keutamaan takbir, “Takbir dikumandangkan saat adzan, saat-saat hari raya dan acara-acara ritual lainnya. Takbir adalah salah satu kalimat terbaik selain al-Qur’an, yakni kalimat subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, seperti yang telah disebutkan dalam sebuah riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Tidak ada satu pun atsar yang mengganti kalimat Allahu Akbar dengan kalimat Allahu A’zham, kendatipun artinya identik. Karena itulah sebagian besar ulama ahli fiqih menetapkan bahwa shalat tidak sah kalau yang dibaca adalah kalimat Allahu A’zham, bukan Allahu Akbar. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam,
  • “Kunci shalat adalah bersuci, permulaannya adalah takbir dan penutupnya adalah salam.” Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Yusuf, Imam Abu Daud dan yang lain. Jadi kalau orang membaca selain itu, seperti kalimat dzikir subhanallah atau walhamdulillah, maka shalatnya tidak sah.
  • Takbir selalu menyertai seorang muslim dalam banyak ibadah dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang muslim akan bertakbir membesarkan Allah ketika ia telah berhasil menyempurnakan hitungan puasa Ramadhan. Ia pun bertakbir membesarkan Allah dalam ibadah haji, seperti yang telah diisyaratkan oleh dalil al-Qur’an dalam pembicaraan sebelumnya. Di dalam shalat, takbir adalah sangat penting dan punya kedudukan cukup tinggi. Ketika menyerukan shalat, dianjurkan membaca takbir. Ketika iqamat harus membaca takbir. Dan ketika memulainya juga harus membaca takbir. Bahkan takbiratul ihram merupakan salah satu rukun shalat. Ia terus menyertai seorang muslim dalam setiap gerakannya, gerakan naik dan gerakan turun.
  • Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ketika berdiri hendak shalat beliau bertakbir hingga berdiri, kemudian beliau bertakbir ketika akan ruku’, kemudian membaca sami’allahu liman hamidah ketika bangkit dari ruku’, kemudian membaca rabbanaa lakal hamdu, kemudian beliau bertakbir ketika akan turun, kemudian bertakbir lagi ketika mengangkat kepala, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir lagi ketika mengangkat kepala. Begitulah yang ia lakukan dalam setiap shalat sampai selesai, dan bertakbir lagi ketika bangkit raka’at kedua setelah duduk tasyahhud.” [Shahih al-Bukhari no 789, Shahih Muslim no 392]
  • Dengan demikian takbir itu terus terulang beberapa kali bersama seorang muslim dalam shalatnya. Dalam shalat fardhu yang empat raka’at terdapat dua puluh dua kali takbir. Dalam shalat fardhu yang dua raka’at terdapat sebelas kali takbir. Dan setiap raka’at ada lima kali takbir. Jadi selama sehari semalam dalam shalat fardhu lima waktu saja seorang muslim bertakbir mengagungkan Allah sebanyak 94 kali takbir. Itu belum termasuk takbir yang dibaca dalam shalat sunnat rawatib dan shalat-shalat sunnat yang lain. Belum lagi takbir yang dibaca setiap selesai shalat fardhu sebanyak 33 kali. Jadi total keseluruhannya selama sehari semalam seorang membaca takbir sebanyak 342 kali. Ini jelas merupakan keutamaan takbir yang oleh Allah dijadikan sebagai bagian yang menonjol dan penting dari shalat. Jumlah sebanyak itu belum memasukan takbir yang dibacanya dalam adzan dan dalam iqamah yang sehari semalam saja sebanyak 50 kali, ditambah ketika menjawabi muadzin. Tentunya jumlahnya akan bertambah banyak lagi.
  • Tetapi kalau seorang muslim dalam bertakbir tidak terikat oleh waktu, maka selama sehari semalam ia bisa membacanya dalam jumlah yang tak terhitung. Hanya Allah saja yang mengetahuinya.
  • Menafsiri firman Allah dalam surat al-Isra ayat 111 berbunyi “Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya” Ibnu Jarir rahimahullahu mengatakan, “Allah berfirman, ‘Muhammad, agungkanlah Tuhanmu dengan ucapan atau perbuatan yang Aku perintahkan kamu untuk mengagungkan-Nya. Taatlah kepada-Nya terhadap apa yang Dia perintahkan dan Dia larang.” [Jami’ al-Bayan IX/179]
  • Sementara Syaikh Muhammad Amin asy-Syanqithi rahimahullahu dalam menafsiri ayat tersebut mengatakan, “Agungkanlah Allah dengan seagung-agungnya. Perlihatkan pengagunganmu kepada-Nya itu dengan cara selalu mentaati perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan bergegas melakukan setiap amal yang diridhai-Nya.”[Adhwa al-Bayan III/635]
  • Ini mengandung isyarat bahwa seluruh ajaran agama itu dianggap sebagai uraian atau penjabaran kalimat Allahu Akbar. Seorang muslim yang melakukan semua bentuk ketaatan dan ibadah, pada hakikatnya ia mengagungkan Allah dan memenuhi hak serta kewajibannya.

Makna dan Kehebatan Takbir

  1. Dalam “Allahu Akbar” ada penyebutan Allah Ta’ala pada diriNya Sendiri, pentauhidan, pengagungan dan penghormatan ataskeagunganNya, yang lebih agung dan lebih besar dibanding penyebutan makhlukNya yang lemah, sangat butuh, dan pentauhidan makhluk kepadaNya. Karena Allah swt-lah Yang Maha Mencukupi dan Maha Terpuji.
  2. Dzikir dengan Nama tersebut lebih agung dibanding dzikir dengan Asma’-asma’Nya yang lain.
  3. Bahwa Dzikirnya Allah Ta’ala pada hambaNya di zaman Azali sebelum hambaNya ada, adalah Dzikir teragung dan terbesar, yang menyebabkan dzikirnya hamba saat ini.Dzikirnya Allah Ta’ala tersebut lebih dahulu, lebih sempurna, lebih luhur, lebih tinggi, lebih mulia dan lebih terhormat. Dan Allah Ta’ala berfirman : “Niscaya Dzikirnya Allah itu lebih besar.”
  4. Sebenarnya mengingat Allah swt, di dalam sholat lebih utama dan lebih besar dibanding mengingatNya di luar sholat. Menyaksikan (musyahadah) pada Allah Ta’ala (Yang Diingat) di dalam sholat lebih agung dan lebih sempurna serta lebih besar ketimbang sholatnya.
  5. Bahwa mengingat Allah atas berbagai nikmat yang agung dan anugerah mulia, serta doronganNya kepadamu melalui ajakanNya kepadamu agar taat kepadaNya, adalah nikmat paling besar dibanding dzikir anda kepadaNya, dengan mengingat nikmat-nikmat itu, karena anda semua tidak akan pernah mampu mensyukuri nikmatNya.

Hadits

  • Nabi Muhammad saw, bersabda: “Aku tidak mampu memuji padaMu, Engkau, sebagaimana Engkau memujiMu atas DiriMu.” Artinya, “aku tidak mampu,” padahal beliau adalah makhluk paling tahu, paling mulia, dan paling tinggi derajatnya dan paling utama. Justru Nabi saw, menampakkan kelemahannya, padahal beliau adalah paling tahu dan paling ma’rifat – semoga sholawat dan salam Allah melimpah padanya dan keluarganya -.
  • Setelah kita mentauhidkan Allah swt, yang dinilai lebih agung ketimbang sholat, sehingga sholat menjadi rukun islam yang kedua. Dalam sabda Rasulullah saw:”Islam ditegakkan atas lima: Hendaknya menunggalkan Allah dan menegakkan sholat dst”. Takbiratul Ihram dijadikan sebagai pembukanya, Allahu Akbar.
  • Allah tidak menjadikan salah satu Asma-asma’Nya yang lain, untuk Takbirotul Ihrom, kecuali hanya Allahu Akbar. Karena Nabi saw, melarangnya , demikian juga untuk Lafadz Adzan, tetap menggunakan Takbir tersebut, begitu pun setiap takbir dalam gerakan sholat. Jadi Nama agung tersebut lebih utama dibanding Nama-nama lainnya, lebih dekat bagi munajat-munajat, bukan hanya dalam sholat atau lainnya.
  • Dalam hadits disebutkan:”Aku berada pada dugaan hambaKu apabila hamba berdzikir padaKu. Maka apabila ia berdzikir kepadaKu dalam jiwanya, Aku mengingatnya dalam JiwaKu. Dan jika ia berdzikir padaKu dengan kesendirianNya, maka Aku pun mengingat dengan KemahasendirianKu. Dan jika ia berdzikir di tengah padang (keramaian) maka Aku pun mengingatnya di keramaian lebih baik darinya.”
  • Yang walau demikian merupakan dzikir teragung, namun Dzikir “Allah” itu lebih besar daripada sholat dan dibanding setiap ibadah Abu Darda’ meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ingatlah, maukah aku beri kabar kalian tentang amal terbaikmu dan lebih luhur dalam derajatmu, lebih bersih di hadapan Sang Rajamu, dan lebih baik bagimu ketimbang memberikan emas dan perak, dan lebih baik ketimbang kalian bertemu musuhmu lalu bertempur di mana kalian memukul leher mereka dan mereka pun membalas memukul lehermu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mau..” Rasulullah saw, bersabda, “Dzikrullah.”
  • Juga dalam hadits yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal : “Tak ada amal manusia mana pun yang lebih menyelamatkan baginya dari azdab Allah, dibanding dzikrullah.” Makna Dzikrullah bagi hambaNya adalah bahwa yang berdzikir kepadaNya itu disertai Tauhid, maka Allah mengingatnya dengan syurga dan pahala. Lalu Allah swt berfirman :”Maka Allah memberikan balasan kepada mereka atas apa yang mereka katakana, yaitu syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.”
  • Dengan dzikir melalui Ismul Mufrad, yaitu “Allah”, dan berdoa dengan ikhlas kepadaNya, Allah swt berfirman : “Dan apabila hambaKu bertanya kepadaKu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat”
  • Siapa yang berdzikir dengan rasa syukurnya, Allah memberikan tambahan ni’mat berlimpah : “Bila kalian bersyukur maka Aku bakal menambah (ni’matKu) kepadamu”
  • Tak satu pun hamba Allah yang berdzikir melainkan Allah mengingat mereka sebagai imbalan padanya. Bila sang hamba adalah seorang ‘arif (orang yang ma’rifat) berdzikir dengan kema’rifatannya, maka Allah swt, mengingatnya melalui penyingkapan hijab untuk musyahadahnya sang ‘arif.
  • Bila yang berdzikir adalah mukmin dengan imannya, Allah swt, mengingatnya dengan rahmat dan ridloNya.
  • Bila yang berdzikir adalah orang yang taubat dengan pertaubatannya, Allah swt, mengingatnya dengan penerimaan dan ampunanNya.
  • Bila yang berdzikir adalah ahli maksiat yang mengakui kesalahannya, maka Allah swt, mengingatnya dengan tutup dan pengampunanNya.
  • Jika yang berdzikir adalah sang penyimpang dengan penyimpangan dan kealpaannya, maka Allah swt mengingatnya dengan adzab dan laknatNya.
  • Bila yang berdzikir adalah si kafir dengan kekufurannya, maka Allah swt, mengingatnya dengan azab dan siksaNya.
  • Siapa yang bertahlil padaNya, Allah swt, menyegerakan DiriNya padanya
  • Siapa yang bertasbih, Allah swt, membagusinya
  • Siapa yang memujiNya Allah swt, mengukuhkannya.
  • Siapa yang mohon ampun padaNya, Allah swt mengampuninya.
  • Siapa yang kembali kepadaNya, Allah swt, menerimanya.

