ISLAM ISLAMI

Hadits Nabi Tentang Salat: Kapan Angkat Tangan Saat Salat ?

gkat kepalanya dari ruku’.” (HR Imam Al-Bukhori no. 735 dan Imam Muslim no. 390)

  • Dalam hadits Abu Humaid rodhiyallohu ‘anhu, dengan lafadz : “Beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, lalu beliau bertakbir….” (HRAbu Dawud no. 730, sanadnya shohih)
  • Dalam hadits Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu, persis sama dengan hadits Ibnu Umar di atas, akan tetapi dia berkata : “…. Sampai kedua tangan beliau  itu sejajar dengan ujung-ujung kedua telinganya.” (HR Imam Muslim no. 391) 

Berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa takbir angkat tangan itu disyari’atkan dalam tiga keadaan, yaitu : Ketika melakukan Takbirotul Ihrom, ketika akan ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’.

  • Juga disyari’atkan takbir dengan angkat tangan ketika bangkit (berdiri) dari melakukan tasyahhud awwal. Dalilnya adalah hadits Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma : “Adalah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dari dua roka’at, maka beliau mengangkat dua tangannya…” (HR Imam Al-Bukhorino. 739 dan An-Nasa’i, 3/3)
  • Dalam hadits Abu Humaid rodhiyallohu ‘anhu secara marfu’ : “Adalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dari dua roka’at, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan dua bahunya, sebagaimana beliau bertakbir ketika takbirotul ihrom.” (HR Abu Dawud no. 730 secara marfu’, sanadnya shohih)
  • Berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, sekelompok ulama berpendapat disyari’atkannya takbir dengan mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari tasyahhud awwal, diantaranya adalah Abu Humaid As-Sa’idi rodhiyallohu ‘anhu dan sepuluh orang lainnya dari para sahabat Nabi, juga Al-Imam Al-Bukhori, An-Nasa’i, Ahmad dalam salah satu pendapat dari beliau, Abu Bakar bin Ishaq, Ibnul Mundzir dan sekelompok sahabat Imam As-Syafi’I, diantaranya : Abu Ali At-Thobari, Al-Baihaqi, Al-Baghowi dan yang lainnya, dan pendapat inilah yang dirojihkan oleh sekelompok ulama Hanabilah.

Tetapi jumhur ulama (pendapatbaebagoan besar ulama) berpendapat berbeda, mereka mengatakan : tidak disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam keadaan seperti ini (bangkit dari tasyahhud awwal).

Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang pertama di atas, wallohu a’lamu bis showab. (lihat : Fathul Bari, Syarh Shohih Al-Bukhori (no. 739), karya Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh)

