Ibadah Haji: Bermalam di Mina

MABIT DI MINA

Mabit di Mina adalah bermalam (singgah) di Mina, selama 2 hari atau 3 hari dan merupakan persinggahan terlama.

DASAR HUKUM MABIT DI MINA

  • Bermalam di Mina bebas mamilih dapat sesudah 2 hari (nafar awal) atau menangguhkan keberangkatannya lebih dari 2 hari (nafar akhir). Firman Allah: “Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang (11, 12, 13, Dzulhijah = hari tasyrik). Barang siapa yang ingin cepat berangkat dari Mina sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari 2 hari itu, tiada dosa baginya bagi orang yang bertaqwa”. (QS.2: 203).
  • Mabit di Mina hukumnya wajib kecuali bagi orang yang uzur (Hadist Nabi riwayat Syarah Al Muhazzab). Yang termasuk golongan orang-orang yang uzur adalah orang yang takut hilang hartanya kalau menginap di Mina, atau takut bahaya dirinya, atau sakit yang sukar baginya untuk menginap di Mina, atau ada orang yang sakit yang harus di urusinya, atau mencari budak yang hilang, atau sibuk dengan urusan lain yang ia khawatir tidak akan terkejar lagi kalau ia Mabit di Mina, dan tidak diwajibkan membayar sesuatu. 

KEUTAMAAN MABIT DI MINA

  • Bermalam di Mina dimaksudkan guna bertukar pikiran, berdiskusi dengan sesama jamaah haji dari berbagai negara perihal permasalahan sosial, ekonomi, budaya dan agama, serta mencari solusinya.

TATA CARA PELAKSANAAN MABIT DI MINA

  • Malam hari berkumpul beralaskan dengan tikar sampai melewati waktu tengah malam, berdiskusi antara sesama jamaah atau berdzikir.

DO’A YANG DIPANJATKAN PADA SAAT MABIT DI MUDZDALIFAH

  • Memperbanyak dzikir kepada Allah

HAKEKAT MABIT DI MINA DALAM KEHIDUPAN KONTEKSTUAL

  • Persinggahan di Mina melambangkan harapan, aspirasi, idealisme, dan cinta. Cinta adalah tahap terakhir sesudah tahap pengetahuan dan kesadaran. Selama bermalam di Mina ini kita gunakan untuk merenungi pandangan hidup kita dan apa-apa yang telah kita lakukan serta untuk berdiskusi dengan orang lain berbagai negeri yang memiliki agama, kecintaan, kebutuhan dan ideologi yang sama dengan kita. 
  • Mina adalah lembah yang gersang, tidak ada pemandangan yang menarik, tidak ada yang harus dikerjakan, tidak ada tempat berbelanja, tidak ada taman-taman. Di Mina kita duduk bersama, membahas masalah-masalah kita dan pelajaran yang dapat dipetik dalam rangkaian ibadah thawaf, sai, wukuf di Arafah, bermalam di Mudzalifah dan melempar jumrah yang kita lakukan sebagai usaha mencari surga selalu disertai orang banyak dan bersama-sama dengan orang lain. 
  • Mina adalah negeri cinta, perjuangan dan syahid. Negeri tempat manusia mengikrarkan janji kepada Allah sebagai kaum yang bersatu untuk berpartisipasi dalam amal ““amal kebajikan dan memerangi kejahatan dalam kehidupan ini.
  • Selama 2 atau 3 hari bermalam di Mina berkumpul dengan orang banyak baik yang terpelajar maupun buta huruf, baik profesor maupun buruh pabrik, baik pemimpin spiritual termasyhur atau petani sederhana, berpatisipasi dan berhak berbicara secara terbuka karena perbedaan pangkat, jabatan, derajat dan warna kulit telah di tinggalkan di Miqat. Semuanya adalah sama sebagai hamba Allah dan mempunyai derajat yang sama sebagai haji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.