Kondisi sang hamba itu berputar pada empat hal :

  • Ketika dalam keadaan taat, maka Allah swt, mengingatkannya dengan menampakkan anugerah dalam taufiqNya di dalam taat itu.
  • Ketika si hamba maksiat, Allah swt mengingatkannya melalui tutup dan taubat.
  • Ketika dalam keadaan meraih nikmat, Allah swt mengingatkannya melalui syukur kepadaNya.
  • Ketika dalam cobaan, Allah mengingatkannya melalui sabar.

Karena itu dalam Dzikrullah ada lima anugerah :

  1. Adanya Ridlo Allah swt.
  2. Adanya kelembutan qalbu.
  3. Bertambahnya kebaikan.
  4. Terjaga datri godaan syetan.
  5. Terhalang dari tindak maksiat.

Siapa pun yang berdzikir, Allah pasti mengingat mereka.

Tak ada kema’rifatan bagi kaum a’rifin, melainkan karena pengenalan Allah swt kepada mereka.Dan tak seorang pun dari kalangan Muwahhidun (hamba yang manunggal) melainkan karena ilmunya Allah kepada mereka.Tak seorang pun orang yang taat kepadaNya, kecuali karena taufiqNya kepada mereka.Tak ada rasa cinta sang pecinta kepadaNya, kecuali karena anugerah khusus CintaNya kepada mereka.

Tak seorang pun yang kontra kepada Allah swt, kecuali karena kehinaan yang ditimpakan Allah swt, kepada mereka.Setiap nikmat dariNya adalah pemberian. Dan setiap cobaan dariNya adalah ketentuan. Sedangkan setiap rahasia tersembunyi yang mendahului, akan muncul secara nyata di kemudian hari.

Perlu diketahui bahwa kalimat tauhid merupakan sesuatu antara penafiaan dan penetapan. Awalnya adalah “Laa Ilaaha”, yang merupakan penafian, pembebasan, pengingkaran, penentangan, dan akhinya adalah “Illallah”, sebagai kebangkitan, pengukuhan, iman, tahid, ma’rifat, Islam, syahadat dan cahaya-cahaya.

“Laa” adalah menafikan semua sifat Uluhiyah dari segala hal yang tak berhak menyandangnya dan tidak wajib padanya. Sedangkan “Illallah” merupakan pengukuhan Sifat Uluhiyah bagi yang berhak dan wajib secara hakikat.

Secara maknawi terpadu dalam firman Allah swt : “Siapa yang kufur pada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka benar-bvenar telah memegang teguh tali yang kuat.”

“Laa Ilaaha Illallah”, untuk umum berarti demi penyucian terhapad pemahaman mereka,.dari kejumbuhan khayalan imajiner mereka, untuk suatu penetapan atas Kemaha-Esaan, sekalgus menafikan dualitsme.

Sedangkan bagi kalangan khusus sebagai penguat agama mereka, menambah cahaya harapan melalui penetapan Dzat dan Sifat, menyucikan dari perubahan sifat-sifat baru dan membuang ancaman bahayanya.Untuk kalangan lebih khusus, justru sebagai sikap tanzih (penyucian) terhadap perasaan mampu berdzikir, mampu memandang anugerah serta fadhal dan mampu berssyukur, atas upaya syukurnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s