  • Tentang takbir dengan mengangkat tangan ketika akan sujud setelah berdiri I’tidal, hal ini diambil faedah dari hadits-hadits yang menjelaskan adanya sunnah disyari’atkannya takbir dengan mengangkat kedua tangan setiap kali akan turun ataupun naik dari gerakan-gerakan sholat.
  • Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahulloh menyebutkan beberapa dalil hadits tentang masalah ini dalam kitab beliau Fathul Bari (penjelasan hadits no. 739), dan beliau menyebutkan cacat-cacat hadits tersebut dan mana perkara yang rojih dalam perkara ini. 
  • Diantara hadits-hadits yang disebutkan oleh beliau adalah hadits Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam An- Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro (no. 672) dari jalan : Ibnu Abi Ady, dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qotadah, dari Nashr bin ‘Ashim, dari Malik bin Al-Huwairits rodhiyallohu ‘anhu  secara marfu’, di dalamnya disebutkan : “Dan (beliau juga bertakbir dengan mengangkat tangan, edt.) apabila beliau sujud, dan bila mengangkat kepalanya dari sujud, sampai sejajar dengan ujung kedua telinga beliau.”
  • An-Nasa’i juga mengeluarkan hadits dari jalan : Abdul A’la, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah seperti tersebut di atas. Juga mengeluarkan hadits lainnya dari jalan : Mu’adz bin Hisyam Ad-Dustuwa’i, dari bapaknya, dari Qotadah, seperti hadits tersebut di atas juga. Dan kebanyakan jalan-jalan hadits tersebut di atas, tidak menyebutkan di dalamnya tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”.
  • Sekelompok perowi hadits, diantaranya : Muhammad bin Ja’far, Isma’il bin ‘Ulyah, dan Yazid bin Zurai’, meriwayatkan dari Sa’id bin Abi Arubah tanpa tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”, dan mencukupkan hanya pada tiga tempat seperti yang telah disebutkan di atas (yakni hanya ketika takbirotul ihrom, ketika akan ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’). (lihat : Musnad Al-Jami (15/29), juga dalam riwayat Ibnu Adi di sisi Muslim dan Al-Baihaqy, juga Abdulloh bin Numair di sisi Ath-Thobroni dan Ath-Thohawy)
  • Sekelompok perowi hadits yang lainnya, seperti : Abdus Shomad bin Abdil Warits, Abu ‘Amir Al-Aqdi dan Yazid bin Zuraiq,  juga meriwayatkan hadits dari Hisyam Ad-Dustuwa’i tanpa tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”. (lihat : Al-Musnad Al-Jami’ (15/29) dan Ithaaful Mahroh(13/89) karya Ibnu Hibban)    
  • Hadits tersebut di atas juga diriwayatkan oleh Syu’bah, Hammam bin Yahya, Abu ‘Awanah, dan Hammad bin Salamah, semuanya dari jalan Qotadah, tanpa tambahan lafadz tersebut di atas. (lihat : Musnad Al-Jami’ (15/29), Tahqiq Al-Musnad (no. 15.600) dan Mu’jam Ath-Thobroni, 19/284 dan seterusnya)
  • Demikian pula telah meriwayatkan hadits tersebut di atas Abu Qilabah, dari Malik bin Al-Huwairits, dan tidak disebutkan tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”. (lihat kitab-kitab rujukan tersebut di atas dan juga lihat pula dalam Shohih Muslim) 
  • Menurut As-Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menegaskan : “Tambahan lafadz “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”, maka pendapat yang lebih dekat pada kebenaran adalah bahwa hal itu syadz (ganjil/nyleneh), wallohu a’lam bis showab.” (Fathul ‘Allam, Fii Dirosah Ahaadits Bulughil Marom, 1/703)
  • Dalil lain yang menunjukkan disunnahkannya takbir dengan mengangkat tangan ketika turun atau naik di dalam sholat (yakni “mengangkat tangan ketika akan sujud, dan ketika bangkit dari sujud”), adalah hadits Wa’il bin Hujr rodhiyallohu ‘anhu, sebagaimana disebutkan dalam Al-Musnad (4/316) karya Imam Ahmad, dan juga yang lainnya : “Bahwasannya dia (Wa’il) sholat bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, adalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika turun dan ketika naik, dan beliau mengangkat tangannya ketika takbir tersebut.”  Dalam sanad hadits ini ada Abdurrohman Al-Yahshibi, dia adalah perowi yang majhul (tidak diketahui keadaannya).
  • Adapun sebagian ulama, seperti sebagian ulama Dhohiriyyah, yang berpendapat disunnahkan takbir dengan mengangkat tangan setiap kali turun atau naik di dalam sholat (termasuk dalam hal ini ketika akan sujud atau bangkit dari sujud), maka ini adalah pendapat yang lemah, karena tidak dibangun di atas dalil-dalil yang shohih, wallohu a’lamu bis showab. 

Berdasarkan uraian di atas, jumhur ulama berpendapat : tidak disunnahkan takbir dengan mengangkat tangan setiap turun atau naik di dalam sholat, kecuali tiga atau empat keadaan tersebut di atas yang didasarkan atas hadits-hadits yang shohih. Dan insya Alloh, inilah pendapat yang benar.

DAFTAR INDEKS HADITS, klik di bawah ini

§  AGAMA ISLAM §  AKAL MANUSIA
§  AL QURAN §  ADZAN SEBELUM SHALAT
§  DAJAL §  UMPATAN, CACI MAKI DAN GHIBAH
§  BALA’ §  SIFAT BURUK IRI DAN DENGKI
§  AZAB ALLAH §  DZIKIR KEPADA ALLAH
§  AMPUNAN ALLAH §  HAL YANG DIBENCI DAN DIMURKAI ALLAH
§  AMAL MANUSIA §  HAL YANG DISAYANGI, DICINTAI DAN DISUKAI ALLAH
BACA  Fiqih Bulughul Maram: Tata Cara Buang Hajat Sesuai Tuntunan Rasulullah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *